Merah Biru Gula Putih


Your Blood Sugar is High but Your Salt Pepper Ketchup Mustard and Grated Cheese levels are fineDi awal bulan Ramadhan ini adalah momen yang tepat untuk menulis tentang bumbu kesukaan aku kita: gula! Bahan satu ini hampir selalu ada dalam berbagai makanan masa kini, khususnya makanan/minum yang telah diproses alias makanan/minuman kemasan. Kalau dulu gula adanya dalam masakan, jus, atau teh manis yang kita buat dan dalam bentuk yang relatif alami (hasil proses dari tebu), kini ada dalam berbagai jenis produk kemasan, telah diproses sedemikian rupa (sucrose), dan dalam jumlah yang semakin banyak. Gula bahkan dimasukkan ke dalam berbagai jenis obat-obatan tablet maupun sirup.

Di postingan yang sebelumnya berjudul ‘Biar Gak Gampang Sakit’ kita bahas soal pentingnya menjaga keseimbangan tubuh, dan terdapat berbagai hal yang kita konsumsi yang mengganggu keseimbangan tubuh. Nah, gula inilah salah satu pengganggu keseimbangan tubuh tersebut. Dengan mengurangi satu faktor ini saja, kita dapat meningkatkan imunitas tubuh berkali-kali lipat. Tapi, faktor ini juga termasuk yang sangat sulit dilepas.

Kini kita bahas sedikit serba-serbi gula, dan bagaimana ia mempengaruhi kehidupan kita, khususnya anak-anak! Bukankah jajanan anak-anak penuh dengan gula (termasuk obat-obatan dan suplemen anak)?

Semua makanan, apa pun jenisnya—karbohidrat, protein, lemak—akan diuraikan menjadi glukosa. Ketika kita terlalu banyak makan, sel-sel dalam tubuh tidak mampu menyerap kelebihan glukosa, ini yang menyebabkan kadar gula dalam darah meningkat. Kadar glukosa dalam darah dimonitor oleh sel-sel dalam pankreas yang menghasilkan insulin, hormon yang memindahkan glukosa dari luar ke dalam sel-sel agar tubuh dapat mengubahnya menjadi energi[1].

exercise dietKetika kita makan terlalu banyak (khususnya gula dan/atau karbohidrat proses), tidak berolahraga, dan tidak mampu mengendalikan stres, tubuh kita berubah. Pada awalnya kita memompa tambahan insulin untuk menjaga kadar gula darah agar seimbang. Tapi, kemudian sel-sel kita perlu memompa lebih banyak insulin untuk menjaga kadar gula dalam darah. Tubuh akan terus mengeluarkan insulin hingga keadaan menjadi tidak terkendali sehingga muncul kondisi resistensi insulin (insulin resistance)[2].

Dulu orang berfikir bahwa permasalahan insulin adalah diabetes, kini, kita tahu bahwa kebanyakan insulin menyebabkan berbagai permasalahan kesehatan lain. Berikut ini apa yang terjadi dalam tubuh jika terlalu banyak insulin[3]:

a)      Insulin adalah hormon pengatur untuk berbagai proses dalam tubuh; salah satunya lemak.

b)      Gangguan mood dan perilaku seperti depresi, panic attacks, anxiety, insomnia, dan ADHD (hiperaktifitas).

c)       Insulin meningkatkan rasa lapar—khususnya rasa lapar akan gula.

d)      Meningkatkan LDL (kolesterol ‘jahat’) dan menurunkan HDL (kolesterol ‘baik’), meningkatkan trigliserida (triglycerides), dan meningkatkan tekanan darah. Insulin resistance adalah penyebab 50% kasus darah tinggi yang tercatat.

e)      Ia membuat darah lengket dan lebih berpeluang untuk menggumpal, yang akhirnya menjadi penyebab serangan jantung dan stroke.

f)       Menstimulasi pertumbuhan sel-sel kanker.

g)      Meningkatkan inflamasi dan stres oxidatif, dan membuat otak cepat tua, membawa pada apa yang kini disebut diabetes tipe 3 (juga dikenal sebagai Alzheimer’s disease)

h)      Meningkatkan homocysteine karena pengkonsumsian gula mengurangi vitamin B6 dan folat. Ini mempersulit otak untuk berfungsi sehingga mengarah pada berbagai kerusakan otak.

i)        Menambah permasalahan pada hormon sex yang dapat menyebabkan kesulitan memiliki keturunan, pertumbuhan rambut pada bagian yang tidak diinginkan (seperti di wajah bagi wanita); kerontokan rambut pada bagian yang tidak diinginkan (kepala); jerawat pada wanita, tingkat testosteron rendah, rontoknya rambut dada, kaki, dan lengan, dan tumbuhnya payudara pada lelaki, dan banyak lagi.

