Pengalaman Melahirkan Anak Pertama


Waktu awal aku tulis ini judulnya ‘Peristiwa Azmy Lahir’. Sekarang aku ganti judulnya supaya lebih jelas 🙂 (walaupun sedikit garing heheh).

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama

Ini bukan gambar anakku, tapi yang pasti ia lucu ^,^!

Waktu aku hamil, aku membaca berbagai tulisan tentang kehamilan, pendidikan anak, dan lain sebagainya. Satu hal yang jarang aku temukan: kisah melahirkan secara lebih rinci. Masa dari sekian banyak wanita yang hamil, hanya sedikit tulisan yang menceritakan tentang peristiwa melahirkan? Yang menceritakan secara lisan sih, banyak… tapi kan, tidak rinci dan hanya menceritakan bagian-bagian besarnya saja. Eh, tapi aku menemukan satu tulisan pendek seseorang di Facebook yang menceritakan kisahnya melahirkan, meskipun tidak serinci yang aku inginkan. Sudah itu saja, titik. Tidak ada yang lain. Padahal saat itu aku begitu penasaran ingin tahu kisah yang lebih mendalam tentang peristiwa melahirkan. Siapa tahu bisa membuat aku dan suamiku lebih siap dalam menghadapi peristiwa melahirkan bayiku yang pertama.

Kini, bayiku sudah lahir, dan ia kami beri nama panggilan Azmy. Ternyata peristiwa melahirkan adalah peristiwa agung (aku jadi semakin memahami hal ini setelah merasakan sendiri). Hal lain yang aku rasakan adalah betapa pentingnya kehadiran suami dalam proses agung ini.

Semua wanita pasti punya pengalamannya masing-masing mengenai peristiwa melahirkannya. Jangankan setiap wanita, setiap anak juga kisah melahirkannya berbeda-beda. Dan ini, adalah peristiwa aku melahirkan anak pertamaku: Azmy.

Beberapa Hari Sebelum Kelahiran…

Selain menjaga kesiapan fisik (makan teratur, jalan-jalan, dll) aku berusaha keras menyiapkan mental. Ada kalanya aku merasa deg-degan, tapi alhamdulillah lebih banyak rasa tenang yang aku rasakan. Salah satu ‘terapi’ mental yang aku lakukan pada diri sendiri adalah dengan menanamkan sugesti positif dalam pikiran ini bahwa Azmy adalah anak juara. Kalau Azmy adalah anak juara, aku sebagai Umminya juga harus juara untuk melahirkannya ke dunia. Hayo, semangat Ummi juara ^.^!

Terapi mental itu aku sampaikan kepada suami (Abi tersayang). Suami juga turut mendukung dengan mengatakan hal-hal seperti Ummi juara, Ummi kuat, dll. Support dan dukungan itu sangat membantu menguatkan aku secara mental. Selain itu, aku berdoa semoga Allah meridhai niat aku untuk menjadikan Azmy anak yang soleh dan menjadi manusia yang terbaik sesuai dengan potensinya. Aku yakin Azmy akan menjadi manusia bertaqwa (do’aku pada Allah). Dengan memiliki visi dan misi yang besar, sangat meningkatkan kesiapan aku dan Abi dalam menanti kelahiran. Aku dan Abi sering berdiskusi mengenai berbagai bayangan dan harapan masing-masing mengenai peristiwa melahirkan nanti.

Rabu, 2 Juni 2010

Sekitar jam 9 pagi aku sudah merasakan sakit di sekitar rahim. Tapi, aku pikir ini biasa karena sebelum-sebelumnya (sekitar 2 minggu ke belakang) juga beberapa kali aku merasakan nyeri tapi kemudian hilang. Jadi, aku memutuskan untuk tidur.

Ketika aku bangun sekitar jam 12, ternyata nyeri itu masih ada, malah sedikit lebih nyeri dibandingkan sebelumnya. Kok, nyerinya malah bertambah, ya? Aku masih bertahan, mungkin tak lama lagi akan hilang, seperti yang terjadi dengan nyeri-nyeri sebelumnya. Tapi, tidak ada salahnya ngomong sama mama. Kemudian, aku sms Abi untuk sekedar menceritakan nyeri itu (soalnya, tumben nyerinya selama itu, dari jam 9-12 siang). Kata Abi kalo sudah ada tanda-tanda mau ke bidan, bilang aja, nanti dia langsung pulang. Beliau juga mengingatkan aku untuk menelpon bidan. Aku lalu menelepon bidan, dan beliau bilang kalau aku mau kesana, silahkan saja. Beliau sedang ada di rumah. Lagipula, kalaupun beliau tidak ada di rumah, asisten-asistennya selalu berjaga 24 jam.

