Pentingnya Manual Pertolongan Pertama


Semua ibu pasti tidak ingin melihat anaknya kesakitan. Kita ingin melindungi para anggota keluarga kita sebaik mungkin. Tapi, hal-hal tak terduga bisa terjadi, misalnya anak tersedak makanan, tiba-tiba kejang-kejang, panas tinggi, atau keracunan produk. Alhamdulillah aku gak pernah ngerasain, tapi mungkin aku bakal panik dan teriak-teriak meminta tolong.

Nah, penting sekali kita untuk tahu ilmu tentang Pertolongan Pertama (PP—dulu namanya P3K, Pertolongan Pertama Pada Kecelakaan). Jarak antara rumah dan rumah sakit bisa jadi terlalu jauh, dan dengan penanganan yang tepat, kita bisa menjaga orang tersayang untuk selamat dari kecelakaan sambil menunggu hingga mendapatkan perawatan medis.

Waktu SMA aku pernah mengikuti Palang Merah Remaja (PMR), tapi lucunya aku sama sekali tidak terfikir betapa pentingnya pengalaman aku waktu itu untuk sehari-hari. Aku baru menyadari pentingnya PP justru setelah menemukan buku First Aid[1] di rumah dan lalu membacanya hingga khatam.

Apa Anda tahu apa yang perlu dilakukan ketika anak tersedak? Kejang-kejang? Terluka (misalnya main pisau)? Meminum obat nyamuk? Digigit ular?

Semoga tidak ada hal seburuk itu terjadi, tapi setidaknya kita berikhtiar untuk membekali diri dengan ilmu, agar ketika suatu saat ada yang butuh pertolongan, kita bisa langsung sigap memberikan penanganan yang tepat. Jadi, aku sangat merekomendasikan setiap ibu memiliki dan membaca buku tentang PP ini. Manual book ini cukup tipis dan berisi banyak ilustrasi gambar. Buku itu juga harus dibawa setiap kali bepergian jauh. Silahkan beli di toko buku terdekat, heheh.

Begitu sampai di RS dan korban sudah stabil, berikut ini pertanyaan-pertanyaan yang perlu kejelasan dari dokter Anda[2]:

  1. Apa diagnosisnya?
  2. Penanganan apa yang telah Anda lakukan?  Penanganan apa yang akan dilakukan selanjutnya?
  3. Bagaimana penanganan ini akan menangani penyebab _____[penyakitnya apa]?
  4. Kapan kira-kira kita akan melihat hasil dari treatment tersebut?
  5. Apa yang dapat saya lakukan untuk meningkatkan kesehatan saya (atau kesehatan anak saya)?
  6. Bahan bacaan apa yang dapat Anda rekomendasikan?
  7. Pilihan lain apa yang tersedia jika treatment yang Anda berikan tidak bekerja?
  8. Apakah Anda bersedia bekerja sama dengan tenaga kesehatan aternatif (nutrisionis atau herbalis, misalnya)?

Mungkin baiknya kita catat hal ini dan simpan dalam dompet untuk digunakan ketika perlu. Ini dapat saja menyelamatkan nyawa Anda dan orang-orang tersayang Anda.

PP Sakit Kepala…

Kebetulan postingan ini sedang membicarakan tentang pertolongan pertama, jadi sekalian aku ingin membahas pertolongan pertama pada sakit kepala heheh. Begini, kan kita sering melihat iklan obat pereda sakit kepala yang mengatakan bahwa produknya adalah ‘pertolongan pertama pada sakit kepala’. Permasalahannya, berbagai obat pereda nyeri kepala yang ada memiliki efek samping, membuat tubuh tidak seimbang, memperberat kinerja hati, dan hanya meredakan gejala, tidak menyelesaikan masalah. Dalam waktu yang tidak beberapa lama, sebenarnya kita akan sakit kepala lagi. Sakit kepala adalah salah satu cara tubuh untuk ‘mengeluh’. Kalau kita meminum obat pereda nyeri, kita hanya menyuruh tubuh untuk diam, tapi tidak menyelesaikan permasalahannya. Coba kita dengarkan tubuh kita, dan berupaya membantunya sebisa kita.  Ok, jadi berikut ini pertolongan pertama pada sakit kepala (karena judulnya juga ‘pertolongan pertama’, maka jika masih berlanjut, hubungi tenaga kesehatan yang Anda percaya):

