Tembok Kehidupan


Nemu lagi nie tulisan curhat jadul aku kepada laptop heheh… Ini ditulis 2 bulan setelah anak pertamaku lahir. Dari ‘nada’ tulisannya, kayaknya aku waktu itu lagi ‘galau’ heheh…

Tembok Kehidupan

 

Beberapa hari yang lalu aku dan papah ngobrol tentang matematika. Beliau bilang belajar matematika itu ibarat ngebangun tembok, harus bata demi bata. Bata-bata yang ada di atas hanya akan kuat kalau bata-bata barisan sebelumnya kokoh. Banyak anak-anak tidak memahami persoalan matematika karena tidak memakai logika, karena tidak memahami dasar suatu rumus. Kita lebih sering disuruh untuk menghafalkan rumus dan menerima saja suatu rumus tanpa mempertanyakan dari mana rumus itu berasal. Dari kecil papah paling gak suka bimbel yang iklannya membanggakan ‘cara cepat’. Katanya itu sama dengan membodohi. Emangnya rumus-rumus tuh langsung jatuh dari langit? Darimana rumus itu berasal dan apa aplikasinya? Hasilnya, apa yang dipelajari cepat hilang, tidak dianggap penting, dan jadi tidak bermanfaat.

Setelah aku renungkan, prinsip ‘tembok’ ini berlaku dalam semua hal. Persepsi ini harus aku pakai dalam menyikapi hidup aku, dan lebih khusus lagi dalam menyikapi anak-anakku. Aku perlu membimbing mereka menyusun bata demi bata kehidupan mereka, dan tidak ingin cepat menuju baris bata berikutnya kalau baris bata yang sebelumnya belum kokoh.

Satu atau dua hari setelah obrolan dengan papah, aku baca sebuah artikel tentang pendidikan al-Quran. Aku setuju dengan artikel itu. Di situ tertulis pentingnya pendidikan al-Quran dan mendahulukan itu sebelum ilmu-ilmu lain. Dan, pastinya mulai dari teladan Umminya (aku!).

Oke, nyambung ke ilmu tembok. Jadi, karena bikin tembok itu mulai bata per bata, aku perlu cerdas menyesuaikan ilmu al-Quran dengan setiap tingkatan anak, tanpa mendoktrin. Enam tahun awal kehidupan anak-anakku adalah masa prima aku membimbing mereka membangun dasar tembok yang kokoh.

Contoh:

Dalam sebuah hadits disebutkan bahwa 1/3 isi al-Quran adalah surat al-Ikhlas, maksudnya mengungkapkan tentang Allah (intinya siapa itu Allah). Allah ingin manusia mengenal-Nya melalui al-Quran. Dan, rukun Islam yang pertama itu intinya mengakui eksistensi Allah (kesaksian bahwa tiada tuhan selain Allah dan Muhammad adalah Rasul Allah).

Jadi, aku sering-sering menyebut nama ‘Allah’ ke anak (-anak [Insya Allah])-ku dalam kehidupan sehari-hari.  Bahkan ketika lagi ngobrol santai ‘tanpa tujuan’. Misalnya, “Ih, Subhanallah, kaki Azmy lucu banget… Siapa ini yang nyiptain?—Allah… Iya… Allah yah yang nyiptain. Hebat ya, sampe Azmy sempurna gini?” Sebenernya ini juga membantu aku untuk tambah deket sama Allah. Mungkin ini masih masuknya ‘mendoktrin’ ya? Heheh… tapi semakin besar sedikit demi sedikit aku menjelaskan lebih rinci tentang Allah, sifat-sifat, dst sesuai dengan tingkatan pemahamannya. Hingga aku bisa melepasnya untuk berfikir dan menemukan jawaban-jawaban besarnya sendiri.

Kenapa terfikirkan ini? Soalnya, lumayan lama sejak kecil aku sering bertanya pada diri sendiri apakah Allah/Tuhan itu ada? Aku di-‘kasih tahu’ ada yang nama-Nya Allah, diceritakan kisah-kisah Muhammad dan nabi-nabi, tata cara shalat, cara perhitungan zakat, haji, dan lain sebagainya. Tapi, belum terjawab pertanyaanku mengenai adanya tuhan atau tidak. Aku tidak menerima begitu saja keyakinan tanpa bukti. Semua pemeluk agama dunia mengatakan bahwa agamanya lah yang terbaik, jadi sebenarnya, mana yang benar? Aku pun selama bertahun-tahun ‘berpetualang’ mencari kebenaran. Aku bahkan gak takut untuk membaca injil (sebenarnya aku juga ingin membaca Taurat, kalau ada, tapi aku belum nemu yang punya) Walaupun demikian, sambil ‘mencari tuhan’, aku tetap adalah muslim yang taat; rajin shalat, shaum, shadaqah, memakai kerudung, dan lain sebagainya.

