Dokter Keluarga


Beberapa waktu lalu kami sekeluarga pergi ke tempat makan. Begitu turun dari motor, pas nyantolin helm ke motor, kaki suamiku kena kenalpot panas. Untungnya cuma sedikit kebakar. Masuk tempat makan aku pesen lemon juice. Kata suami kalo gak ada jeruk nipisnya, gimana? Aku bilang ya gak pa-pa, airnya aja juga bisa (kalau aku pikir sekarang sebaiknya jangan, kan ada gulanya, itu dapat mengganggu proses penyembuhan kulit). Begitu datang, ternyata ada potongan jeruk nipisnya dijepit di gelas. Potongan jeruk nipis itu aku kasih ke suami, lalu beliau usap-usap ke lukanya. Ta-da… pertolongan pertama di rumah makan hehe

Di rumah lebih sering aku yang belanja dan masak. Dengan ilmu dari berbagai buku, aku masak dengan berbagai bahan baku yang mudah didapatkan di pasar dan menyehatkan. Sedikitpun aku tidak pakai bumbu instan atau pun mie instan yang mengandung berbagai eksitotoksin.

Aku suka mengingatkan suami dan anak-anak untuk minum air bening di pagi hari dan setiap selesai makan. Anak-anak di rumah tidak dibiasakan jajan, sehingga kalau lapar, ya mereka makan apa-apa yang aku sediakan. Termasuk aku ajak anak pertamaku ikutan masak kue atau bikin-bikin jus buah dan sayur. Aku berikan anak pertamaku suplemen sederhana seperti minyak ikan omega 3 dan vitamin C (ini lebih karena rasanya yang enak, sebenernya sih gak butuh-butuh amat minum vit. C tablet).

Ketika anak-anakku sakit aku coba sesuaikan masakannya. Misalnya anak bayiku yang tampak sakit tenggorokan sehingga nafsu makannya berkurang, aku banyak-banyak beri madu dan aku tambahkan kunyit bersamaan dengan makanan lain (protein dan buah). Kalau flu cukup potong-potong bawang merah dan disimpan dalam mangkok di kamar, atau kumur-kumur air garam (pas sakit tenggorokan), tambul bawang, dsb.

Sekarang aku sedang mengurangi konsumsi gula pada makanan untuk keluarga. Gula pasir (dan berbagai karbohidrat ‘proses’ seperti roti, dll) membuat perut cepet kenyang, tapi karena tubuh cepat membakarnya menjadi energi, sehingga jumlah gula dalam darah cepat menurun sehingga tubuh cepet merasa lapar lagi. Padahal, otak membutuhkan jumlah gula yang stabil sebagai stok energinya. Ketika jumlah gula dalam darah turun drastis, ini dapat menyebabkan depresi, anxiety, kelelahan, badan bergetar, sakit kepala, kurangnya konsentrasi, dan bahkan kejang-kejang[1]. Rasa lapar yang muncul setelah proses ini malah dapat mengurangi keinginan untuk makan makanan lain yang menyehatkan seperti sayuran dan buah karena pengennya makanan yang bergula lagi. Makanya ada istilah ‘sugar cravings’.

Bibi yang bekerja di rumah pernah memuji anak pertamaku (3 tahun) yang tidak suka jajan. Beliau lalu mengeluhkan cucunya yang ‘kurang doyan makan’, tapi doyan jajan (memangnya jajanan gak dimakan, ya?). Aku berusaha untuk memberikan penjelasan sederhana soal berkurangnya keinginan makan (makanan ‘berat’) anak karena jajan. Kata Bibi, “Tapi jajan-nya bukan yang bikin kenyang…”

Iya, ‘gak bikin kenyang’ téh kata Bibi…

Penting untuk stop kebiasaan jajan di dalam rumah (kecuali kalau ke rumah orang lain, suka dapet yang manis-manis dari tuan rumah—kalo ini mungkin rada susah nolaknya) karena apa yang masuk ke perut anak akan sangat berpengaruh pada perkembangan fisik, mental, dan emosionalnya. Anak butuh berbagai nutrisi dari makanan dan minuman ‘nyata’ (bukan bumbu instan, mie instan, minuman instan, dsb) sebagai bahan baku berbagai proses dalam tubuhnya untuk tumbuh dan berkembang.

Hati-hati juga dengan berbagai yang berbau ‘instan’, makanan proses/kemasan, ‘snack ringan’, dan permen karena pasti sudah dicampurkan berbagai bahan untuk memberikan rasa, warna, keharuman, dan—yang paling penting—pengawet untuk menjaga shelf life-nya. Dua bahan yang sering ditambahkan adalah pemanis buatan (aspartam) dan pemantap rasa (berbagai ‘glutamat’). Bahan-bahan ini disebut eksitotoksin; yaitu zat-zat yang menstimulus berlebihan neuron-neuron dalam otak . Ketika sel otak terpapar zat-zat ini mereka dapat bekerja terlalu cepat hingga mati ‘kelelahan’[2]. Bagi anak-anak, kita perlu berupaya mendukung agar lebih banyak sel yang tumbuh daripada yang rusak. Bisa jadi kelambanan tumbuh dan kembang anak salah satunya karena banyaknya konsumsi jajanan dan ‘instan-instan-an’ (masakan rumahan bisa termasuk) yang (pastinya) mengandung berbagai jenis eksitotoksin.

