Pengalaman Melahirkan Anak Kedua


Gak kerasa sekarang aku lagi nulis kisah melahirkan anak yang kedua. Ada perbedaan-perbedaan besar antara pengalaman melahirkan Azmy dan Apta. Di antaranya adalah pengalaman melahirkan yang kedua ini jauh lebih cepat dan mudah. Aku bahkan sempat bertanya-tanya ke diri sendiri, apa yang perlu diceritain? Maksudnya saking cepatnya, gitu… But, di balik ‘kecepatan’ itu, ada banyak hikmah yang bisa aku ceritakan yang insya Allah bermanfaat. Lagipula, banyak ibu-ibu yang jauh lebih cepat lagi melahirkannya (ah lebay, segini sih masih termasuk waktu normal, cuma kerasa cepet karena waktu anak pertama lebih lama :P) heheh.

Oke, berawal dari beberapa hari sebelum Idul Fitri hingga ke hari Sabtu tanggal 15 September (sehari sebelum melahirkan) aku sering merasakan nyeri-nyeri ringan di jalur lahir. Apa mungkin karena pengaruh psikologis atau tidak aku tidak tahu, karena sudah lama aku merindukan ingin melahirkan di hari Idul Fitri. Tapi, hari demi hari berlalu dan Idul Fitri (19/08/12) sudah lewat, ni anak belum juga lahir (emang sih, perkiraan lahirnya tanggal 5 Oktober, xixix…). Walaupun perkiraan lahirnya masih jauh dan Idul Fitri sudah lewat, tapi aku masih punya feeling bahwa waktu untuk melahirkan sebentar lagi.

Anehnya, justru di waktu-waktu penting inilah sayangnya si aku lagi futur alias maleus alias haroreyam. Pokoknya amalan-amalan ibadah ekstra berkurang drastis dan bawaannya banyak ngantuk. Aku memaksa diri untuk jalan kaki setidaknya tiga kali seminggu. Pokoknya cari alasan untuk jalan kaki. Untungnya waktu aku masih sering ke kampus, aku sengaja berjalan kaki dari kampus di Tamansari ke Pajajaran, tempat aku naik angkot hijau jurusan Cimahi. Bahkan anak pertamaku yang berusia 2 tahun aku ajak jalan kaki seperti ini. Insya Allah beliau juga bakal kecipratan sehat heheh…

Tibalah aku di hari Sabtu (15/09). Sekitar setengah jam sebelum azan Magrib sudah ada keluar sedikit seperti darah encer. Nyeri-nyeri ringan itu juga sudah lebih sering. Pada saat yang bersamaan keluarga kami sedang membantu pernikahan sepupu suami dan tadinya kami berencana untuk menginap di rumah mertua. Suami bertanya apakah aku mau menginap atau di rumah saja. Saat itu aku bimbang, bagusnya gimana, ya? “Gak apa-apa, feeling Ummy aja gimana?” kata suami. Setelah bertanya pada feeling-ku, aku bilang mau tinggal di rumah saja. Oke, tapi suami malam ini pergi dulu ke rumah orang tuanya untuk koordinasi untuk acara esok hari. Sekalian beliau menitipkan anak pertama kami untuk menginap di sana agar besok Subuh mudah berangkat kesananya.

Malam itu, setelah kembali dari rumah mertua, suami malah nonton film-film berisi kekerasan. Aku gak mau menit-menit menuju lahirnya anakku diisi dengan nonton film seperti ini, jadi aku memutuskan untuk pindah ke kamar sebelah dan membaca buku (“Contextual Teaching and Learning: What It Is and Why It’s Here to Stay” oleh Elaine B. Johnson. BTW, ini buku rame, loh!)—hingga tertidur. Esok harinya nyeri-nyeri itu masih on-off dan aku tidak ikut ke pernikahan sepupu, tapi aku meminta suamiku untuk segera pulang pas Zuhur.