Sekarang, coba bayangkan orang yang seperti aku waktu kecil, tiba-tiba bertemu dengan komunitas yang tidak percaya tuhan. Mungkin dengan mudahnya tidak lagi melaksanakan ibadah. Betul tidak? Karena, inti dari beribadah adalah keyakinan bahwa ibadah ini adalah suruhan Tuhan dan akan dibalas oleh Tuhan yang memerintahkannya. Nah, kalau tuhannya gak ada, berarti semua ibadah ini sia-sia, dong! So, gak usah shalat aja… begitu kira-kira.

Alhamdulillah aku sekarang sepenuhnya yakin akan keberadaan Allah setelah melewati berbagai momen pembelajaran. Tapi tetap, aku mendapatkannya ‘se-bata demi se-bata’. Itulah contoh mempelajari suatu ilmu (dalam contoh ini, ilmu agama) ‘se-bata demi se-bata’. Orang di atas salah satu bata di bawahnya bolong (pengetahuan akan bukti dan kepercayaan adanya Allah kurang), sehingga ketika ada angin, cepet roboh.

Menjadi pendidik selama ini bukanlah sesuatu yang nyaman aku lakukan. Walaupun bulan ini aku sedang membimbing pembelajaran bahasa Inggris tetangga dan pernah mengajar matematika, tapi tetap saja melakukan hal satu itu membuatku gugup. Namun, anehnya, insting mendidik itu muncul secara alami ketika Azmy lahir. Tiba-tiba aku ngerasa seakan-akan Allah sudah ‘khususy’ menyiapkan aku untuk tugas ini. Bersamaan dengan itu, muncullah ketakutan.

 

Kemaren, 17 Agustus 2010, aku ke kampus. Aku ngeliat begitu banyak perempuan dan laki-laki yang jauh lebih soleh dan cerdas dari pada aku. Sejujurnya aku minder banget. Merasa tidak sebaik mereka. Ini membuat aku malu di depan Azmy. Tapi, kalo Allah mempercayakan Azmy ke aku, itu tandanya aku mampu. Dan, kalau aku ada kekurangan, maka Allah akan ‘memampukan’ dengan ilmu-Nya. Alhamdulillah Allah kelilingi aku dengan orang-orang hebat yang dengan sabar mengajarkanku banyak hal.

Kini, ketakutan terbesarku bukanlah mendidik Azmy, tapi mendidik diri aku sendiri. Karena, keteladanan is number one. Melihat Azmy, langsung muncul lah bayangan kebodohan-kebodohan diri aku dalam kepala ini. Aku teringat begitu banyak kesalahan yang pernah aku lakukan, teringat betapa busuknya diri ini dan begitu banyaknya kekurangan. Maluuuu!

Hm… Setelah dipikir-pikir lagi, Allah juga mendidik aku se-bata demi se-bata. Allah dengan sabarnya membimbing aku menuju banyak hal. Kalau Allah mau, bisa saja Ia langsung mengazabku atas dosa-dosa aku. Tapi, tidak, Allah dengan sabar membiarkan aku belajar dari kesalahan-kesalahan itu. Dan, tidak ada ujian yang melebihi kemampuan pemahaman dan kemampuanku. Sebelum menjadi ibu juga, Allah memberi aku kesempatan seenggaknya sembilan bulan untuk menyiapkan diri. Hal ini juga harus aku camkan baik-baik ketika berurusan khususnya dengan anak-anakku.  Jangan sampai aku jadi orang tua yang cepet gemes dan jengkel pada anaknya karena membandingkan tembok aku (yang sudah lebih tinggi) dengan tembok anak (yang relatif lebih ‘pendek’). Sombong sekali aku, kalau tidak mau bersabar dan tidak mau meningkatkan kebijaksanaanku dalam menghadapi anak-anakku, padahal Allah dan orang-orang di sekitarku telah begitu sabar dalam menghadapi aku.

Oh ya, dan, dalam proses aku membimbing anakku memasang bata demi bata temboknya, aku juga sebenarnya sedang memasang bata demi bata tembokku. Seperti aku mengajarinya banyak hal, ia juga mengajariku banyak hal.

Hanna N.

18 Agustus 2010

***

Baca juga:

Perbanyaklah Menuntun, Bukan Menuntut oleh Dr. Amir Zuhdi

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Tembok Kehidupan

  1. Hamba Allah berkata:

    Subanalloh!!Allah SWT Maha Rahman Maha Rahiim dengan kasih – sayang dan Uswatun Hasanah u/ diri sendiri dulu akan terasa indah & nikmat,ketika Allah masih titipkan nikmat iman,nikmat Islam dan nikmat Sehat Wal’afiat dihati kita.Mudaha2an Istiqomah & sungguh2 ya Ummi.Amiin

  2. Ping balik: Page View 11-07-2013 sampai 18 -07-2013 | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.