Homeschool dan Belajar


HS Ideas 4 Sept 13 (7)

Bekas rol tisu di rumah banyak banget, selain dijadikan mainan Azmy (ceuk Azmy mah “bahan bangunan” karena suka ditumpuk-tumpuk untuk membuat ‘bangunan’), juga aku tempeli huruf alfabet dan angka-angka (print dan gunting sendiri).
Dari rol-rol ini, banyak kegiatan yang bisa dilakukan ;).

Ketika pertama kali aku mendengar gagasan homeschool, aku benar-benar susah membayangkan prakteknya di kehidupan nyata. Bagaimana memindahkan ‘sekolah’ ke ‘rumah’? Walaupun gitu, aku tetap membuka pikiran dan membahasnya dengan suami. Ide baru apa pun welcome di rumah kami terlepas kami akan mempraktekkannya atau tidak.

Setelah lama aku sadar bahwa yang menyebabkan aku begitu sulit membayangkan homeschool adalah karena aku masih berfikir bahwa ‘belajar di sekolah’ adalah proses guru masuk, ada papan tulis, ada murid-murid duduk di depan guru yang sedang mengajar, dsb. Proses mekanistis seperti inilah yang memunculkan pertanyaan-pertanyaan awal kami (aku dan suami) seperti, “Kalau anak tidak mau mendengarkan kami, gimana?” dan “Kalau anak tidak mau belajar gimana?”

HS Ideas 4 Sept 13 (5)

Ini termasuk yang pertama aku bikin untuk mendukung Azmy belajar (akhir 2011 lalu). Semua aku ketik sendiri, print sendiri, gunting-gunting sendiri, dan tempel sendiri. Plastik pembungkusnya juga tadinya bekas pembungkus apa gitu, ya? Pokoknya aku manfaatin lagi untuk membuat ini .

Kalau aku pikir sekarang, itu adalah pertanyaan-pertanyaan tidak masuk akal, karena semua anak suka belajar. Dari bayi setiap anak adalah pembelajar alami, dan naluri itu terus ada pada anak-anak (walaupun relatif berhenti setelah beberapa tahun sekolah). Memang anak tidak semua belajar dengan cara yang kita inginkan. Malah, setiap anak belajar dengan cara-cara yang berbeda, meskipun mereka hanya terlihat seperti sedang main-main. Jadi, pada awalnya, bayangan kami tentang ‘belajar’ adalah yang menghambat kami dari memahami homeschool.

04092012391

Usia 2,5 thn Azmy setiap ditanya nama hari selalu menjawab “Minggu.” Akhirnya aku memutuskan untuk mengajarinya nama-nama hari.
Ini aku bikin dengan modal cukup Rp 6000; karton 4 lembar, ring, dan jilid ring (semua dilakukan oleh Bapak Pemilik Tempat Foto Copy), dan nge-print nama-nama hari dan gunting sendiri di rumah.
Setiap pagi ketika bangun kita bilang ke Azmy hari itu hari apa sambil membuka ‘kalender hari’ ini .
Tadinya mau pakai font yang ‘unyu-unyu’, tapi setelah dipikir-pikir, karena ini juga bisa untuk Azmy belajar nulis, kayaknya lebih bagus pakai font standar, supaya dia bisa juga belajar menulis huruf baku.

Sebelum aku melanjutkan, ada baiknya kita intip definisi homeschooling dari Isabel Shaw di familyeducation.com, yang menurut aku paling cocok dengan apa yang kita bahas sekarang:

Homeschooling means learning outside of the public or private school environment. The word “home” is not really accurate, and neither is “school.” For most families, their “schooling” involves being out and about each day, learning from the rich resources available in their community, environment, and through interactions with other families who homeschool.

Essentially, homeschooling involves a commitment by a parent or guardian to oversees their child or teen’s educational development. There are almost two million homeschoolers in this country.