Aku kok, tiba-tiba ada feeling gimanaaa gtu… Jadi, aku memutuskan untuk mandi. Aku ingin menyambut bayiku dalam kondisi sudah mandi (loh? Hehehe :P). Eh, ternyata di kamar mandi, aku melihat ada darah. Menurut cerita mertua, salah satu tanda mau melahirkan itu awalnya akan keluar sedikit darah. Oke, jadi begitu selesai mandi aku langsung sms Abi, meminta dia untuk segera pulang dari kantor. Aku dan mama lalu segera siap-siap pergi ke bidan yang berjarak sekitar 5 menit dari rumah. Feeling aku bilang tas yang aku siapkan untuk menginap ketika melahirkan tidak perlu dibawa. So, aku dan mama pergi ke bidan tanpa membawa banyak barang (hanya uang, hp, dan kunci rumah).

Tadinya mama bilang lebih baik kita ke bidan naik angkot, tapi aku keukeuh ingin jalan kaki (sekali lagi, feeling mengatakan). Lagipula, aku ingat ada ibu yang bilang, ketika ada darah merah, kita masih bisa jalan-jalan, malah kita disuruh banyak jalan oleh dokter, sambil menunggu pembukaan. Sambil kita berdua berjalan kaki ke bidan, mama cerita beliau ingat hari pertama aku masuk TK. Beliau cerita ingat memegang tangan aku di jalanan yang sama (TK tempat aku dulu belajar jaraknya juga dekat dari rumah).

Sampai di bidan, kata beliau belum pembukaan sama sekali. Selain itu, aku juga diukur besar perutnya dan mereka memprediksi ukuran bayinya akan besar. “Neng Hanna gak tahan nyeri, ya?” tanya salah satu asisten. “Saya udah banyak bantu orang ngelahirin. Saya tau, yang gak tahan nyeri.” Beliau lalu cerita banyak juga yang usia sekitar 15 atau 16 tahun yang melahirkan di sana. Aku teringat betapa dari kecil aku jarang sekali sakit, mungkin itu alasannya aku tidak terbiasa merasakan rasa nyeri. Aku juga diceritakan bahwa nanti ketika sudah pembukaan lima dan seterusnya, nyerinya akan semakin meningkat.

Bidan tidak bisa memprediksi kapan akan melahirkan karena belum pembukaan empat. Kalaupun sudah pembukaan empat, beliau tidak bisa memprediksi pembukaan-pembukaan selanjutnya karena ini adalah anak pertama. Katanya kalau anak pertama memang adalah ‘pembuka jalan’. Lama pembukaan bisa hanya berjam-jam atau sampai berhari-hari. Kalau sudah ‘mules-mules’ seperti mau buang air besar dan nyerinya berjarak 5 menit, baru kembali lagi.

Karena belum ada pembukaan, jadi aku disuruh kembali ke rumah. Katanya aku banyak-banyak jalan kaki aja (feeling aku benar ^_^). Jadi, balik ke rumah aku tetap jalan kaki walaupun, kembali, mama mengusulkan kita naik angkot.

Sampai di rumah, Abi juga baru sampai di rumah. Aku cerita apa yang dikatakan bidan. Sambil menahan rasa sakit aku duduk saja di sofa, sementara Abi buka Fb dan langsung up date status, mengumumkan tentang kondisi aku yang ada kemungkinan malam ini melahirkan dan beliau minta doa dari semuanya. Setiap kali aku merasakan nyeri, selain dzikir aku juga bilang “Umi juara” untuk menyemangati diri aku sendiri. Abi juga mengikuti dengan bilang “Umi juara”.

Karena mengantuk, kami ke kamar tidur di lantai atas. Ternyata, semakin malam semakin nyeri. Aku hanya bisa melihat Abi tertidur sementara aku tak bisa tidur karena setiap beberapa menit nyeri itu muncul lagi. Aku terus mengucap ‘Allahuakbar’ dan ‘Rabbunallah’ (Tuhan kami adalah Allah). Sekitar tengah malam aku turun ke bawah (dengan sangat hati-hati) untuk makan makanan ringan (tidak ada nafsu untuk makan makanan berat) dan minum.