Pagi-pagi walaupun nyeri-nyeri tapi aku memaksakan diri jalan kaki untuk jajan (tujuannya untuk jalan kaki ya, supaya lancar persalinannya, jajannya sih efek samping :P). Aku membeli roti tawar 6 buah (tinggal 6 lagi jadi aku borong aja ‘^^), kacang hijau, air kelapa murni, dan pisang satu sisir, lalu aku kembali pulang lewat jalan yang berbeda. Jalan kaki aku kali ini jauh lebih lambat dari biasanya. Bukan dibuat-buat tapi memang terasa berat dan nyeri.

Sampai di rumah aku berusaha untuk menghabiskan kacang hijauku, tapi karena tidak nyaman, jadi hanya berhasil aku makan beberapa suap, lalu makan roti juga tidak bisa banyak. Aku bisanya minum air kelapa. Sengaja aku minum air bening hanya sedikit untuk memudahkan bayi keluar nanti. Berdasarkan pengalaman melahirkan anak pertama, sempat tertahan waktu mau keluar karena kandung kemih yang penuh.

Nyeri-nyeri semakin meningkat frekuensinya, haduh aku sangat mengharapkan Abi ada di rumah menemani saat ini. Aku pindahkan laptop ke kamar tidur dan aku nyalakan murottal surat-surat al-Qur’an pilihan. Daripada gak ada kerjaan dan aku pun karena nyeri kurang mood baca buku, jadi aku pun mereview hafalan surat Ar-Rahman-ku. Aku sambil membuka mushaf Quran membaca, lalu menutupnya sambil mendengarkan lantunannya di laptop. Begini seterusnya bolak-balik. Hal yang membuat aku bertahan adalah membayangkan sebentar lagi Abi pulang. Sebelum Zuhur Abi sempat beberapa kali sms dan aku sampaikan hasil perhitungan frekuensi nyeri aku (setiap nyeri aku mencatat waktunya di hape). Lumayan nyeri itu setiap lima sampai sepuluh menit sekali. Dalam beberapa kali sms aku sampaikan meminta agar nanti ia segera pulang, “Abi nnt segera pulg, ya…

Azan zuhur berkumandang, dan Abi sms bilang beliau akan pulang setelah beres shalat Zuhur. Baiklah, aku akan sedikit bersabar lagi, insya Allah Abi akan segera tiba, mungkin setengah jam lagi. Sementara itu nyeri-nyeri yang aku rasakan menjadi semakin sakit. Abi sempat bilang agar aku menghubungi bidan yang dekat rumah, tapi aku ingin menunggu Abi pulang dulu, baru menghubungi bidan.

Pukul satu kurang aku mendengar suara mobil datang. Abi datang bersama anak pertamaku dan sepupunya sekeluarga. Abi mengajakku untuk menemui mereka. Saat itu aku benar-benar gak mood bertemu siapa-siapa. Nyeri itu udah meningkat, dan aku perlu berhenti bergerak setiap beberapa menit, tapi Abi mendesakku menemui mereka, katanya insya Allah menerima tamu itu membawa keberkahan. Aku pun menemui mereka dan sebentar berbincang-bincang, sebelum akhirnya segera meminta pamit karena mulai kerasa akan nyeri lagi.

Aku langsung masuk dan duduk di meja makan sambil menahan nyeri. Abi masih berbincang di ruang tamu menemani mereka. Akhirnya aku memutuskan naik ke lantai atas dan duduk lagi di tempat tidur. Tidak beberapa lama kemudian Abi datang dan bilang beliau akan pergi lagi ke rumah mertua mengambil motor.Apa? Abi mau pergi lagi? Kataku dalam hati. Ya sudah, kan cuma mau ambil motor, jadi gak akan lama. Semakin kuat firasat bahwa waktu melahirkan akan dekat jadi aku meminta agar anak pertamaku dititip saja di rumah mertua.