1)      Tegakkan badan dan tarik nafas dalam-dalam beberapa kali. Sakit kepala bisa jadi salah satu alarm tubuh untuk menyampaikan bahwa kita kekurangan oksigen. Kekurangan oksigen ini bisa jadi karena postur tubuh (body posture) yang salah[3], misalnya keseringan membungkukkan badan (seperti ketika sedang mengetik). Atau karena stress. Stress menimbulkan ketegangan pada tubuh sehingga tanpa sadar membuat kita tidak bernafas dengan baik[4].

2)      Minum air bening. Lebih mantap lagi kalau kemudian minum air kelapa murni (jangan campur susu, gula, dsb, pokoknya air kelapa aja).

3)      Pikirkan makanan dan minuman (selain air bening) yang terakhir kali dikonsumsi. Siapa tahu Anda punya alergi/sensitifitas kepada makanan/minuman tertentu. Pikirkan makanan dengan bumbu-bumbu instan, minuman bersoda, makanan ringan dengan berbagai bahan sintetis, permen, dsb. Ingat dua racun besar yang ada di hampir semua bahan instan saat ini sedikit banyak berperan pada kerusakan sel otak: MSG[5] (‘keluarga’ glutamat) dan aspartam[6] (kata-kata ‘pemanis buatan’ pada label sudah cukup tanda bagi kita untuk menghentikan pengkonsumsiannya). Bahkan konsumsi gula pasir atau karbohidrat sederhana (roti, dsb) pun dapat menyebabkan sakit kepala bagi sebagian orang[7].

4)      Pikirkan produk-produk domestik atau perawatan pribadi apa yang terakhir kali Anda pakai. Siapa tahu juga masalahnya di sesuatu yang Anda hirup. Kalau terdeteksi, jauhkan diri untuk beberapa waktu dari hal itu, dan lebih bagus lagi kalau hentikan pemakaiannya.

Misalnya, aku doyan minum kopi. Aku punya ‘aturan’ untuk maksimal minum kopi 1 gelas sehari. But… karena aturan itu untuk dilanggar jadi kadang aku minum lebih banyak dari itu. Kalau aku minum lebih banyak, maka hukum karma masuk; aku pusing-pusing (hehe 😛 ). Pertama-tama aku menenangkan diri, menegakkan badan, tarik nafas dalam-dalam, lalu aku banyak-banyak minum air bening. Berikutnya aku bersabar hingga efek kopinya hilang xixixi...

Ini hanya tips, maksudnya agar tidak sedikit-sedikit minum obat kimia. Namun, tentu saja, jika permasalahan berlanjut, hubungi tenaga kesehatan yang Anda percaya.

Hmm… Kembali ke laptop—Yok, segera miliki dan baca buku manual Pertolongan Pertama :D.


[1]First Aid, 13th Edition, 1978, Toronto, The Canadian Red Cross Society.

[2] Patricia A. Murphy, Treating Epilepsy Naturally: A Guide to Alternative and Adjunct Therapies, 2002, US, McGraw-Hill, hlm. 277.

[3] Rene Cailliet, The Rejuvenation Strategy, 1987, New York, Doubleday & Company, hlm. 52.

[4] Patricia A. Murphy, Treating Epilepsy Naturally: A Guide to Alternative and Adjunct Therapies, 2002, US, McGraw-Hill, hlm. 10.

[5] Ibid., hlm. 103.

[6] Ibid., hlm. 104.

[7] Lebih lanjut tentang ini bagus juga baca buku tulisan Mark Hyman, The UltraMind Solution: Fix Your Broken Brain by Healing Your Body First, 2009, US, Scribner.

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Kesehatan dan tag , , , . Tandai permalink.

2 Balasan ke Pentingnya Manual Pertolongan Pertama

  1. mitawakal berkata:

    di rumah juga aja kotak p3k (namanya belum diganti soalnya produk lama), tapi gak pernah buka isinya wkwkwkw… sampai berdebu…

Komentar ditutup.