(Homeschooling artinya belajar di luar lingkungan sekolah negeri atau swasta [lembaga sekolah]. Kata ‘home’ [rumah] sebenarnya tidak akurat, dan juga ‘school’. Untuk kebanyakan keluarga, ‘sekolah’ mereka adalah berada di luar dan berkeliling-keliling setiap hari, belajar dari aneka sumber yang tersedia dalam komunitas dan lingkungan mereka, dan melalui interaksi dengan keluarga-keluarga lain yang homeschool juga. Intinya, homeschool adalah komitmen dari orang tua atau wali untuk mengawasi perkembangan pendidikan anak atau remaja mereka. Terdapat hampir dua juta homeschoolers di negara ini [Amerika Serikat].)

Melihat kedua anakku tumbuh aku sadar bahwa anak-anak benar-benar pembelajar alami. Aku sering mendengar dan membaca ‘teori’ ini, tapi melihatnya langsung terjadi di depan mata benar-benar menakjubkan. Tidak ada kata ‘malas belajar’. Aku jadi sadar bahwa seorang anak sekolah diberi cap ‘malas belajar’ karena mereka tidak masuk definisi kita, atau tidak (belum) mencapai standar yang kita tetapkan.

Ketika kita melepaskan keinginan untuk ‘berprestasi’ (bersaing), mencari nilai, mendapatkan pengakuan orang, dan membiarkan diri belajar untuk meningkatkan kualitas hidup dan mencari keridhaan Allah, maka dunia ini adalah tempat belajar yang optimal.

Pekan lalu aku membawa anak-anakku bermain ke kebun (aku melakukan ini secara berkala). Di sana anak belajar jenis-jenis tumbuhan, buah, proses biji, manfaat (kesehatan, pengobatan), belajar tentang warna, berhitung, dan bahkan kebijaksanaan tentang kesabaran melihat apa yang kita tanam untuk tumbuh dan berkembang. Kami juga menanam beberapa tanaman di depan rumah, dan aku memberi Azmy kesempatan untuk ‘kotor-kotoran’ di situ; menyebutkan nama-nama tanaman, buah yang muncul, bahkan bisa jadi khasiatnya (‘kalau susah poop, bisa makan pepaya…’, misal). Baca juga.

Alhamdulillah kami juga memelihara beberapa hewan (dan rencananya untuk ke depannya bakal bertambah), yang sengaja kami pelihara untuk tujuan pendidikan anak. Untuk saat ini masih aku yang bertanggung jawab penuh merawatnya, anak-anak hanya melihat, tapi ke depannya kami akan memberikan kesempatan anak untuk memilih hewan peliharaannya dan bertanggung jawab merawatnya.

Banyak hal yang bisa kita lakukan di rumah, seperti membuat jus, memasak, hasta karya, membuat papan permainan sendiri, origami, dst. Di rumah ada banyak buku-buku anak punya-ku dulu waktu masih kecil, dan kami terus menambah koleksi. Karena pada dasarnya aku senang membaca, jadi anak-anak pun tanpa dipaksa senang membuka-buka buku dan menanyakan apa isinya. Ini adalah langkah pertama belajar membaca. Langkah pertama belajar membaca bukanlah alfabet, tapi ‘menumbuhkan keinginan membaca’. Ini akan lebih mudah kalau kita sendiri sebagai orangtua memberikan teladan senang membaca.

Ini salah satu buku yang baru aku beli tentang origami. Ada banyak contoh buku aktifitas lain yang bisa kita manfaatkan.

Sambil kami beraktifitas, tidaklupa aku menyalakan murottal juz ‘amma di laptop agar anak lebih mudah menghafalkan al-Quran.

Anak pertamaku masih 3 tahun, jadi mungkin ada hal-hal yang belum bisa dilakukan, tapi dengan berjalannya waktu kami bisa mengumpulkan berbagai permainan papan untuk dimainkan bersama. Permainan simpel seperti congklak, monopoli, catur, scrabble, adalah cara belajar (ditambah banyaknya permainan tradisional dimana kita bisa berlari kesana-kemari bisa kita lakukan). Saat ini aku punya papan permainan buatan sepupu ayah dimana anak bisa belajar pertambahan, pengurangan, perkalian, bahkan hingga peluang (kita bisa pilih tingkat kerumitannya), ini bisa dimainkan ketika anak siap.

Anak butuh pengalaman terjun langsung dengan berbagai hal (jika memungkinkan), mereka butuh diberi kesempatan menguji coba dan mengotak-atik benda-benda dan lingkungan. Pengalaman mengotak-atik di masa kecil inilah yang menjadi pondasi kuat mereka ke depannya.

