Asisten Rumah Tangga, Daycare atau Nenek/Kakek


Tulisan ini aku share dari facebook page Yuk-Jadi Orangtua Shalih, semoga bisa menambah manfaat bagi sebanyak-banyak orangtua :D.

Menitipkan Anak: Asisten Rumah Tangga, Daycare atau Nenek/Kakek?

by Yuk-Jadi Orangtua Shalih on Friday, March 2, 2012 at 11:30pm ·

Oleh: Ihsan Baihaqi Ibnu Bukhari

Direktur Auladi Parenting School | Instruktur Pelatihan Orangtua di 60 kota, 18 propinsi di Nusantara | http://www.auladi.org |inspirasipspa@yahoo.com

Ada banyak orangtua yang melahirkan anak tapi tidak mendidik anaknya. Maaf klo mungkin dianggap “sadis”, tapi jika hanya sekadar memberikan makan atau menjaga kesehatannya, bukankah hewan juga bisa melakukannya?

Jauh sebelum saya memilih salah satu pilihan seperti judul di atas, saya ingin mengajak Anda untuk memberikan jawaban pada diri sendiri tentang pertanyaan klasik: untuk tujuan apa sepasang orangtua (suami istri) bekerja? Mengapa tidak cukup ayah saja?

Tentu ada banyak jawaban bukan? Tapi saya ingin mengemukakan 4 diantaranya, yang mungkin menjadi jawaban paling sering diajukan para orangtua ketika diberikan pertanyaan semacam tadi:pertama, Untuk memenuhi kebutuhan keluarga yang mungkin tak bisa dipenuhi jika hanya suami yang bekerja. Kedua, untuk aktualisasi diri dan kemandirian seorang perempuan, misalnya untuk menebar kebaikan dan kemanfaatan sebanyak-banyaknya di muka bumi. Ketiga, Agar tidak terlalu bergantung kepada suami sehingga juga dapat turut membantu (mungkin) keluarga dari sang perempuan (adik, kakak, orangtua, dan lain-lain) dan keempat, selain jawaban tersebut, yang saya sering dengar dari puluhan ribu orangtua yang pernah berinteraksi dengan saya dalam kelas-kelas orangtua adalah: demi kepentingan anak-anaknya sendiri agar kebutuhan anaknya terpenuhi.

Saya tidak ingin membahas soal perempuan bekerja dari alasan yang pertama hingga ketiga. Tapi saya ingin membahas yang keempat. .

Sebenarnya saya tidak dalam posisi mendukung atau menentang seorang perempuan boleh atau tidak boleh bekerja. Itu urusan Anda. Saya hanya ingin mendukung siapapun bisa jadi orangtua terbaik untuk anaknya, apakah Anda ibu bekerja atau “full time mom”. Please jangan salah menilai tulisan ini sehingga kemudian anda yang merasa ibu bekerja merasa dihakimi. Tidak, tidak itu maksud saya. Justru saya membuat tulisan ini hasil curhat dari ibu-ibu bekerja dan ini saya persembahkan untuk mereka akan mereka kemudian dapat memberikan peran lebih besar untuk anak-anaknya. Jika bukan untuk ibu bekerja, lah ngapain pake ngomong segala soal “menitip anak”? Seperti curhat salah seorang mom berikut ini:

“Saat ini situasi saya adalah saya dan suami mempunyai rumah di Bekasi. Kami berdua kerja dan tidak ada yang mengawasi putri kami (usia 2 tahun), sehingga mengatasi hal ini kami melakukan cara yaitu pagi pagi buta putri kami (walau sedang tertidur) kami “angkut” lalu melakukan perjalanan Bekasi – Jakarta untuk mendrop anak kami di rumah mertua saya yang berada di Jakarta. Begitu pun malamnya, di malam gelap kami melakukan perjalanan kembali Bekasi – Jakarta bersepeda motor dengan membawa anak kami pulang, kami lakukan hal ini setiap hari.

Saat ini hanya mertua saja yang bisa kami harapkan untuk mengasuh, selain mertua tidak bekerja (ibu mertua juga Ibu RT dari dulu), dan orang tua saya (hanya ibu saja) masih bekerja untuk membiayai adik saya di luar kota. kami tidak bisa tinggal di rumah mertua, karena di rumah mertua pun sudah terdapat 2 keluarga saudara suami saya (ponakan saya juga sekalian diasuh oleh mertua saya, sehingga tidak hanya putri kami saja yang diasuh, masih ada 2 cucu lain), dan situasi ekonomi yang tidak bisa mengambil kontrakan dekat rumah mertua.

