Biarkan Mereka Membuat Pilihan


Di angkot, suatu hari, aku dan kedua temanku sedang berbincang-bincang. Mereka menceritakan motivasi awal mereka memilih fakultas yang saat ini sedang digeluti. Ternyata salah seorang mengambil jurusan tersebut bukan atas keinginannya pribadi. Semua keluarga menentang keinginannya yang sebenarnya, dan akhirnya ia menurut ke keinginan keluarganya (yaitu jurusan yang sedang ia masuki saat itu).

Aku bilang yang sudah ya biarlah, jadikan ini pelajaran untuk anak-anak kita dan agar kita sadar bahwa zaman anak-anak kita nanti akan berbeda dengan zaman kita sekarang. Jadi, jangan nanti memilih semata-mata berdasarkan pengalaman masa lalu kita.

Ini membuat aku berfikir, banyak orang tua yang membuat keputusan untuk anak-anak mereka dengan berbagai alasan; karena merasa anak-anak mereka tidak tahu yang terbaik untuk diri mereka, karena mereka kurang pengalaman, khawatir anak-anak mereka membuat keputusan yang ‘kurang bijak’ (tentu saja ini menurut kacamata orangtuanya), dsb. Memang, berbagai pertimbangan ini tidak salah juga, karena setiap orangtua pasti menginginkan yang terbaik untuk anak-anaknya. Namun, orangtua juga harus ingat, bahwa yang akan menjalani hasil dari keputusan tersebut adalah anak-anak mereka, bukan mereka.

Hasil perbincangan tersebut aku diskusikan dengan suami. Pertama, kami sedang berupaya mendidik anak-anak kami mandiri sejak awal—sesuai usianya tentu saja. Efek dari kemandirian itu adalah kemampuan mengendalikan diri, kemampuan mempertimbangkan berbagai hal, dan menerima konsekuensi dari perilaku (bertanggung jawab). Nah, sedikit demi sedikit kami biarkan anak membuat pilihan-pilihan sendiri, dst. Diharapkan dari sini semakin besar ia akan semakin bijaksana dalam bertindak. Pada usia baligh nanti—remaja ke atas—sudah bukan masanya lagi si anak kami arahkan, tapi kami bimbing ia untuk mempertimbangkan berbagai hal sebelum ia membuat keputusan, sedangkan keputusan yang ia buat adalah keputusannya sendiri. Hal ini khususnya berkenaan dengan misalnya memilih sekolah, memilih jurusan (IPA, IPS, …), memilih fakultas, dan seterusnya. Terakhir, tidak lupa, sebelum ia menjalankan niatnya, kami ajari ia untuk shalat istikharah, memohon bimbingan Allah untuk keputusan yang akan ia buat. Setelah itu, biarkan ia menjalankan dan menerima konsekuensi dari pilihan tersebut. Insya Allah semoga ia tidak akan menyalahkan kami—orangtuanya—karena ‘salah jurusan’ hehehe…

Bagaimana menurut Anda? Ada tips tambahan? 😀

Hanna

10 Juli 2012

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag , , , , . Tandai permalink.