Setelah Abi dan Azmy pergi aku kembali merasa sendiri. Aku menenangkan diri dan menghibur diri dengan membayangkan bahwa sebentar lagi Abi pasti akan pulang dan bisa menemani aku melewati nyeri ini. Aku berusaha mengisi pikiran aku dengan hal-hal positif dan doa-doa agar proses melahirkan yang kedua ini berjalan jauh lebih lancar dibandingkan melahirkan pertama. Bahkan aku sempat berdoa agar nanti produksi ASI-ku banyak dan barakah bagi bayi.

Ternyata Abi pergi lebih lama dari yang aku bayangkan. Sudah sejam tapi beliau belum pulang. Aku beberapa kali sms, tapi tidak ada balasan. Ada apa gerangan? Hati ini rasanya ingin berteriak, Abi cepet pulang! Terakhir aku coba telepon pun tidak diangkat. Kesabaran ini sudah sangat-sangat tipis, berubah menjadi kemarahan. Belah mana dari sms-sms aku yang bilang “Abi segera pulang…” yang beliau tidak pahami?! Segera pulang ya, segera pulang, koq beliau malah pergi lama banget??? Tangis ini gak bisa lagi aku bendung. Aku sudah dari pagi sangat mengharapkan kepulangan beliau, tapi kini aku harus terus merasakan proses mulas-mulas sendiri. Hati ini hancur dan kecewa.

Sambil menangis aku pun sms bidan bilang akan ke rumahnya. Aku pun berusaha terakhir untuk menghubungi ibu mertua menanyakan Abi ada dimana. Kata mertua Abi ‘udah pergi duluan’. Ini membuat aku ketakutan, aku pikir beliau dan Azmy sudah pulang tapi ada apa-apa di jalan. Ternyata mertua saat itu masih di gedung resepsi dan ‘sudah pulang duluan’ maksudnya sudah pergi dari gedung resepsi.

Mungkin suara tangisanku terdengar karena aku baru tahu kemudian bahwa ibu mertuaku menelfon Abi. Tak berapa lama setelah menelpon ibu mertua, Abi menelfon bilang bahwa ketika aku menelfon beliau sedang shalat jadi tidak bisa angkat telepon. Ternyata di rumah mertua ada tamu, sedangkan mertua belum pulang dari gedung resepsi. Abi tidak enak meninggalkan para tamu sendiri, jadi beliau sedang menunggu ayah-ibunya pulang. Aku sambil menangis-nangis meminta ia cepat pulang, tapi jangan bawa Azmy (Azmy titip di rumah mertua saja).

Pukul setengah lima kurang akhirnya Abi sampai di rumah. Aku langsung mengajaknya ke bidan yang berjarak sekitar sepuluh rumah. Kami berdua kesana naik motor tanpa membawa perlengkapan apa-apa. Sampai di bidan setelah diperiksa ternyata sudah pembukaan empat! Aku langsung diminta menempati kamar yang ada dan Abi kembali ke rumah ambil perlengkapan. Ternyata memang sampai di bidan nyeri-nyerinya semakin hebat, tapi aku terus berfikir positif dan berusaha mengajak Abi berbincang-bincang di sela-sela waktu ‘tidak nyeri’. Setiap nyeri itu datang, aku memegang tangan Abi dan berkata dalam hati,sebentar lagi… Sambil juga terus berfikiran positif bahwa persalinan nanti akan lancar.

Sebelum melahirkan aku sempat muntah tiga kali, entah kenapa, tapi setiap kali muntah badan ini terasa lebih baik.

Jauh-jauh hari sebelumnya kami sudah menetapkan bahwa bayi kedua kami akan diberikan nama Apta. Katanya sih Apta itu artinya Tangguh. Jadi, Abi mengingatkan aku bahwa aku adalah Ummy Tangguh. Ayo, semangat Ummy Tangguh!

Semakin lama badan terasa semakin gerah. Aku sempat menyesal kenapa berambut panjang, karena selama proses mulas-mulas ini, rambut panjang ini selain menambah gerah, juga terasa sangat mengganggu.