Dari cerita situasi saya tersebut, sudah terbaca bahwa mungkin situasi itu menimbulkan “ketidaknyamanan” pada anak saya terutama untuk kesehatan karena putri kami juga masih terhitung “masih kecil” tuk terus menerus perjalanan “luar kota” pagi buta dan malam gelap setiap hari dengan bersepeda motor pula. Namun, hal tersebut mnjadi agak “perbedaan” antara saya dan suami saya. suami saya menyimpulkan anak saya sdh besar dan “mampu” untuk beradaptasi atas situasi tersebut.”

Kebetulan, saya mendapatkan info di dekat komplek saya ada Daycare yang nuansa islami pula. Saya terpikir untuk menjadikan Daycare ini “pengganti solusi” dari permasalahan tersebut. Namun, saya masih membutuhkan pandangan dari pihak ketiga yang sesuai dapat membantu memberikan saya pilihan yang terbaik.”

Saya faham kadang karena alasan tertentu seorang ibu harus bekerja dan tidak bisa mendampingi anak sepenuhnya, saya pun tidak bisa menentangnya. Tetapi sebelum memberikan tanggapan pertanyaan semacam ini saya tetap harus mengatakan yang ideal dari segi kaca mata tumbuh kembang anak adalah seorang ibu saat anak dalam fase usia dini mendampingi anak-anaknya. Karena tentu akan berbeda sentuhan orangtua sendiri, darah daging sendiri, dengan sentuhan orang lain dari segi ikatan emosional. Stimulasi kognitif dan psikomotorik mungkin bisa didapat dari siapapun, tapi stimulasi emosi orangtua akan berbeda dengan stimulasi nenek, guru, daycare, apatah lagi pembantu. Karen ini tulisan opini, maka ideal di sini pastilah ideal dari versi saya. Karena itu bisa jadi sangat subyektif. Anda boleh menciptakan versi ideal Anda sendiri.

Ya, memang, meski dengan orangtua pun tak menjadi jaminan bahwa seorang anak akan pasti sehat, akan pasti cerdas dan sukses di masa depan sebagaimana belum tentu juga ibu yang bekerja anaknya pasti tidak akan menjadi anak baik, atau tidak akan menjadi anak shalih dan shalihah. Semuanya memiliki kesempatan sama: menjadi ayah dan ibu terbaik untuk anak-anaknya. Ayah dan ibu shalih dan shalihah.

Maka, orangtua yang punya perspektif luas tidak akan pernah mengatakan “anak saya dititip dengan pembantu, tapi buktinya anak saya baik, anak saya tidak nakal, anak saya sehat dan anak saya tidak melakukan perilaku buruk apapun.” Pernyataan yang seolah-olah logis ini adalah seperti mirip orang yang memberi pernyataan “saya didik dengan kekerasan oleh orangtua saya, tapi buktinya saya jadi orang sukses, buktinya saya jadi PNS, teman-teman saya yang  tidak pernah dipukul orangtuanya, buktinya tidak jadi apa-apa” atau yang lain yang lebih mirip “anak saya tidak diberikan ASI, hanya susu formula, buktinya anak baik-baik saja, sehat dan cerdas!”

Sebab yang menyebabkan kondisi-kondisi seperti itu tidaklah tunggal. Tidak hanya karena gizi semata, atau tidak hanya karena stimulasi semata. Model pola asuh anak sangat menentukan pula, bagaimana karakter anak dibentuk. Bagaimana perilaku dan perlakuan orangtua pada anak. Jika ibu tidak bekerja, jadi ibu rumah tangga, dengan judul “full time mom” demi anak, tapi saat ada di dekat anak tidak menghasil apapun, hanya, lagi-lagi mendampingi anak: ngantar jemput anak ke sekolah, ngaji anak “outsourcing” ke ustadz dan ustadzah, tidak menemani anaknya bermain, tidak menstimulasi anaknya, tidak menyediakan waktu membacakan buku dan cerita, ini juga sama saja, bisa disebut ibu yang melahirkan anak tapi tidak mendidik anaknya.

