Pengalaman Khitan Azmy dan Apta: Seputar Menyunat Anak Laki-laki ketika Masih Bayi


Ibuku pernah cerita bahwa kakak pertamaku disunat waktu beliau masih berusia tiga hari. Aku pikir itu sesuatu hal yang lumrah, karena memang ibuku ceritanya dengan ekspresi biasa saja. Nah, waktu anak pertamaku lahir (Azmy), terpikirlah agar dia disunat ketika masih bayi, sama seperti kakak aku. Kami memandang sunatan sebagai sebuah ibadah wajib, dan lebih cepat lebih baik.

Beberapa hari sebelum ulang bulannya yang keempat, kami pergi ke apotek dekat rumah dan mendaftarkannya untuk dikhitan. Kami mendapat jadwal hari Ahad pagi pukul 6.

Berangkatlah kami pagi-pagi ke apotek pada hari Ahad itu. Setelah urutan pertama beres, masuklah kami ke dalam ruang dokter. Dokternya sedikit kaget tapi tampak senang. Mulailah obrolan tentang keuntungan menyunat waktu bayi, katanya kalau anak disunat ketika masih bayi, maka tidak akan ada trauma.

Dokternya sangat baik dan berbincang-bincang dengan kami selama itu. Ketika dibuka bagian kulit yang akan dipotong dokter bilang bahwa untuk kasus Azmy, bagus sekali disunatnya saat itu. Ternyata sudah ada kotoran bekas pipis yang menumpuk di ujung. Kalau dibiarkan dapat menjadi infeksi. Kotoran ini tidak bisa dibersihkan dengan sekedar mandi, tapi hanya bisa bersih dengan dikhitan.

Setelah beres, kami langsung pulang. Sampai di rumah, pagi-paginya Azmy banyak nangis. Kami biarkan popoknya terbuka ‘biar ke-angin-an’. Setelah capek nangis akhirnya dia tertidur. Alhamdulillah malamnya dia sangat ceria dan tidak tampak seperti anak yang baru saja dikhitan. Selama beberapa hari setelah itu aku sempat mengambil absen kuliah untuk menemani Azmy di rumah. Pada siang hari popoknya dibiarkan terbuka, dan setiap kali pipis, dibersihkan lalu ditetesi anti septik.

Pada ‘era’ anak kedua (Apta) pun tidak banyak berubah, hanya saja dipercepat menjadi tiga bulan. Aku ingin mulai toilet training anak keduaku ini mulai usia 4 bulan, makanya disunatnya dipercepat menjadi 3 bulan. Dikhitannya di tempat yang sama dan oleh dokter yang sama (pada hari Ahad pagi juga).

Wah, ternyata kotoran di bawah kulit kelamin Apta lebih banyak daripada Azmy. Dokter menunjukkan pada kami kotorannya (“Untung aja disunatnya sekarang…”).

Adapun soal tangis menangis; tidak ada episode tangis menangis yang lama ketika Apta dikhitan. Di ruang dokter beliau hanya menangis sebentar ketika disuntik. Setelah itu beliau lebih banyak senyam-senyum manis selama dikhitan. Akhirnya, dikhitan pun beres dengan hanya sedikit darah yang keluar (iya da kecil ‘itu’-nya).

Sampai di rumah barulah Apta menangis, mungkin efek biusnya mulai menghilang dan mulai kerasa linunya. Kami bersabar dengan bergantian menggendong dia. Sebelumnya kami memberikan Apta paracetamol cair dari dokter untuk membantu meredakan nyeri. Tidak lama setelah meminum itu tangisannya mereda dan ia pun tertidur pulas.

Kami memilih untuk meng-khitan anak-anak kami waktu bayi dengan beberapa pertimbangan:

1. Sembuhnya lebih cepat. Kurang dari seminggu (malah mungkin hanya 2-3 hari) lukanya mengering dan si anak tidak lagi menangis karena linu.