Setiap kali mulas itu terasa aku masih suka mengatakan ‘Rabbunallah’ (Tuhan kami adalah Allah) sama seperti waktu proses mulas anak pertama. Alhamdulillah Abi dengan setia memegang dan mengusap-usap tanganku setiap kali mulas itu datang.

Pukul tujuh malam aku diajak ke ruang persalinan dan ternyata sudah pembukaan delapan! Alhamdulillah… Itu memberikan aku harapan besar bahwa bayi sebentar lagi akan lahir (dan ‘penderitaan’-ku juga akan segera berakhir heheh). Pada kondisi seperti ini aku sempat ragu apakah setelah ini ingin punya anak lagi hahah.

Eh, tapi pada kondisi seperti ini aku gak boleh punya pikiran negatif! Terus aku mengisi pikiran dengan hal-hal yang positif dan mendepak pikiran negatif yang berupaya menyusup.

Dua orang bidan baik hati menyiapkan semua kebutuhan dan memberikan aba-aba ketika sudah waktunya mendorong. Ketika pembukaan sudah sempurna, bidan memecahkan ketuban dan memberi aba-aba agar aku mendorong setiap kali mulas itu datang. Aku terus fokuskan pikiran aku untuk mendorong, aku ingin ini cepat selesai.

Alhamdulillah… pukul 19:35 WIBB (Waktu Indonesia Bagian Bidan) Muhammad Apta Al-Fatih Mubarakh lahir ke dunia. Abi langsung menangis. Aku yang lagi ge-je (gak jelas) malah bilang, “Jadi pengen nangis…” Padahal nangis ya nangis aja, ya? Pake acara bilang segala.

Apta langsung diselimuti dan ditidurkan di atas badan aku, sambil bidan ‘membereskan’ aku. Bidan mendorong agar bali bayi keluar. Aku kemudian disuntik di paha (kayaknya semacam bius, ya?) dan mulai dijahit. Aah… aku sudah berharap tidak akan ada jahit menjahit, tapi ternyata ketika proses bayi keluar, ada kulit yang robek. Untungnya tidak banyak, dan bidan sedikit ‘merapihkannya’, tapi tetap saja sakit dan rasanya pengen cepet-cepet beres… Daripada sibuk meratapi nasib, aku berusaha memperhatikan manusia besar yang baru saja lahir ini dan membahasnya dengan Abi. Aku lupa ngomong apa aja pokoknya Alhamdulillah dijahitnya beres, dan aku mulai menggigil. Tiba-tiba badan terasa kedinginan—khususnya tangan, dan bukannya diberi tambahan selimut, bidan malah menyinari aku dengan lampu. Walaupun hal ini terasa aneh untukku, tapi ternyata berhasil, dan menggigilku berkurang.

Sebelum badan menggigil, bidan sudah membawa Apta pergi untuk diberi popok, baju, dan selimut. Abi lalu membacakan azan dan iqamat di telinga kanan dan kiri Apta sambil menghadap ke kiblat. Bidan lalu membawanya padaku untuk aku susui sebentar.

Alhamdulillah kami kini sudah kembali ke kamar membawa manusia tangguh  kami. Aku kagum dengan matanya yang sudah tampak ‘awas’ memperhatikan dunia barunya. Dia sama sekali tidak menangis (hanya menangis sebentar waktu pertama kali keluar). Ibu yang kerja membereskan rumah di sana juga memuji Apta yang begitu kalem (gak nangis).

Ada hal penting yang menjadi catatan penting buatku di kelahiran kedua ini yaitu; air ketubanku jernih. Sekitar sebulan ke belakang aku membaca beberapa buku bagus yang di dalamnya aku jadi lebih memahami tentang racun-racun di sekitar kita. Salah satunya tentang bahaya bahan tambahan kimia dalam makanan dan minum. Tanpa perlu aku jelaskan lebih jauh tentang hal ini, intinya sedikit demi sedikit aku kurangi hal-hal yang terkategorikan membahayakan. Untuk penyedap rasa dan berbagai temannya aku memang sudah tidak pakai di rumah, tapi selain itu aku juga kurangi—hingga stop—jajanan yang memakai bahan tambahan buatan (pemanis, pewarna, pengawet, dll). Susu bubuk pun aku stop (hingga sekarang) dan hanya mau minum susu murni. Aku berupaya untuk jajan makanan dan minuman yang alami, atau minimal relatif aman, misalnya air kelapa, bubur kacang hijau, roti tawar homemade yang diproduksi dekat rumah, dsb.