Tapi lepas dari mendukung atau tidak soal ibu bekerja, saya punya kewajiban untuk tetap memberikan pernyataan berikut ini:

Meski anak sekolah dan berinteraksi dengan lingkungan, dalam 18 tahun pertamanya sesungguhnya anak-anak lebih banyak menghabiskan waktu hidupnya sekira 85% hampir di lingkungan keluarga (orangtua, nenek/kakek, pembantu, atau siapapun yang menghabiskan waktu lebih banyak dalam pengasuhan anak). Maka, karakter anak tentunya akan lebih banyak dibentuk di lingkungan keluarga. Jika keluarga tidak mengintervensi, tidak membentuk, tidak menginstall pikiran anak dengan nilai dan karakter-karakter positif, maka yakinlah akan ada pihak lain yang melakukannya. Pihak lain itu dapat berbentuk teman sebayanya, lingkungan pergaulan anak atau pun media seperti televisi.

Jaman dulu, lepas dari ekspos media, kenakalan remaja tidaklah sedahsyat sekarang. Di negara-negara Barat saja, ya para tugas para ayahlah yang mencari nafkah. Ibu ngurus anak, membesarkan anak, mendampingi dan mendidik anak. Sesekali mereka bekerja di ladang, membantu suami. Jadi anak pun masih terurus. Setelah anak besar mereka mencari pekerjaan atau bekerja untuk membantu kehidupan keluarga. Tapi ini berubah setelah era revolusi industri yang bermulai di daratan Inggris terjadi. Para perempuan mulai turut bekerja ke luar rumah, maka tatanan berkeluarga pun ikut berubah.

Di negeri kita, jaman dulu, anak-anak lebih keurus,  sore-sore anak-anak masih bisa ngumpul dengan keluarga di depan halaman rumah, sementara televisi, hanya TVRI doang, insya Allah itu pun acara bermanfaat. Jaman dulu, no internet, no kabel tv, no satelit tv. So, jaman dulu, anak kita dibiarkan begitu saja “diliarkan” masih terasa aman. Dari ujung kampung ke kampung yang lain bakal tahu itu anaknya siapa.

Semakin bertambah usia bumi, jaman semakin maju, teknologi semakin berkembang, dunia seolah tanpa batas, tersebar tv kabel, internet, tv satelit. Lihatlah tayangan HBO, maaf, ciuman tanpa sensor atau perempuan setengah telanjang muncul tanpa sensor di negeri ini!

Lalu karena fasilitas hidup meningkat, gaya hidup pun meningkat, kebutuhan meningkat, menyebabkan seolah tidak cukup hanya seorang laki-laki bekerja. Akibatnya para perempuan keluar rumah bekerja. Tidak di Barat, tidak di Timur, tidak negeri kita. Maka anak-anak pun dititip-titipkan, dititip di pembantu, dititip di babysitter. Maaf, seperti anak-anak yatim piatu yang orangtuanya lengkap bukan?

Masih “mending” dititip di daycare atau nenek dan kakeknya. Sebagian anak ada yang dititip dan menghabiskan lebih banyak hidupnya dengan pembantu, perawat atau nanny. Ketika yang diberikan kepercayaan mendampingi anak ini perilakunya tidak positif, akibatnya sebagian anak ini menghabiskan waktunya lebih banyak di depan monitor televisi atau komputer. Main game, internet dan tayangan tv. Jika seorang anak lebih banyak menghabiskan waktu di dekat televisi, game atau internet daripada di dekat orangtuanya , maka siapa yang akan lebih banyak memengaruhi anak? Media itu atau orangtua?

Kita semua sudah tahu jawabannya bukan? Akibatnya? Di sinilah mulai hancur peradaban. Kita boleh lihat data dan survei manapun di negara barat tentang bagaimana perilaku mengkhawatirkan anak dan remaja di jaman modernisasi ini. Anak-anak yang melakukan seks bebas, kecanduan obat-obatan, incest, perilaku seks menyimpang, kekerasan anak (bullying).

Anak-anak “yatim piatu” yang orangtua lengkap dan kehausan “emosi” ini kemudian diatasi dengan cara: kampanye kondom, kampanye reproduksi sehat, kampanye antinarkoba, kampanye antibullying!

Bukan, bukan, bukan itu tidak bermanfaat. Itu bermanfaat. Tapi solusi ini seperti efek obat pada penyakit, yang hanya menyembuhkan gejala bukan penyebabnya! Menyembuhkan demam dengan parasetamol tapi bukan pada pengelolaan sistem kekebalan tubuh anak yang menyebabkan demam.