Bagaimana jika ke depannya anak ingin belajar hal-hal yang belum kami tahu seperti alat musik tertentu, bahasa asing, atau elektronika, misalnya? Ya kami tinggal memfasilitasi dengan mencarikan guru atau institusi yang bisa membimbing anak menguasainya. Bahkan untuk hal-hal seperti ujian kelulusan tingkat (Paket) atau Ujian Cambridge, apabila ada bagian yang belum kami bisa, kami bisa belajar bersama dan mencarikan guru/institusi yang bisa membantu. Peluangnya sangat luas, tidak terbatas oleh empat tembok dan secarik kertas.

Lebih jauh aku mendapatkan ‘pendahuluan homeschool’ yang bagus dari buku Ibuku Guruku. Berikut ini kutipan yang aku suka dari buku itu:

Mengasuh anak sambil mengajar mereka di rumah … memberi saya kesempatan untuk mengembangkan diri dengan cara-cara yang tak pernah terbayangkan sebelumnya. Dalam budaya Barat, terbebas dari tanggung jawab mengasuh anak seringkali dipandang sebagai cara terbaik dan satu-satunya cara bagi seorang ibu untuk mengembangkan diri. Saya tidak setuju sama sekali dengan pandangan seperti itu. Waktu yang saya habiskan di rumah, bermain, dan belajar bersama anak-anak adalah masa paling produktif dalam hidup saya. Saya serius! (hlm. 26)

Di buku itu ada berbagai pengalaman homeschool keempat anak Marty (penulisnya), anaknya yang bungsu lahir tahun 1985 (itu buku terjemahan buku aslinya edisi tahun 2000). Buku itu bukan hanya untuk orang yang berniat homeschool, tapi bagi yang ingin membuka wawasannya tentang parenting dan anak-anak. Berikut ini kutipan yang aku suka dari sinopsisnya:

Dalam buku ini Marty Layne membagikan pengalamannya mengajar sendiri keempat anaknya di rumah selama dua puluh tahun. Karena ditulis berdasarkan pengalaman, akan Anda temukan di dalamnya banyak kearifan dan wawasan yang membukakan mata. Pengamatannya yang tajam tentang cara anak belajar membuat upaya mencari ilmu terjalin erat dengan pengasuhan anak sehari-hari. Ketika dia bercerita tentang hidup sebagai kurikulum, misalnya, kita mendapatkan contoh bagaimana sebuah kegiatan sederhana semacam membuat salad bisa mencakup mata pelajaran biologi, sosiologi, psikologi, geografi, kimia, seni, bahasa, dan meteorologi sekaligus.

Buku ini tidak dimaksudkan sebagai satu-satunya cara untuk menjalankan program bersekolah di rumah, atau menganjurkan Anda untuk mengeluarkan anak dari sekolah dan mendidiknya sendiri di rumah. Akan tetapi, membacanya dapat membangkitkan perhatian kita tentang bagaimana anak belajar dan apa yang bisa dilakukan untuk membuatnya gembira menyerap pengetahuan baru setiap hari.

Hanya karena kami mempertimbangkan homeschool tidak berarti kami menganggap buruk institusi sekolah. Setiap orang punya kondisi dan pilihannya masing-masing. Aku dan suami tidak segan-segan menyekolahkan anak apabila suatu saat kami merasa sesuai dan anak memilih untuk itu. Sekali lagi, ada banyak peluang yang ada, dan tujuan utamanya adalah memfasilitasi kebutuhan pendidikan anak sebaik mungkin.

————————————–

Artikel Lain:

When an Adult Took Standardized Tests Forced On Kids

 

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Homeschool, Keluarga dan tag , , , , . Tandai permalink.

4 Balasan ke Homeschool dan Belajar

  1. cinderellazty berkata:

    mbak/teh hanna, saya minat sm buku yg merah itu yg ibuku guruku, gimana caranya?

  2. Ping balik: Jangan [Sekedar] Hafal Rumus! | Punya Hanna Wilbur

  3. Ping balik: Belajar Berhitung Asyik dengan ‘Sarang Lebah’ | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.