Terdapat juga makanan yang secara substansi tidak berbahaya, tapi bisa saja ada anggota keluarga yang alergi/sensitif dengannya (sekilas info, ‘alergi’ makanan dan ‘sensitif’ pada makanan tertentu itu beda, ya…). Dua bahan yang banyak orang alergi dengannya adalah susu sapi dan gluten (yang terdapat dalam tepung terigu, oats, dsb). Sejauh ini anak-anak atau suami tidak terlihat punya alergi, tapi setidaknya dengan ilmu aku akan bisa mendeteksi jika tanda-tandanya muncul dan membuat penyesuaian-penyesuaian.

Pagi-pagi aku ajak anak-anak ke pasar. Selain untuk belanja, kesempatan itu digunakan untuk memperluas wawasan dan untuk berolahraga (jalan kaki) dan mendapatkan sinar matahari pagi. Orang-orang yang kekurangan sinar matahari memiliki peluang lebih tinggi mengidap permasalahan tulang di kemudian hari (termasuk penyakit-penyakit lain). Jadi, kami anti pakai sunscreen atau menutup kulit dengan make up yang tebal dan berbagai jenis lotion kulit.

Karena kita tinggal di daerah perkotaan, terkena berbagai jenis toxin adalah kenyataan sehari-hari. Polusi udara, bahan kimia pada cat rumah, vaksin (anak pertamaku dapet 3x), produk sehari-hari, dsb pasti pernah kita ‘konsumsi’. Itu semakin meningkatkan pentingnya melakukan berbagai detoksifikasi seperti minum air bening, makan sayur-sayuran mentah (bisa juga dijus atau bikin semacam sop), minum air jeruk nipis, pakai koyo kaki, konsumsi berbagai jenis hal yang membantu detoks seperti gamat mas, dsb. Untuk satu ini rencananya ke depan ingin lebih banyak lagi program detoksnya.

Dan banyak-banyak-banyak hal lainnya.

Senangnya aku meluangkan waktu setiap hari untuk membaca berbagai buku, termasuk buku-buku kesehatan yang perspective-nya holistik/functional/integratif—melihat tubuh sebagai satu kesatuan, termasuk kebiasaan dan kondisi hidup seseorang. Ada berbagai pengobatan natural untuk berbagai jenis penyakit, termasuk kerabunan (rabun mata)—yang sekarang sedang proses aku jalankan (baca: http://www.janetgoodrichmethod.com/), dsb. Selain menyehatkan, tidak ada efek samping, juga hemat biaya. Dengan berbekal ilmu, aku tidak perlu ke dokter untuk setiap penyakit kecil yang kami alami. Bahkan, kami relatif jarang sakit. Alhamdulillah. Kalaupun anak-anakku jatuh sakit, aku anggap itu sebagai proses tubuh mereka belajar menguatkan diri dan dengan tenang aku dukung tubuh mereka menyembuhkan dirinya sendiri.

Salah satu pertimbangan mengapa aku ingin full time merawat keluarga adalah karena begitu banyak ilmu yang ada dan sulit untuk menjelaskan hal ini pada orang lain. Jika anak-anakku diurus orang lain, aku akan sangat tergantung pada orang lain dalam banyak hal, termasuk kesehatan. Bibi yang kerja di rumah saja pernah beberapa kali ‘menyelundupkan’ bumbu instan (‘sasa’, ‘masako’, dsb—“Ini mah bukan pecin, neng,” katanya) untuk masak, padahal aku sudah melarang. Bagaimana jika kau tidak ada di rumah?

Tujuan dari post ini adalah untuk menyampaikan penting dan kompleksnya soal kesehatan ini, dan orangtua—khususnya ibu—adalah ‘garda terdepan’ untuk melindungi keluarganya. Kita hanya bisa melindungi jika kita punya ilmunya. Ilmu ini akan datang bukan dengan menonton TV atau sedikit-sedikit browsing di internet, tapi dari kerajinan membaca dan mengamalkan. Adanya diskusi dan kerjasama dengan semua anggota keluarga, khususnya ayah, juga sangat penting.

Sejujurnya yang paling berat adalah merubah diri sendiri menjadi lebih baik. Sebelum menerapkan pada orang lain, aku perlu menerapkan pada diri sendiri dahulu dan memberikan teladan. Sejauh ini, justru teladan ini yang paling kuat berpengaruh bagi anak-anak. Masih jauh kami dari sempurna, tapi in shaa Allah masih terus berjuang meningkatkan diri.

Perjalanan ini masih jauh dari sempurna dan masih jauh dari beres. Selalu ada buku baru untuk dibaca, dan tidak akan pernah merasa cukup dengan ilmu. Kepada ibu-ibu khususnya, kita perlu terus belajar, karena kita adalah ‘Dokter Keluarga’ ;).

Lucu ya, mungkin nanti aku punya gelar Hanna Wilbur, D.K. heheh.. 😛


[1] Patricia A. Murphy, Treating Epilepsy Naturally: A Guide to Alternative and Adjunct Therapies, 2002, US, McGraw-Hill, hlm. 96.

[2]Ibid., hlm 101.

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Inspirasi, Keluarga, Kesehatan dan tag , , , , , . Tandai permalink.