Kebutuhan emosi anak hanya bisa dipenuhi oleh perbuatan emosional pula! Dari orangtua sendiri. Bukan dipenuhi dengan mainan, jajanan, makanan, handphone dan benda-benda materi. Karena itu bukan kampanye antinarkoba, bukan kampanye reproduksi sehat, bukan antibullying, tapi kampanyekan para orangtua untuk kembali NGURUS keluarganya! Ngurus bukan sekadar memberi makan dan perlindungan tubuh semata tapi juga emosi, jiwa atau mentalnya. Jika para orangtua ngurus keluarganya, semua kampanye tadi: antinarkoba, kesehatan reproduksi atau apapun, bukankah seharusnya juga bisa dilakukan oleh orangtua?

Ketika bicara soal ngurus keluarganya, saya tidak bicara hanya tugas ibu. Ayah juga. Kewajiban ayah bukan hanya mencari nafkah tapi juga mendidik anaknya. Jika seorang ibu adalah madrasah untuk anak, maka ayah adalah kepala sekolahnya. Lihat kitab suci agama, ketika bicara anak, maka yang dibicarakan ayah, bukan ibu. Meski secara teknis mungkin sebagian anak menghabiskan waktu dengan ibunya karena ayah bekerja, tetap saja ayah seharusnya punya “konsep” bagaimana anaknya dibesarkan dan dididik. Apakah ketika seorang ayah sudah mencari nafkah, menggugurkan kewajiban ayah yang lain yaitu mendidik anak? Apakah ketika kita sudah sholat gugur kewajiban kita yang lain, misalnya membayar zakat dan shaum Ramadhan?

Karena itulah, mungkin itu pula yang menyebabkan sebagian besar perempuan di Jepang, dulu, akan berhenti bekerja (sementara) ketika melahirkan anak sampai anak-anak ini masuk usia sekolah. Lalu mereka akan bekerja kembali setelah anak sekolah, itu dengan sebuah sistem yang disebut dengan “arubaito” semacam sistem kerja freelance atau paruh waktu. Ya setidaknya dari kunjungan dan perhatian “sebentar” saya di Tokyo, Osaka dan Nagoya. Entahlah dengan perubahan modernisasi sekarang. Apakah kebiasaan perempuan Jepang ini masih berlaku atau tidak.

Karena itu pula saya setuju jika pada usia 7 tahun ke bawah seperti yang dikatakan Ali bin Abi Thalib, “jadikan anak seperti raja”, dididampingi, dimuliakan, diberikan perhatian penuh. Saya juga setuju jika ada orangtua mengatakan “saya tidak akan pernah menitipkan anak pada siapapun, karena tidak ada yang lebih baik dari orangtua sendiri”.

Saya pun termasuk yang tidak ridlo, anak saya bisa membaca Qur’an, bisa membaca huruf latin pertama kali dari orang lain. Dimana dong peran dan ladang amal saya sebagai orangtua kalau semuanya “outsourcing”? Stimulasi kognitif outsourcing ke sekolah, stimulasi motorik outsourcing ke guru TK, belajar ngaji outsourcing ke ustadz dan ustadzah.

Tapi, saya tidak bisa memaksa semua orangtua seperti saya dan punya pikiran seperti saya bukan? Saya juga tidak bisa menyamaratakan keadaan dan latar belakang semua orang bukan?

Karena itu  meski idealnya seorang ibu mendampingi lebih banyak anaknya pada usia tertentu, terutama fase “golde age”, kadang dengan berbagai latar belakang, keadaan tidak selalu ideal yang kita inginkan bukan?

Pertanyaannya, jika karena keadaan tertentu membuat seorang ibu harus bekerja, lalu siapakah yang akan mendampingi anak tumbuh besar? Tiga kemungkinan besar biasanya adalah:

  1. Menitipkan anak pada asisten rumah tangga (pembantu) di rumah, atau “outsourcing” dengan tetangga sebelah yang mau dititipkan
  2. Menitipkan pada kerabat: nenek/kakek, tante, saudara, adik atau kakak yang tidak bekerja
  3. Menitipkan pada orang atau lembaga profesional: seperti daycare atau tenaga pendidik profesional yang khusus disewa untuk menstimulasi anak

Yang jelas saya tidak akan pernah merekomendasikan yang nomor 1. Sebab lagi-lagi tugas mereka hanya “menjaga” bukan mendidik. Tugas mereka hanya memastikan anak aman dari bahaya dan makannya terpenuhi tapi belum tentu mentimulasi anak-anak ini. Masih lebih baik jika anak dibiarkan bermain untuk menstimulasi kecerdasannya, tapi bagaimana jika si pengasuh ini overprotectif? Sayang sekali jika anak yang dijaga pihak no 1 ini kerjaannya hanya diberi makan, ditidurkan, disimpan di depan televisi.