Sedikit demi sedikit aku merasakan perubahannya. Selain badan terasa lebih segar, jerawat pun hilang sama sekali (hingga sekarang), padahal tidak aku olesi apa-apa, dll. Ternyata efek positif ini juga berlanjut pada air ketuban yang bening, proses melahirkan yang relatif lancar, dan bayi keduaku tidak mengeluarkan bau yang menyengat.

Kebiasaan makan sehat ini aku lanjutkan selama masa nifas dan Alhamdulillah proses recovery aku juga berjalan sangat lancar.  Hari Kamis setelah melahirkan aku sudah berjalan kaki bersama Azmy kembali ke bidan untuk check-up Apta. Lalu, seminggu setelah melahirkan aku sudah pergi ke pasar bersama suami untuk membeli beberapa keperluan bayi yang tertinggal. Hari Ahad, dua minggu setelah melahirkan, kami sekeluarga berempat naik motor pergi berkunjung ke rumah mertua. Selain makanan ada hal lain yang juga penting, yaitu aku stop semua obat kimia. Antibiotik dari bidan pun aku buang dan tidak aku minum. Sebagai penggantinya aku setiap hari minum air kelapa murni (tanpa dikasih es atau susu). Semua ini juga tentu saja sambil aku tetap menjaga asupan nasi, protein, sayur, dan buah. Untuk menjaga asupan sayur, karena aku kurang doyan sayur, aku sengaja setiap hari makan sayur semangkuk tanpa ditambah apa-apa, alias ditambul. Ternyata sayur lebih enak dari yang aku kira heuheu ‘^^ (tidak se-tidak enak yang aku kira :P).

Banyak yang bertanya apakah anak pertamaku, Azmy, baik kepada adiknya? Alhamdulillah, Azmy sangat-sangat baik dan sayang dengan Apta. Beliau selalu berupaya untuk membantu sebisa mungkin dalam berbagai situasi dan kondisi. Aku dan Abinya sudah berupaya untuk mempersiapkan Azmy untuk menerima kedatangan adiknya semenjak kami merencanakan kehamilan kedua. Jadi, walaupun aku belum hamil, tapi kami suka menyatakan hal-hal positif tentang dedebayi. Hal ini juga berlanjut selama kehamilan, sehingga dede bayi adalah sesuatu yang ia nantikan juga dengan antusias. Di saat-saat akhir kehamilan aku sempat memberikan pengertian pada Azmy bahwa nanti aku bakal sering gendong dede bayi, bukan berarti tidak sayang pada Azmy, tapi karena memang dede bayi belum bisa jalan, dan belum bisa urus diri sendiri; tidak seperti Azmy yang sudah lebih mandiri. Semenjak hamil juga aku sudah membiasakan Azmy untuk tidak minta gendong sama aku, jadi dia sudah paham untuk minta gendong ke Abi-nya. Loh? Hahah…

Alhamdulillah, overall proses melahirkan keduaku jauh lebih lancar daripada melahirkan pertama. Kini, aku berdoa semoga nanti melahirkan anak ketiga lebihlancar lagi—dan tidak ada yang perlu dijahit xixix…

-Hanna-

Kamis, 4 Oktober 2012

Update 12 Okt 2012

—————————————————————–

Siapa tahu mau baca juga:

Pengalaman Melahirkan Anak Pertama

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Keluarga dan tag . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pengalaman Melahirkan Anak Kedua

  1. Ping balik: Pengalaman Melahirkan Anak Pertama | Punya Hanna Wilbur

  2. Ping balik: Page View 11-07-2013 sampai 18 -07-2013 | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.