Kembali ke kamar tidur di atas (dengan susah payah) aku masih berusaha untuk tidur, tapi masih belum bisa. Aku membahagiakan diri dengan membayangkan hal-hal yang ingin aku makan dan minum saat itu. Kemudian, aku mengetiknya dalam hp-ku. Di antara yang aku ingat aku tulis adalah es krim coklat, Goodtime cookies rasa coklat, cookies teddy bear rasa coklat, teh kotak, dan Tebs tea (bukan bermaksud menyebut merek 😛 ).

Hal lain yang membuatku merasa lebih baik adalah bersyukur. Aku teringat cerita tanteku di Kanada, pamanku jatuh dari tangga dan semenjak saat itu sering merasakan nyeri. Para dokter belum bisa menyembuhkan beliau dan hanya bisa memberikan dia obat-obat pereda nyeri. Namun demikian, beliau tetap sering merasakan nyeri. Aku bersyukur karena aku hanya akan merasakan nyeri ini sampai melahirkan. Setelah melahirkan nyeri ini akan hilang (semoga…). Aku juga bersyukur didampingi seorang suami yang siaga selama aku hamil hingga sekarang. Aku mensyukuri badanku yang sehat dan sempurna. Aku bersyukur karena diberikan hati yang tenang. Aku bersyukur karena memiliki makanan, baju, tempat tidur yang empuk, tempat tinggal yang kondusif, dll. Wah, banyak sekali anugerah yang telah Allah berikan ^_^! Alhamdulillah… Membayangkan hal-hal yang aku syukuri sangat-sangat membantuku melewati proses rasa nyeri ini.

Kamis, 3 Juni 2010

Pagi hari, aku dan Abi turun ke bawah. Abi membawa kasur ke ruang TV agar aku bisa duduk di atas kasur sambil menonton TV. Aku sangat jarang nonton TV, tetapi saat itu tidak ada hal lain yang bisa aku lakukan. Tiduran pun aku masih belum bisa, karena jauh lebih sakit untuk berbaring. Nyeri itu datang setiap beberapa menit, lalu berhenti. Setiap nyeri aku memegang tangan beliau.

Kami menonton berita dan saat itu sedang membahas tentang peristiwa Israel menyerang kapal Mavi Marmara dan mempersulit kapal-kapal lainnya yang ingin menuju Gaza untuk memberikan bantuan. Berita tentang Kapal-kapal ini sudah aku tahu semenjak awal bulan Mei, dan ternyata beritanya malah tambah parah. Selama beberapa hari ke belakang aku berdoa semoga keberanian dan kepedulian para sukarelawan yang menjadi korban ada dalam diri bayiku. Aku menyemangati diri dengan mengatakan bahwa perjuangan melahirkan aku ini hanyalah peristiwa kecil menuju lahirnya seorang manusia besar yang akan menjadi orang berguna di dunia ini (amiin).

Aku menunjukkan ke Abi list makanan dan minuman yang aku inginkan. Biasanya aku tidak suka jajan, tetapi saat itu, itu adalah hal kecil yang bisa membuatku sedikit melupakan rasa sakit ini (yah… sesekali manja :), jarang-jarang, kan? Hihihi). Sebenarnya kalaupun tidak dibelipun tak apa-apa :D. Alhamdulillah, Abi lalu pergi ke warung. Begitu Abi kembali, kami semua (aku, Abi, dan mama) lalu berangkat ke bidan.

Sebenarnya kami semua tidak yakin apakah sudah waktunya atau belum, tapi aku sudah merasa begitu nyeri semalaman, jadi tidak ada salahnya kita ke bidan sekarang. Setidaknya untuk lebih menenangkan hati.

Tidak seperti kemarin, kali ini aku ke bidan naik motor. Mama menyusul dengan berjalan kaki. Dan, karena masih belum yakin, jadi kami tidak membawa tas dengan perlengkapan menginap di dalamnya.

Sampai di bidan, kami disambut oleh asisten-asisten bidan. Setelah dicek, ternyata aku baru pembukaan 2. Mereka masih belum bisa menjanjikan apa-apa. Aku disarankan pulang saja dulu, tapi karena hati aku belum tenang, aku memutuskan untuk menunggu disana saja. Kata mereka, harus tunggu beberapa jam hingga bisa cek pembukaan lagi, jadi aku harus sabar menanti. Aku menyanggupi untuk menunggu di sana.