Bagaimana dengan pilihan menitipkan anak pada kerabat? Terutama yang sering terjadi adalah pada nenek/kakek anak-anak kita?

Pilihan menitipkan anak pada nenek dan kakek insya Allah menjadi baik tapi dengan berbagai syarat:

  1. Nenek/kakek termasuk orang yang bisa diajak kompromi soal pendidikan anak, mudah diajak berdiskusi soal pendidikan anak, memiliki pengetahuan luas soal pendidikan anak sehingga memiliki batasan-batasan yang jelas (tidak overprotectif, tidak terlalu mengekang juga tidak terlalu memanjakan).
  2. Pengawasan dan pendampingan pada anak kecil yang membutuhkan energi lumayan tidak sampai mengganggu kesehatan nenek/kakek.
  3. Untuk ukuran orang yang sudah sepuh, nenek dan kakek seharusnya bisa didampingi asisten (perawat, asisten rumah tangga) untuk mengurusi pekerjaan-pekerjaan nonstimulasi atau yang membutuhkan energi banyak: mengganti popok, mencuci popok, memberi makan, jika tidak umumnya mereka bakal kewalahan (nenek/kake + pengasuh).
  4. Keinginan dari nenek/kakek yang memang sangat senang dengan anak-anak dan sangat menikmat kebersamaan dengan cucu-cucunya (mereka sendiri yang ikhlas atau menginginkannya setelah diajak bicara).

Karena itu, jangan sampai pilihan menitipkan anak pada nenek dan kakek itu menyebabkan kemungkinan yang jika diungkapkan dalam bahasa negatif “dulu mereka membesarkan kita dengan susah payah, masak di usia sekarang masih juga dikerjain oleh kita anaknya, untuk ngurus cucu-cucunya”.

Jika salah satu syarat tadi tidak dipenuhi, apalagi nomor empat, saya sama sekali tidak merekomendasikan untuk menitipkan anak pada nenek/kakek dan mungkin saya lebih setuju jika pilihan menitipkan anak pada daycare atau pembantu. Meski tetap harus dipilih dan dipilah agar jangan sembarangan daycare dipercaya untuk menitipkan anak.

Meski bukan yang ideal seperti orangtua, daycare bisa jadi pilihan baik lain selain nenek/kakeknya karena dengan beberapa alasan yang sering disebutkan:

  1. Pengawasan dan pengasuhan oleh profesional (psikolog, perawat, dll) yang memahami tumbuh kembang anak
  2. Makanan terjamin, karena dengan tenaga profesional tadi sudah terstruktur pula pemenuhan nutrisi anak selama berada di lingkungan daycare
  3. Anak mendapatkan stimulasi atau rangsangan tumbuh kembang (kognitif, emosi dan psikomotorik)
  4. Anak belajar bersosialisasi dan kemandirian (seperti toilet training yang konsisten, bermain dengan teman yang sering, dan lain-lain)
  5. Minimum kontaminasi media televisi
  6. Stimulasi nilai-nilai positif: agama, karakter dll.(story telling, eksplorasi bermain, games, dll)

Beberapa hambatan orangtua untuk menitipkan daycare atau sering disebut kendala, yang sering disebutkan orangtua antara lain:

1. Masalah kekhawatiran soal kesehatan, misalnya khawatir anak mudah tertular penyakit karena setiap hari berinteraksi dengan anak yang lain

2. Masalah ketidaknyamanan dan kekhawatiran karena anak dititip dengan bukan keluarga sendiri

3. Masalah finansial. Menitipkan anak di daycare membutuhkan pengeluaran lebih dan ini akan menguras keuangan, tidak hemat, baik untuk tranpsort antar jemput maupun biaya daycare itu sendiri

Alasan yang pertama, sebenarnya alasan yang tidak beralasan. Maksud saya bakteri dan kuman itu bisa jadi ada di manapun. Ada pada tanah, ada pada pohon, ada di meja, kursi, ada pada tempat cuci piring.

Ini persis seperti orangtua yang khawatir anaknya sakit jika hujan-hujanan. Apakah air hujan itu yang menyebabkan anak sakit? Tanya dokter manapun, bukan hujan yang menyebabkan anak sakit tapi masalah kekebalan tubuh anak yang tengah lemah dan kebetulan hujan-hujanan itulah yang menyebabkan anak sakit. Jika hujan dapat menyebabkan sakit, pastilah semua orang yang kena hujan akan sakit! Tapi apakah semua orang yang kena hujan pasti sakit? Tidak bukan?

