Pengalaman Toilet Training Anak Pertama


[Updated: 5 Juli 2013, 13:00]

Beberapa bulan sebelum anak pertamaku berusia 2 tahun aku panik. Waktu itu aku khawatir karena dia masih memakai popok. Aku begitu malu pada diri aku sendiri yang kurang baik merawatnya sehingga di usianya yang beberapa bulan lagi akan 2 tahun belum juga bisa ke WC. Waktu itu aku masih kuliah dan ketika jadwal begitu ‘padat’, aku melupakan kebutuhan anakku yang satu ini.

Ketika toilet training yang intens dimulai, aku sedang mengambil mata kuliah ‘seminar’ (semacam persiapan/latihan menghadapi skripsi, tapi belum skripsi). Saat itu untuk sementara aktifitasku di luar rumah aku pending, dan aku diam di rumah untuk membimbing anakku belajar ke WC.

Aku siap siaga terus mengingatkan anakku untuk pergi ke WC. Walaupun di rumah ada baby-pot (bekas dulu aku waktu kecil heheh), tapi aku tidak menggunakannya, aku langsung selalu mendudukkan anakku ke toilet WC. Ada sekitar 10 celana habis aku cuci dalam seharinya selama minggu pertama proses toilet training. Cukup stres juga, apalagi saat itu anakku belum bisa bicara, tapi aku berusaha tetap bertahan.

Pekan kedua beberapa kali aku sempat beraktifitas ke luar rumah, saat itu aku pakaikan popok pada anakku, tapi tetap aku terus mengingatkannya untuk pergi ke WC. Alhamdulillah hari demi hari anakku semakin mahir ke WC, beliau juga tidak ngompol di malam hari, walaupun beberapa kali ‘bocor’.

Ketika suatu hari anakku full bisa ke WC aku langsung sms Abi, meminta untuk membelikan hadiah sebagai apresiasi. Hari itu Abi pulang membawa mobil-mobilan kecil. Di waktu lain kami membelikan beberapa celana dalam baru sebagai hadiah ‘rajin ke WC’.

Pernah pada pekan ketiga atau keempat (lupa lagi) kami mengantarkan Abi bermain badminton bersama kakaknya. Karena sudah beberapa hari ke belakang ‘prestasi’ ke WC-nya bagus, jadi tidak aku pakaikan popok dan aku tidak membawa popok sama sekali (tapi bawa celana ganti).

Ternyata beres badminton, ketika shalat di masjid, anakku tidak kuat dan BAB di karpet masjid. Untunglah kakaknya Abi bawa tisu basah sehingga bisa kami bereskan, kami bawa beliau ke WC lalu kami pakaikan celana baru.

Pulangnya kami pergi ke mertua. Setelah tahu kejadian itu mertua lalu memarahi kami menyuruh agar lain kali memakaikan popok. Abi dan aku tersenyum, bersabar dengan respon mertua yang niatnya baik. Kami tetep keukeuh tidak ingin memakaikan popok. Lebar (sayang), sedikit lagi dia akan bisa full ke WC, karena sudah seminggu lebih lepas popok.

Alhamdulillah konsistensi kami terbayar, dalam waktu sekitar 1,5 bulan akhirnya anakku paham dan bisa menahan diri pipis/poop di WC sebelum ulang tahunnya yang ke-2, dan saat itu beliau masih belum lancar bicara (anak pertamaku baru bisa membuat kalimat setelah usia 2 tahun).

Berdasarkan pengalaman ini, semenjak hamil anak kedua, aku sudah merencanakan toilet training anak kedua. Kami menentukan agar anak kedua disunat usia 3 bulan, lalu mulai memperkenalkannya pada WC  usia 4 bulan. Semenjak 4 bulan aku menyanyikan kepada anakku, “Pee-poop in the bathroom…” setiap kali membawanya ke WC. Alhamdulillah beberapa kali dia pernah pee dan/atau poop di WC walaupun masih memakai popok. Kini anak keduaku sebentar lagi akan berusia 10 bulan (tanggal 16) dan aku berencana akan intens toilet training pada ulang tahunnya yang pertama. Semoga sebelum 1,5 tahun beliau bisa lepas popok sama sekali. Aamiin.

——————

Tulisan ini cuma sharing aja, ya… Kalau Bunda pengen tahu apa anak sudah siap ke WC berikut dengan tips cara-caranya, boleh baca:  7 Potty Training Tips.

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Inspirasi, Keluarga dan tag , , , , , . Tandai permalink.