The Spark That Ignites your diabetes weight gainSekarang kita lihat jika terdapat kadar gula berlebih dalam darah; glycosylation. Glycosylation terjadi ketika molekul-molekul gula (glukosa) yang sedang berenang-renang dalam darah kita menempel pada molekul protein, mengurangi efektifitas kerjanya, dan menyebabkan inflamasi. Ketika glukosa berlebih menempel pada molekul lain di luar sel, glukosa berlebih itu mengikat molekul itu dan mencegahnya dari melakukan pekerjaannya[4]. Wah, pantesan aja berlebihan mengkonsumsi gula begitu berbahaya.

Ada hal lain yang molekul gula berlebih lakukan: ia mengambil cadangan mineral chromium kita. Chromium itu penting dalam pemanfaatan glukosa dalam otot, menjadikan penting untuk fungsi otot yang baik. Chromium membantu dalam proses penyerapan glukosa dalam reseptor insulin, mempengaruhi fungsi limpa dan berbagai ‘isu’ gula lainnya. Chromium sendiri adalah mineral yang termasuk jarang dalam standar makanan modern kita. Efek gula yang ‘mencuri’ chromium yang memang sudah jarang adalah sebuah kekhawatiran besar di dunia dimana gula dimasukkan ke dalam hampir semua jenis makanan proses, dan dalam jumlah yang semakin banyak dibandingkan kemampuan tubuh kita untuk menerimanya. Khususnya bagi anak-anak, bahkan junk food yang ‘sedang-sedang’ saja cukup untuk memberikan efek jangka panjang[5]. Salah satu efek dari otot yang kurang berfungsi dengan baik adalah kerabunan pada mata, karena otot-otot mata tidak dapat bergerak dengan luwes untuk mengontrol fokus mata.

Apa yang kita makan, juga akan mempengaruhi ekosistem dalam perut kita. Terdapat berbagai jenis molekul yang dihasilkan oleh sekitar lima ratus spesies kuman yang bersarang di jalur pencernaan kita. Kuman-kuman ‘baik’ ini sibuk bersimbiosis mutualisme dengan kita. Kita memberi mereka tempat untuk hidup dalam pencernaan, dan mereka membantu mencerna makanan, membuat vitamin-vitamin penting (seperti vitamin K dan biotin), men-detoks racun, menghasilkan energi untuk sel-sel pencernaan kita (butyrate), mengatur metabolisme kolesterol, dan menjaga keseimbangan pH. Kuman-kuman ‘baik’ ini juga bersaing untuk mendapatkan real estate dengan kuman-kuman ‘jahat’—parasit, ragi, dan bakteri penghasil toxin. Kuman-kuman ‘jahat’ ini jadi berkuasa karena kita minum antibiotik atau tidak makan cukup makanan tanaman dengan banyak serat (yang disenangi kuman-kuman ‘baik) dan makan terlalu banyak gula (yang kuman-kuman ‘jahat’ suka). Lalu, seluruh ekosistem dalam perncernaan terganggu dan ini mengganggu berbagai proses tubuh lainnya[6].

Ketagihan akan makan-makanan bergula ternyata bukan hanya karena rasanya enak, tapi ada hal lain. Sebuah penelitian yang diterbitkan di American Journal of Clinical Nutrition menunjukkan bahwa gula dalam kadar tinggi dan makanan-makanan glisemik dapat bersifat aditif. David Ludwig, penulis Ending the Food Fight, dan rekan-rekannya di Harvard, dalam sebuah studi, menunjukkan bahwa makanan dengan lebih banyak gula, makanan yang dapat meningkatkan kadar gula dalam darah lebih daripada gula dapur seperti tepung putih, kentang putih, dan pati halus (refined starch), memiliki apa yang disebut indeks glisemik yang tinggi, menyalakan area khusus di otak yang bernama nucleus accumbens yang diketahui sebagai “ground zero” untuk berbagai jenis ketagihan konvensional seperti judi dan obat-obatan [7].

Nah, apakah kita mau kantin sekolah berjualan heroin? Ya enggak lah. Tapi, perusahaan-perusahaan makanan memproduksi dan menjual bebas berbagai produk makanan dengan berbagai bahan berbahaya di dalamnya, termasuk berbagai jenis gula (sucrose, fructose, HFCS). Pantas saja semakin banyak anak-anak ‘malas makan’, tapi lapar akan berbagai jajanan. Coba hentikan kebiasaan ini ketika anak-anak dan mereka akan menjadi orang-orang yang lebih mampu mengendalikan diri di masa dewasanya.

Gula dan Anak-anak

Tulisan ini masih jauh dari lengkap, tapi semoga bisa sedikit memberikan gambaran. Nah, kini bayangkan semua efek negatif ini terjadi sedikit demi sedikit tidak hanya di tubuh Anda, tapi juga tubuh anak-anak Anda.