Abi dan mama pergi untuk mengambil barang-barang dan pergi berbelanja (aku memesan minta dibelikan es krim lagi ^,^). Kemudian, kami masuk kamar tidur yang tersedia dan mulai menata barang-barang kami. Aku benar-benar tidak ingin ditinggal oleh Abi, bahkan ketika dia ingin ke WC, aku meminta dia untuk cepat kembali. Shalat Zuhur juga beliau di kamar, tidak seperti mama yang memutuskan untuk ke masjid.

Selama beberapa jam, aku tidak merubah posisi duduk, karena setiap bergerak, akan lebih sakit lagi dibandingkan kalau aku hanya duduk diam. Ada dua bantal untuk menopangku. Satu bantal di punggungku, dan satu bantal di bawah tangan kiriku.

Nyeri itu datang setiap beberapa menit, dan awalnya aku tidak bisa duduk dengan tenang. Rasanya seperti ada sesuatu yang mendorong rahim bagian bawah dan otot-otot rahim turut bekerja mendorong. Abi berinisiatif untuk membimbing aku bernafas. “Tarik udara dari hidung… keluarin dari mulut…” beliau berkata. Alhamdulillah, apa yang beliau lakukan membantuku memfokuskan pikiran aku pada nafas, daripada memikirkan rasa sakit. Setelah itu, untuk beberapa menit aku menjadi tenang, setidaknya hingga nyeri itu datang lagi, dan aku kembali memegang tangan Abi dengan keras sambil memfokuskan pikiran kepada pernafasan. Setelah beberapa lama melakukan ini, aku bercanda mengatakan bahwa selesai melahirkan aku pasti akan langsung jago berenang, karena pernafasanku sedemikian ‘terlatih’-nya.

Setelah Zuhur, adikku yang masih kelas 1 SMP, Husna, datang ke kamar kami. Dia cerita tadinya dia pulang ke rumah dahulu, tapi begitu melihat tas perlengkapan melahirkan sudah tidak ada dekat pintu keluar, dia lalu menyusul kesini. Alhamdulillah kedatangan Husna menambah suasana menyenangkan dalam ruangan. Aku merasa semakin senang.

Husna menghabiskan waktu dengan mengerjakan tugas mata pelajaran Tata Busana-nya. Kami semua (berempat)mulai berbincang-bincang dan saling cerita berbagai hal. Abi, seperti biasa, mulai bercanda-canda yang membuat kami tertawa. Semua itu membuatku jauh lebih ringan melewati ini.

Aku menguatkan hati dengan mengatakan pada diri sendiri bahwa aku kuat. Bahkan, aku sempat bilang, “I feel great.” Walaupun aku mengatakannya keras, tapi itu untuk menyemangati diri sendiri. Teringat ucapan asisten bidan bahwa nanti begitu pembukaan empat ke atas, rasa sakit itu akan semakin meningkat, jadi aku meyakinkan diri sendiri bahwa setiap nyeri yang aku rasakan akan menjadikan aku semakin kuat untuk menghadapi nyeri yang berikutnya.

Sekitar magrib, aku dipanggil ke ruang periksa (yang sekaligus adalah ruang bersalin) untuk diperiksa. Begitu aku pindah posisi, wuih rasanya sakit sekali! Jauh lebih sakit dibandingkan semula. Malah aku sempat bertanya apakah boleh diperiksa di kamar saja, tapi ternyata tidak. Jadi, dengan sangat hati-hati, Abi memapahku ke ruangan itu. Langkah demi langkah menuju ruangan itu terasa begitu jauh sekali, padahal hanya beberapa meter. Itu pun sempat berhenti berjalan sebentar untuk aku menguatkan diri.

Sampai di ruang periksa, ternyata baru pembukaan dua ‘setengah’. Saat itu, Abi dipanggil keluar ruangan untuk berbicara berdua dengan asisten bidan. Melihat Abi keluar ruangan, aku berusaha memfokuskan pikiranku pada hal-hal yang positif. Aku meyakinkan diri sendiri bahwa tidak ada masalah. Ini semua pasti akan berakhir baik.