Kecuali benar-benar anak-anak lain itu memiliki penyakit menular yang berbahaya dan potensial untuk ditularkan, yang lainnya seharusnya tidak menjadi kekhawatiran, sebab jika anak kekebalan tubuhnya memang kuat, tidak mudah dia terserang penyakit bukan? Lagi pula tenaga profesional yang tadi disebutkan tidak mungkin tidak mengantisipasi soal hal ini.

Alasan kedua soal ketidaknyamanan adalah hal yang tak juga perlu dikhawatirkan. Sebab siapapun pada awalnya anak akan mengalami apa yang disebut “separation anxiety” kecemasan berpisah dengan orangtuanya. Tapi seiring dengan berjalan waktu, ketidaknyamanan anak ini sebenarnya yakinlah akan hilang. Persis seperti anak yang ditinggalkan bekerja pertama kali oleh orangtua yang nangis dan mungkin histeris. Tapi jika orangtua konsisten, nangis dan teriak anak ini tidaklah berlangsung seterusnya. Silahkan baca tulisan saya yang lain tentang “separation anxiety” ini.

Alasan ketiga soal hambatan finansial, ini yang serius. Jika ayah dan ibu bekerja memang demi anak-anak, lalu mengapakah lagi kita masih berpikiran soal hemat? Uang yang dihasilkan itu kan untuk anak juga, jadi wajar pula jika uang yang dihasilkan itu salah sebagiannya diinvestasikan untuk anak. Meski tetap  harus dikelola porsinya.

Terdengar klise memang, tapi ini benar dan fakta di lapangan di sekitar kita, tidak sedikit menunjukkan kebenaran itu. Banyak orangtua demi masa depan anak-anaknya, agar anaknya sukses, mereka bekerja keras membanting tulang, mengorbankan waktu, sehingga sampai tak punya waktu untuk anak-anaknya, menelantarkan anak-anaknya. Tapi yang terjadi setelah masa depan itu datang, setelah orangtua ini renta, anak ini memang sukses, tapi banyak anak ini ternyata menelantarkan orangtuanya.

Maka saya sering berkata untuk para orangtua yang sepasang bekerja (ayah dan ibu), please deh, investasikan sebagian uang Anda juga untuk tumbuh kembang anak dengan serius. Gaji punya, tapi anak hanya difasilitasi pembantu. Jika Anda bekerja ya jangan hanya pembantu, jika tidak menitip di day care, kalau perlu rekrut orang tenaga pendidik, lulusan paud, lulusan PGTK dll untuk menstimulasi anak di rumah dengan gaji profesional. Seperti berlebihan, tapi tanya pada diri kita sendiri, apakah uang yang kita dapatkan dari hasil kerja kita hanya bekerja untuk kepuasan kita sendiri, untuk keluarrga, kedua-duanya atau untuk apa lagi? **

Link Sumber: http://www.facebook.com/notes/yuk-jadi-orangtua-shalih/menitipkan-anak-asisten-rumah-tangga-daycare-atau-nenekkakek/10150695245085700

***

Baca Juga:

Mengapa Anak-anak Tidak Telepon Ayah?

ASI Sempurna 2 Tahun Itu Mengurangi Kerepotan

Developing Child Communication Skills: Main Tebak-tebakkan, Yuk!

Ingin Berapa Lama Hidup dengan Anak-anak Kita?

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag . Tandai permalink.

3 Balasan ke Asisten Rumah Tangga, Daycare atau Nenek/Kakek

  1. michelia berkata:

    Mbak/Ibu, saya setuju gambaran & pengalaman ideal tulisan mbak, tapi saya pikir anda perlu tahu bahwa kondisi ekonomi keluarga tidak semuanya seperti yang diharapkan. ada keluarga yang gaji suaminya cuma cukup untuk cicilan rumah yang nilainya tidak lebih dari 2 juta, ya mungkin itu masalah keluarga tersebut.
    tapi itulah mengapa ibu harus turut bekerja, karena kalau tidak, mereka akan punya tempat tinggal tapi tidak dapat makan dll.

    • punyahannawilbur berkata:

      Tidak masalah, di atas kan diberikan tiga solusi berikut dengan keuntungan dan kerugian masing-masing. Tinggal pilih sesuai kondisi, lalu kelemahannya coba diatasi. Demi anak, pasti akan banyak solusi kreatif yang muncul :).

      Terimakasih atas komentarnya :D.

  2. Ping balik: Page View 11-07-2013 sampai 18 -07-2013 | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.