Ibu dan Memasak


Waktu kecil aku ingat pernah bilang pada ibuku aku tidak perlu belajar memasak karena nanti akan ada pembantu yang memasak. Ibuku hanya tertawa. Kata beliau, “Nanti kamu akan berlomba dengan mertua.” Maksudnya, karena mertua jago masak, jadi kalau aku tidak pandai memasak akan berlomba untuk mengambil hati suami 😛 (mungkin itu maksudnya).

Kalau dipikir sekarang, betapa sedihnya aku yang waktu itu masih sekolah dasar sudah berfikir untuk menyerahkan tugas-tugas rumah tangga penuh kepada Pembantu, termasuk memasak.

Setelah menjadi seorang istri dan merasakan jadi seorang ibu dari dua orang anak, aku semakin merasakan pentingnya kemampuan memasak. Untunglah suamiku hobi memasak, jadi beliau turut mendukung aku untuk belajar memasak. Dengan memasak, aku tidak ketergantungan total kepada orang lain. Bayangkan, kini dengan berbagai bahan yang ada, aku bisa langsung menyulapnya menjadi masakan yang lezat. Kalau dulu sih, itu tidak bisa aku lakukan; aku hanya lemas menanti orang lain masak, atau membeli. Membeli lauk-pauk dari luar selain boros, juga belum tentu aman. Bayangkan, berbagai jenis MSG dan bumbu-bumbu instan (yang semua mengandung berbagai jenis MSG dan bahan-bahan sintetis) sudah lumrah dipakai dimana-mana. Kalau aku ingin melindungi keluargaku dari itu, aku harus memasak sendiri.

Kini, bangga sekali setiap anakku (2 tahun) yang sulung bertanya, “Hmm… wangi apa, Umi?” ketika aku memasak. Anakku itu juga suka bilang, “Mm… taste good, Umi” (asli, dia ngomong gini). Keluargaku juga jauh lebih lahap makan dan hatiku lebih tentram karena tahu apa-apa saja yang masuk ke perut mereka.

Ada keuntungan lain yang menjadi efek samping dari memasak, yaitu aku tidak perlu ‘memaksa’ anak makan. Sebenarnya karena trauma masa kecil, aku sangat anti memaksa anak makan. Jadi, aku hanya bertanya, “Mau makan?” Kalau anakku tidak mau makan ya sudah. Tapi, lama kelamaan ada saat ketika dia hanya mau makan satu kali sehari. Pokoknya tidak selera makan. Dengan semakin meningkatnya kemampuanku memasak, semakin meningkat juga nafsu makan dia. Kini dia rajin duluan minta mau makan.

Ibu dan makanan merupakan dua hal yang sangat sentral dan ‘sakral’. Bayangkan, banyak sekali iklan makanan yang targetnya adalah para ibu. Berbagai cara produsen berlomba mengambil hati para ibu. Itu artinya masih besar peranan kita dalam keluarga di mata produsen (di mata masyarakat, semoga).

Beberapa waktu lalu aku terkesan dengan kisah ikatan batin yang kuat antara seorang teman dengan ibunya. Ketika ada apa-apa terjadi pada ibunya, ia langsung akan merasakan walaupun berbeda kota. Ini membuat aku teringat tentang bagaimana hanya dua generasi sebelum kita, ikatan antara anak dan orangtua relatif jauh lebih kuat. Apa saja bedanya? Di antaranya adalah peran ibu yang sangat besar mengurus anak, ASI ekslusif (tentu saja dulu belum ada susu formula), … dan ibu memasak dan menyuapi anak! Kini ketika aku memasak dan menyuapi anak (anak kedua masih bayi, jadi aku suapi. Anak pertama sudah bisa makan sendiri), aku benar-benar menghayati bahwa yang aku lakukan ini adalah suatu aktifitas menguatkan ikatan batin antara aku dan keluarga.

Jadi, meskipun tidak ada kewajiban dalam agama untuk seorang istri pandai memasak, tapi bagi yang tidak bisa memasak sungguh sayang, ada banyak momen yang terlewati. Keterampilan memasak ini benar-benar akan memperkaya kehidupan sebagai seorang istri dan seorang ibu.

Aku kini punya momen special bersama dengan anak dan suami. Mereka senang ikut-ikutan sibuk di dapur. Anakku selalu memaksa ingin membantu; ingin ngulek, ingin ngaduk, dsb. Eh, usia boleh baru dua tahun, tapi dia sudah tampak cukup mahir mengaduk dan mengulek. Benar-benar momen istimewaku. Suamiku juga senang memasak, jadi ketika kita bahu membahu dalam memasak, itu juga menguatkan ikatan kita berdua di hal-hal yang lain.

Kini aku sedang berlanjut ke belajar membuat aneka roti dan kue. Semoga berhasil!

 

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Inspirasi, Keluarga dan tag , , , , , , , , , , . Tandai permalink.