Ketika Abi kembali ke ruangan, beliau bilang bahwa aku direkomendasikan ke seorang dokter (yang saat itu sedang praktek di sebuah apotek). Jadi, bayi yang aku kandung diperkirakan akan besar, sedangkan badan aku relatif kecil. Pembukaan aku lambat, tapi sudah tampak begitu kepayahan. Dikhawatirkan ada sesuatu yang bidan dan para asisten bidan tidak bisa menanganinya, aku dirujuk untuk cek ke dokter dan minta rekomendasi dari beliau.

Jadilah, aku kembali dipapah ke kamar (dengan susah payah dan begitu sakit!). Sampai di kamar, aku tidak bisa duduk dengan posisi semula. Perubahan posisi karena pindah ruangan itu membuatku tidak bisa lagi duduk dengan ‘nyaman’ seperti semula. Tapi, itu tidak apa-apa, karena yang harus dipikirkan sekarang adalah mencari mobil yang bisa mengantarkanku ke dokter yang sudah direkomendasikan.

Abi menelepon ibunya (a.k.a Mamih) untuk meminta tolong mengantarkanku dengan mobil di sana, tapi ternyata mobilnya tidak bisa keluar garasi karena tetangga sedang mengadakan hajatan dan menutupi seluruh jalan keluar. Oke, lalu Abi berusaha menelepon ibu kedua aku, siapa tahu ada orang di sana yang bisa mengantarkanku. Aku bilang aku tidak ingin ke sana naik angkot karena biasanya angkot suka kurang nyaman nyupirinnya (biasanya… saya yakin tidak semua supir angkot seperti ini). Alhamdulillah, ibu keduaku berhasil mendapatkan tetangga yang mau dan bisa mengantarku. Bersama, kami semua langsung pergi ke dokter.

Sepanjang perjalanan aku tidak bisa berhenti untuk tidak bersuara (a.k.a menjerit). Sakit sekali sih… Aku juga menutup mata, sengaja untuk tidak melihat jalanan. Saat itu, tempat dokter itu berada terasa lebih jauh dari biasanya. Abi yang saat itu duduk di seberangku sesekali mengatakan kata-kata penyemangat padaku, sedangkan Mama terus berdzikir.

Sampailah di apotek tempat sang dokter sedang berpraktek (at last!). Aku tidak berani membuka mata, hanya sesekali membuka untuk melihat jalan, tapi selebihnya menutup mata sambil menahan rasa sakit. Abi dengan sabar memapahku ke dalam apotek. Aku sama sekali tidak tahu apa yang terjadi, pokoknya sampai di dokter, aku diperiksa dan (katanya) diberikan induksi untuk mempercepat pembukaan. Aku ingat sang dokter tertawa dan begitu santai menghadapi aku, dan beliau menenangkan aku (walaupun aku sangat sedang tidak tenang!). Beliau bilang bahwa paling sekitar empat jam bayi akan sudah lahir. Beliau lalu mengatakan agar aku kembali ke rumah bidan dan melanjutkan proses persalinan di sana.

Beres dengan dokter, aku keluar menuju mobil kini dengan kursi roda yang disediakan oleh salah satu staf di apotek tersebut (thankyou…). Aku masih sedikit menjerit dan (banyak) meringis. Mungkin dalam kondisi normal aku akan malu dilihat oleh orang-orang di ruang tunggu apotek tersebut, tapi kali ini rasa malu sama sekali tidak ada dalam kamus. Yang ada hanyalah rasa sakit yang muncul setiap kali bergerak.

Abi cerita, ketika bayi sudah lahir, bahwa pada waktu aku dibawa ke dokter, beliau begitu tegang dan bertekad bahwa kalaupun aku harus ke rumah sakit dan disesar, dia rela. Walaupun saat itu tabungan kami belum cukup untuk membayar operasi sesar. Dia bilang, “Uang mah bisa dicari weh dimana, yang penting ini melahirkan dengan selamat…”

Perjalanan kembali ke rumah bidan terasa lebih cepat. Akhirnya sampailah kami di bidan. Sebelum masuk ke ruangan periksa (a.k.a ruang bersalin) aku ke WC dulu untuk mengosongkan kantung kemih aku, tapi ternyata aku tidak merasa ingin pipis, jadi aku langsung ke ruangan.

Instruksi-instruksi bidan tidak terlalu aku perhatikan, jadi aku membiarkan Abi yang memperhatikan instruksi. Setelah dicek lagi, katanya aku sudah pembukaan lima. Sekarang tinggal menunggu hingga pembukaan kesepuluh.