Makan gula, khususnya dalam bentuknya yang relatif alami dan kadar yang sedikit tidak masalah. Masalah terjadi ketika kita memiliki kebiasaan mengkonsumsi berbagai makanan/minuman proses/instan dan tidak mengimbanginya dengan makan makanan bergizi seperti nasi, sayur, buah, protein, dsb. Bahkan ada orangtua lebih memilih memberikan bayi-nya bubur instan, susu bubuk, dan susu cair kemasan yang suda diberi gula. Bahkan pasta gigi anak-anak pun diberi gula. Tidak aneh jika kita banyak melihat anak-anak belum genap berusia 2 tahun sudah menderita keropos gigi!

Soal keropos gigi aku tadinya tidak terlalu memperhatikan. Aku baru sadar ketika ada seorang ibu di angkot yang memuji anakku (saat itu 2 tahun) yang ‘bagus giginya’. Memang, anakku selain tidak dibiasakan jajan, diberi makanan sealami mungkin, juga aku bersihkan giginya dengan air (tidak dengan pasta gigi jenis apa pun). Aku pikir mungkin itu cuma anak ibu itu saja yang keropos giginya, tapi ternyata ada juga anak-anak yang aku tahu baru 2 tahun sudah hitam-hitam giginya. Bukankah ini ironis, ketika mereka sedang melewati proses belajar menangkap informasi dan mengutarakannya kembali (bicara), mereka harus menderita sakit gigi?

1)      Sediakan makanan yang bergizi di rumah. Stop menyediakan jajanan kemasan. Kalau anak lapar, anak harus makan apa yang tersedia di rumah. Aku pribadi melakukan hal ini, dan alhamdulillah anak-anak mendapatkan jajanan-tidak-sehatnya dari orang lain heheh… (kalau orang lain yang tawarin rada susah nolaknya, tapi karena anak-anak lebih sering ada di rumah, maka ini jarang)

  • Sebarkan informasi ini juga kepada orang lain di sekitar Anda, jadi Anda bisa bersama-sama menjaga makanan anak-anak Anda (dan tidak perlu khawatir ‘gak enak nolak’ lagi).

2)      Pilihlah pemanis alami. Madu bisa menjadi pilihan yang baik (walaupun memang harganya juga ‘ok’)—ingat pilih madu sealami mungkin. Contoh lain, kalau membuat sop buah, bisa gunakan air jeruk sebagai pemanisnya. Kalau mau menggunakan gula, upayakan gula yang tidak terlalu banyak melalui berbagai proses, pilih gula pasir yang berwarna kuning lengket, gula merah, dsb, misalnya.

3)      Olahraga rutin. Dukung anak-anak melakukan aktifitas yang melibatkan fisik, seperti lari-lari kesana kemari (justru banyak orangtua suka terganggu dengan kelakuan anak seperti ini, tapi percaya deh, ini mendukung kesehatannya), dsb. Banyak ya, permainan tradisional yang bagus. Jika Anda masih mengingat berbagai permainan seperti sapintrong, bancakan, dsb, ajarkan dan mainlah bersama anak-anak Anda.

4)      Ada tips lain? Tulis di box komen di bawah, ya :D.

Ada hal lain yang perlu diperhatikan; Jangan salah, jangan terkecoh dengan tulisan “Sugar Free”. Kebanyakan produk yang berlabelkan itu setelah aku cek daftar bahannya bertuliskan aspartame, sucralose, dsb—pemanis buatan. Ibarat diberikan pilihan ‘buruk’ dan ‘lebih buruk’, maka memilih pemanis buatan masuk ke kategori ‘lebih buruk’—jangan makan!

[update: 18 Juli 2013] Ternyata sel kanker doyan gula proses. Baca: New MRI Research Reveals Cancer Cells Thrive On Processed Sugar.


[1] Disarikan dari YOU Staying Young: The Owner’s Manual for Extending Your Warranty, Michael F. Rozen and Mehmet C. Oz, 2007, New York, Free Press, hlm. 146.

[2] Mark Hyman, The UltraMind Solution: Fix Your Broken Brain by Healing Your Body First, 2009, New York, Scribner, hlm. 151.

[3] Ibid., hlm. 153-154.

[4] Michael F. Rozen and Mehmet C. Oz, You Staying Young: The Owner’s Manual for Extending Your Warranty, 2007, New York, Free Press, hlm. 138.

[5] Carina Goodrich, Why Change to Other Sweeteners for Good Eyesight?, 19 Juni 2007, http://www.janetgoodrichmethod.com/2007/01/19/white-sugar-and-your-eyesight/.

[6] Mark Hyman, The UltraMind Solution: Fix Your Broken Brain by Healing Your Body First, 2009, New York, Scribner, hlm. 204.

[7] Mark Hyman, 5 Clues You are Addicted to Sugar, 27 Juni 2013, http://drhyman.com/blog/2013/06/27/5-clues-you-are-addicted-to-sugar/, diakses 1 Juli 2013.

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesehatan dan tag , , , , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Merah Biru Gula Putih

  1. Ping balik: Page View 11-07-2013 sampai 18 -07-2013 | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.