2. Anak tidak kehilangan waktu bermain. Kegiatan bayi usia 4 bulan ke bawah cukup sederhana: poop, nyusu, tidur. Dia juga belum punya kebiasaan (atau belum bisa) ‘menelengkupakan’ diri. Ketika disunat, tidak banyak ‘aktivitas’-nya yang terganggu.

3. Tidak ada trauma.

Bapaknya Azmy kemarin bicara seperti ini, “Gak kebayang kalo disunatnya nanti… Bingung ngebujuknya gimana.” Kalau aku pikir sih, ada benarnya juga. Apa yang akan kita bilang ke anak-anak nanti ketika membujuknya untuk mau disunat?

1. “Enggak sakit koq. Cuma kayak digigit semut.” Bo’ong banget….

2. “Enak loh… Kalo mau disunat, nanti dikasih ini dan itu.” Kami tidak ingin mengajarkan suap-menyuap kepada anak-anak kami (makan nasi aja udah bisa sendiri … :P).

Kalau disunatnya ketika udah sekolah, alias 4 tahun ke atas, maka bayangan kami anak akan jauh lebih merana.

1. Sampai sembuh, aktivitas bermainnya terganggu. Dia tidak banyak bisa bergerak, padahal lagi masa-masanya lari kesana kemari (kayak setrikaan).

2. Pasti sakit setiap mau pipis (1-2x sehari).

3. Susah untuk shalat 5 waktu. Padahal, ini adalah waktu-waktu optimal untuk mengajari anak-anak shalat.

4. Gak bisa ke sekolah sebelum lukanya sembuh (1-3 mingguan). Lumayan banyak jam pelajaran yang kelewat.

5. Ujung-ujung dari ini semua: memori pengalaman buruk. Bapaknya Azmy dan Apta mengenang peristiwa sunatannya dulu sebagai pengalaman buruk. Beliau sehari sebelum disunat pergi ke teman-temannya yang sudah disunat meminta cerita sebagai ‘peneguh hati’. Mereka bilang disunat itu gak sakit. Ketika pengalamannya sebenarnya justru menakutkan, dia jadi sangat kecewa.

Aku sedikit kaget dengan ekspresi orang-orang mulai dari yang kaget sampai yang shock. “Ih, kasian… masih kecil…” gitu kata mereka. Sering terpikir, kenapa gak ada yang berfikir seperti itu ketika mendengar berita bayi perempuan di sunat, ya? Gak kasian ngeliat perempuan disunat pas bayi? Heheh…

Anyway, aku sama sekali tidak mengatakan bahwa pilihan untuk menyunat anak-anak laki-laki pada waktu bayi sebagai pilihan terbaik atau pilihan terburuk. Itu adalah pilihan, jadi terserah. Yang pasti, menyunat anak-anak laki-laki ketika bayi adalah pilihanku :D.

Hanna,

17 Desember 2012

Updated: 12 Januari 2013

Iklan
Pos ini dipublikasikan di Uncategorized dan tag , , . Tandai permalink.

5 Balasan ke Pengalaman Khitan Azmy dan Apta: Seputar Menyunat Anak Laki-laki ketika Masih Bayi

  1. Ikakoentjoro berkata:

    Anakku disunat besok kalo dah kelas 5 aja ah. Rasanya kasian 😦

  2. zarahsafeer berkata:

    adikku nagih minta disunat sejak sebelum masuk TK, dia antusias banget pengen disunat hheeee aneh emang, dia seneng pas dikasih tau pas liburan TK mau disuant, dia antusias diajak ke dokter pas pulang dari dokter dia seneng dan cerita antusias bhw sudah disunat..wkwkwkwk emang dasar dia emang pengen disunat..dia kesakitan sih pas udah disuant tapi bangga gitu , aku udah disuant loh..katanya heuuu

  3. Ping balik: Page View 11-07-2013 sampai 18 -07-2013 | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.