Bidan mengecek aku dan menyadari bahwa kantong kemih aku penuh, tapi karena sudah mulai pembukaan, maka jalur pipis aku sudah tertutup. Aku tidak tahu aku diapakan oleh bidan tapi semacam dipaksa untuk pipis dengan bantuan suatu alat. Aku asalnya sempat begitu ketakutan karena khawatir ditusuk dengan jarum. Kata Abi, “Liat Abi…” sambil memegang kepalaku. Memaksa muka aku untuk melihat Abi. Itu cukup membuat aku sedikit lebih tenang. Apa pun yang bidan akhirnya lakukan untuk membantu pipisku keluar, ternyata tidak semengerikan yang aku kira, dan aku tidak merasakan ada tusukan jarum seperti yang aku bayangkan (Hihihi…).

Sambil tiduran menghadap ke kiri, aku terus memegang tangan Abi. Saat itu aku merasa seperti anak-anak yang manja. Tidak ingin aku melepaskan tangan Abi. Akhirnya aku harus juga beberapa kali melepas tangannya karena ia harus ke WC, shalat, dan karena beliau pegal. Abi cerita bahwa saat peristiwa ini beliau sebenarnya begitu lemas karena belum makan dan kurang tidur, tapi dia bertahan karena melihat aku. Dia bilang, kalau dia lemas karena kurang makan dan tidur, apalagi Umi yang selain kurang tidur dan makan juga ditambah sedang begitu kesakitan. Jadi, dia harus kuat untuk aku.

Sejak kemarin, orang-orang menghubungi Abi untuk menanyakan kabar aku apakah sudah melahirkan atau belum. Lama-lama mendengar suara HP aku terganggu juga dan meminta HP untuk dimatikan. Sempat juga mama menanyakan Abi sekarang jam berapa dan aku langsung memotong, “Jangan bilang sekarang jam berapa!” Aku benar-benar tidak ingin tahu saat itu jam berapa karena waktu akan terasa semakin lama.

Pada saat-saat seperti ini (ketika sedang terbaring menunggu), ternyata aku masih sempat merenung. Aku jadi menyadari betapa cepatnya waktu berlalu. Baru tadi pagi aku sedang di rumah nonton TV… Memang, sementara aku sedang melewati ini semua, waktu terasa lama, tapi kalau dipikir-pikir lagi, setelah dilewati, terasa seperti sebentar. Aku teringat ayat al-Quran yang menceritakan peristiwa manusia ketika terbangun dari kuburnya, mereka merasa bahwa hidup mereka hanya setengah atau satu hari, hanya sebentar saja.

Perenunganku ini membawaku pada pemahaman yang lebih besar bahwa betapa hidup ini sangat singkat. Aku yakin setelah Azmy sudah lahir, semua penderitaan ini terasa singkat. Aku juga merasa begitu kecil di hadapan Allah. Malu diri ini yang sering sombong, takabur, atau sering lupa sama Allah.

Jum’at, 4 Juni 2010

Entah mulai jam berapa aku sudah merasakan otot-otot rahimku mulai setiap beberapa menit mendorong bayi keluar. Awalnya aku disuruh untuk mengikuti ‘keinginan’ otot-otot tersebut setiap kali bergerak. Namun, setelah cek pembukaan, aku masih belum pembukaan sepuluh. Aku belum siap memulai proses melahirkan walaupun otot-otot itu ‘keukeuh’ memaksa ingin mengeluarkan bayi. Akhirnya aku disuruh untuk menahan keinginan otot untuk mendorong. Ini sangat sulit dan menyakitkan, karena aku harus melawan dorongan alamiah dari dalam badan aku. Kalau aku tidak melawan dorongan untuk nge-den katanya kepala bayi akan benjol. Abi yang dengan setia ada di samping aku membimbing aku bernafas setiap kali dorongan untuk ngeden itu muncul. Sejujurnya, aku sering kali gagal hingga aku ‘dimarahi’ oleh Abi. “Jangan ngeden! Umi nafas aja. Nanti Azmy-nya benjol…” kata Abi. Ih, rasanya sebal saat itu pada Abi. Seakan-akan melawan dorongan untuk mengeluarkan bayi itu mudah! Aku sempat bilang sama Abi, “Abi jangan marah!” Kata-kata ini yang di kemudian hari kami tertawakan bersama. Aku beberapa kali bertanya lagi kapan aku sudah boleh ngeden. Asisten bidan tidak bisa menentukan kapan pembukaan sepuluh akan datang karena—sekali lagi—ini adalah anak pertama yang tidak bisa diprediksi lamanya.

