Karena Cinta, Aku Korupsi


Image

Dalam salah satu sesi kuliah salah satu dosenku berkata, “Pada dasarnya orang itu korupsi karena cinta pada keluarganya.” Entah ini dari mana, tapi aku melihat bahwa pada dasarnya pernyataan ini sangat logis. Tulisanku kali ini ingin memandang korupsi bukan dari sisi moralitas, tetapi dari sisi ‘membahagiakan keluarga’-nya.

Ada lagi kisah lain yang pernah aku dengar dari seorang dosen dalam perjalanannya menengok pamannya yang masuk penjara khusus koruptor. Dosenku ini mendengar pembicaraan antara seorang suami dan istri. Istri berkata, “Udah, papah ga apa-apa ya, di penjara bentar… pikirin anak-anak nanti gimana…” Jadi, intinya, sang istri merelakan suami dipenjara ‘sebentar’ daripada harus mengembalikan uang korupsi dimana keluarganya yang harus ‘berkorban’.

Oleh karena itu, penting sebuah keluarga belajar tentang mengelola dan meningkatkan pengetahuannya tentang uang. Efek lain belajar tentang uang adalah meningkatkan mentalitas tentang uang. Tahu kata-kata “Money is not real: It’s an idea”? Uang adalah sebuah konsep.

Seberapa pun besarnya gaji atau banyaknya pemasukan  yang dimiliki, seseorang masih saja akan merasa ‘kurang’, jika ia punya konsep yang buruk tentang uang (dan hidup—pada dasarnya, tapi saat ini kita fokus pada finansial saja). Contoh konsep yang buruk tentang uang: “Dapet uang haram aja susah, apalagi uang halal”.

Waktu aku pertama kali dengar ungkapan itu, aku kaget sekali karena hal itu sama sekali tidak pernah terlewatkan dalam otakku. Berapa banyak orang di luar sana yang berfikiran seperti ini? Mengerikan sekali! Apalagi kalau yang mengatakannya orang Muslim–memalukan! Bukan ini yang diajarkan Islam.

Beberapa hari yang lalu aku menonton di salah satu stasiun TV sebuah diskusi anti-korupsi berjudul “Hukuman Mati Bagi Koruptor”. Di acara tersebut dihadirkan orang-orang yang pro dan kontra dan mereka masing-masing diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapatnya. Yang muncul di bayangan saya ketika itu adalah apabila tiba-tiba –jreng—sekarang diterapkan hukuman mati buat yang korupsi, mungkin banyak pegawai di Indonesia bakal kehilangan nyawa. Apakah korupsi adalah orang yang ‘mengambil uang berjuta-juta (/bermilyar-milyar/bertriliyun-triliyun) uang negara secara tidak sah’? Mungkin ini adalah apa yang ada di benak banyak orang. Tetapi, tahukah anda, ketika suatu dokumen—misalnya membuat ktp—yang seharusnya gratis, tetapi sang petugas meminta dibayar Rp 10.000 (‘Cuma’ sepuluh ribu, loh!) untuk masuk ke kantongnya pribadi, itu sebenarnya sudah korupsi. Atau, misalnya, kepala sekolah dan pejabat administrasi sekolah yang menggelembungkan laporan keuangan sekolah, itu juga termasuk korupsi. Korupsi juga adalah hal-hal ini yang terasa begitu ‘halus’ di sekitar kita.

Salah satu hal yang perlu diperbaiki untuk jangka panjang adalah pendidikan tentang konsep uang. Selain fokus pada pelakunya, kita perlu juga mulai di pendidikan yang mengajarkan tentang manajemen, pengetahuan, dan mentalitas tentang keuangan.

Ada cerita menarik dari teman aku. Salah satu gurunya di sekolah ketika menjelaskan tentang uang haram, beliau meminta siswa-siswinya untuk bertanya pada orang tua masing-masing, dari mana mereka mendapatkan uangnya. Bukankah manis melihat seorang anak kecil dengan polosnya bertanya pada ayahnya, “Pah, uang yang papah kasih ke mama dari mana? Halal gak, pah?”

Guru temanku itu sudah melakukan langkah awal yang simpel dalam mendidik siswa-siswinya untuk sadar tentang rizki yang mereka dapatkan melalui orang tua mereka. Menurutku ini hal yang mudah dan semua guru dapat mengawali melakukan hal ini.

Ketika istri dan anak mendukung sang ayah untuk mencari nafkah yang halal, hati seorang lelaki akan tenang. Daripada seseorang yang duduk di kantor dan takut untuk pulang ke rumah karena terbayang-bayang wajah istrinya yang menuntut TV baru di rumah, sedangkan ia belum mampu untuk membelinya. Kemudian, pada akhirnya ia ‘mengarang’ keuangan perusahaan demi membeli kebahagiaan istrinya. Orang-orang seperti ini meskipun ‘tampak’ kaya di luar (dengan rumah besar, perhiasan dari kepala sampai kaki, punya mobil yang banyak, dll), tapi pada dasarnya mereka tidak memiliki apa-apa, karena itu semua bukan milik mereka (benar, kan?).

Hal-hal besar bermula dari hal yang kecil. Seseorang tidak akan berani mengambil uang besar jika tidak mulai dari ‘mencuri kecil-kecilan’. Jangan-jangan yang sekarang korupsi berawal dari melihat wajah istri atau anak-nya cemberut karena kecewa dengan gaji yang ia (suami) berikan.

Di postingan yang lain, aku pernah bercerita tentang perbincangan-ku dengan suami. Aku sering melihat di sekitarku, bahwa orang-orang yang rizky-nya tidak halal, ada kecenderungan anak-anaknya tidak berperilaku dengan baik dan tidak sedikit anak-anak yang sulit menerima pelajaran. Anak-anak yang dilahirkan akhirnya malah menjadi beban untuk orangtuanya, dan tidak menjadi salah satu sumber kebahagiaan.

Akhirnya aku pun berkata, “Abi, aku lebih baik hidup sederhana dengan rizky yang halal daripada hidup berlebih tapi kondisi anak-anak hancur-hancuran. Kayaknya gak worth it kalau punya banyak barang tersier  tapi anak-anak berakhlak buruk, tidak cerdas, dan tidak membahagiakan orangtua-nya. Aku ingin punya anak-anak yang bisa menjadi qurrota a’yunin. Yang kami tidak akan malu mempertanggung jawabkannya di depan Allah nanti.”

Semoga kita semua dapat menjadikan kecintaan kita pada keluarga justru sebagai alasan untuk TIDAK korupsi, dan menjaga setiap amanah yang kita terima. Aamiin.

————————————

Tulisan ini diikutsertakan dalam  kontes blog “Muslim Anti Korupsi” yang diselenggarakan oleh  Aswaja.

 

Gerakan “Anti-Korupsi” ini juga didukung oleh:

————————————

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag , , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Karena Cinta, Aku Korupsi

  1. Ping balik: Yang Penting Halal « Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.