Sempat badan aku bergetar untuk melawan rasa sakit dan ngilu yang aku rasakan di badan, khususnya di daerah pantat. Aku menyadari sesuatu yang baru aku rasakan saat itu. Rasa nyeri yang aku rasakan begitu hebat hingga bahkan syaraf-syaraf di lidahku bergetar. Aku tidak pernah tahu bahwa di lidah ada syaraf-syaraf nyeri yang bisa turut bergetar. Tapi, sekarang aku tahu.

Luar biasa, lama-kelamaan aku begitu ‘asyik’ menikmati rasa nyeriku hingga tanpa sadar, para asisten bidan sudah menyiapkan semuanya untuk proses aku mendorong bayi. Oh, udah waktunya ngeden, ini???

Walaupun sebelumnya aku begitu ingin diperbolehkan ngeden, tapi tiba-tiba aku merasa belum siap! Ada ketakutan yang merayap dalam hati (oh, tidak…). Teringat cerita-cerita orang tentang sakitnya melahirkan (ini sebenarnya aneh aku baru memikirkannya sekarang setelah melewati lebih dari satu hari rasa sakit). Aku diajarkan caranya ngeden: mata menatap ke perut, jangan tutup mata, fokus pada mendorong, dan jangan bersuara!

Sulit untuk tidak berteriak karena memang sakit (walaupun sejujurnya ternyata melahirkan tidak sesakit ketika menunggu proses pembukaan). Pada saat-saat seperti ini aku memfokuskan pikiranku pada bayi dan aku bilang pada diri sendiri bahwa aku akan melahirkan seorang manusia besar. Bayi ini adalah seorang juara, karena itu aku sebagai Uminya juga harus juara mengantarkannya ke dunia. Mama mengingatkanku pada Maryam ibunya Nabi Isa yang melahirkan seorang diri. Kalau Siti Maryam mampu, aku pasti mampu, apalagi aku ditemani dan dibimbing oleh begitu banyak orang. Aku juga teringat para wanita  di Palestina, mereka dengan begitu banyak keterbatasan mampu melahirkan dan membesarkan orang-orang hebat. Dan banyak pikiran lain semacam itu muncul dengan cepat di kepalaku untuk membesarkan semangat dan menguatkan mentalku.

Abi masih dengan setia dan semangat berada di sampingku. Mengucapkan kalimat-kalimat penyemangat, “Ayo, Umi juara…” Alhamdulillah, terimakasih Allah untuk anugerah-Mu untukku, mendapatkan suami yang begitu penyayang dan siaga.

Aku berusaha keras untuk mendorong, tapi ternyata masih kurang kuat. Dua malam tidak tidur cukup menguras tenagaku. Aku mendorong bayi dengan sisa tenaga yang ada. Dua kali aku diperbolehkan minum teh manis untuk menyegarkan kembali tenaga. Saat itu muncul tekad di dalam hati bahwa aku ingin segera melihat Azmy. Jadi, dengan semangatnya aku mendorong dengan lebih keras dan lebih keras lagi…

Pukul 04.10 AM (4 Juni 2010)

Bidan mengeluarkan sesuatu! Aku kaget dan menyangka itu adalah seonggok daging… Eh, ternyata bayi (:P)!  Kami mendengar bunyi “Ngek!” dan barulah setelah dipotong tali pusarnya, Azmy pun menangis. Bersamaan dengan tangisan Azmy, aku melihat Abi menangis dan aku pun turut menangis. Kami begitu terharu, lega, bahagia, berbagai perasaan bercampur aduk.

Setelah melihat Azmy sudah lahir, tiba-tiba badanku segar kembali. Semua lelah dan kepayahan yang sebelumnya aku rasakan tiba-tiba sirna! Asisten Bidan menyimpan Azmy yang masih penuh darah di atas dadaku. Aku melihat wajahnya yang kecil dan matanya yang sipit… menggemaskan! Lalu Azmy dibawa untuk dibersihkan.

Walaupun Azmy sudah bersih dan wangi di meja seberangku, tapi urusanku masih belum beres. Bidan masih perlu menjahitku (aku baru tahu setelahnya bahwa ternyata tadi bidan menggunting jalan lahirku agar proses melahirkan lebih cepat. Tetapi, aku tidak merasakan sakit karena beliau memberi aku obat bius lokal), dan lain sebagainya. Meskipun Azmy sudah dapat aku dan Abi lihat di meja seberang, tapi Abi belum mau pergi meninggalkanku untuk melihat Azmy. Aku mempersilahkan Abi untuk melihat Azmy duluan. Jawaban Abi benar-benar membuatku kaget tapi juga sangat senang, “Azmy udah ga apa-apa. Sekarang Umi yang masih butuh ditemenin Abi.”

Setelah aku selesai dijahit, barulah Abi mendekati Azmy dan membacakan azan dan iqamah di telinga kanan dan kiri Azmy.

Epilog

Abi bilang beliau jadi tambah menyayangi orang tuanya—khususnya ibunya, setelah melewati proses aku melahirkan. Beliau juga jadi tambah sayang dan tambah mendukung aku. Karena support beliau yang begitu besar padaku selama hamil dan akhirnya melahirkan, rasa cintaku padanya juga semakin besar lagi.

Perjuangan kami memang masih panjang dari sini, dan tanggung jawab kami kini lebih besar. Tapi, kalau tantangan melahirkan ini bisa kami lewati dengan sukses (insya Allah), maka kami siap untuk tantangan-tantangan berikutnya. Semoga Allah meridhai niat kami ini dan membimbing setiap langkah kami. Amiin.

Hanna Natalisa

Cimahi, 28 Juli 2010

——————————————————————————–

Siapa tahu mau baca juga:

Pengalaman Melahirkan Anak Kedua

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

12 Balasan ke Pengalaman Melahirkan Anak Pertama

  1. wiektyas berkata:

    Subhanallah… sungguh perjuangan melahirkan itu begitu istimewa, bahkan disetarakan dengan mulianya ikut perang jihad untuk menegakkan ajaran islam. Semoga Azmi menjadi anak yg soleh, berbakti kepada kedua orang tua, berguna bagi agama, keluarga dan masyarakat.. Amin ya Rabb.. Doakan saya ya mba, bulan depan insyaAllah saya juga akan mengalami perjuangan istimewa melahirkan putra pertama. Semoga diberi kemudahan dan kelancaran.. Amin 3x… 🙂

  2. Ping balik: Pengalaman Melahirkan Anak Kedua | Punya Hanna Wilbur

  3. Dilarosya berkata:

    Waw g kbyang ngelahirin. Makasi y udah berbagi pngalaman ngelahirin. Smoga azmi menjadi anak yg soleh, berbakti pada orang tua, agama, negara. Bentar lg sy juga ngelahirin anak pertma. Agak takut ni.

  4. meisya fitri anzana berkata:

    ibu hebat slalue kuat,,,,,tpi knapa ga’ada fotonya msal waktu ditmenin abinya,waktu naik ojek ,dsb
    hrusnya sih dikasih biar tambah keren,,,,,hehehehehe

  5. intan berkata:

    waw,,terharu bgt,,sampe netesin airmata bacanya,,mudah2an aku bisa kuat seperti mba hanny,,dan aku jg bersyukur sama2 mempunyai suami siaga,bulan depan aku melahirkan,,bismillah,,smoga smuanya lancar.aamiin…

  6. hikmah karim berkata:

    waah,, bner2 mngharukan mjd seorng ibu,, doakan jg mga klhiran anak prtma sya jg lncar n normal,. amiien.. nice info 🙂

  7. Nitya berkata:

    menyimak cerita ini dari awal sampai akhir.. jadi membayangkan gimana ya kira2 nanti pengalaman saya sendiri melahirkan dedek yg sekarang ini masih di perut.
    Makasih udah share ceritanya secara detail.. bisa jdi pelajaran buat saya. Semoga dek azmy sekarang tumbuh jadi anak yang cerdas dan sehat.. ^^

    • punyahannawilbur berkata:

      Alhamdulillah. Saat ini Azmy udah 3 tahun lebih 1 bulan dan udah punya adik berusia 10 bulan :). Terimakasih doanya. Semoga Mbak Nitya juga lancar melahrikannya, dan dede di perutnya bisa tumbuh jadi manusia berbudi luhur.

  8. Ping balik: Page View 11-07-2013 sampai 18 -07-2013 | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.