Why Your Child is Hyperactive? – Dr. Feingold (Buku)


Penulis                 : Ben F. Feingold, M.D.

Penerbit/Kota   : Random House/ New York

Tahun Terbit      : 1975

Jmlh Halaman    : 220

Di Amerika Serikat, semakin banyak anak dinyatakan hiperaktif dan diberikan obat-obat ‘pengendali prilaku’ untuk mengendalikan ‘permasalahan’ mereka, dan jumlahnya terus bertambah setiap tahunnya. Saat ini hiperaktifitas lebih dikenal dengan ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) . Berikut ini penjelasan ADHD dari Wikipedia Bahasa Indonesia:

ADHD (Attention Deficit Hyperactivity Disorder) adalah gangguan perkembangan dalam peningkatan aktivitas motorik anak-anak hingga menyebabkan aktivitas anak-anak yang tidak lazim dan cenderung berlebihan. Hal ini ditandai dengan berbagai keluhan perasaan gelisah, tidak bisa diam, tidak bisa duduk dengan tenang, dan selalu meninggalkan keadaan yang tetap seperti sedang duduk, atau sedang berdiri. Beberapa kriteria yang lain sering digunakan adalah suka meletup-letup, aktivitas berlebihan, dan suka membuat keributan.

Sumber

Hmm… terdengar seperti anak normal : ).

Leon Eisenberg, ‘Bapak’ ADHD, sebelum meninggal mengakui bahwa ADHD adalah ‘penyakit fiktif’. Tapi, kenapa semakin banyak anak di-diagnosa dengan ‘penyakit’ ini?

Buku “Why Your Child is Hyperactive?” ini sudah lama duduk di rak buku orangtuaku sebelum akhirnya aku membacanya hingga tamat ketika sedang hamil anak kedua. Isinya benar-benar mindblowing dan anehnya buku seperti ini tidak terlalu menjadi perhatian, dibandingkan buku-buku tentang pharmacy drugs.

Ben F. Feingold adalah seorang medical doctor yang berpengalaman menangani anak-anak yang hiperaktif. Dia berargumen bahwa ‘hiperaktifitas’ bukanlah penyakit, tapi sekedar respon tubuh terhadap makanan dan minuman sintetis yang ada (dan kekurangan nutrisi). Lucunya, buku ini terbit tahun 1975, dan bahan sintetis pada makanan-minuman saat itu saja (di Amerika) cukup untuk meningkatkan permasalahan hiperaktifitas, bagaimana dengan kondisi saat ini dimana bahan sintetis dimasukkan ke dalam semua makanan kemasan? Pantas saja jumlah anak-anak yang dinyatakan hiperaktif selalu meningkat tiap tahunnya. Plus, kita juga tidak bisa mengesampingkan penilaian subjektif dokter juga bisa memasukkan anak yang tidak hiperaktif, hanya penuh semangat, ke dalam golongan hiperaktif dan dianggap perlu ‘dikendalikan’.

Isu ini tidak bisa dianggap remeh, karena ada sebuah artikel yang menyatakan bahwa kesamaan di antara semua penembakan massal di AS adalah… tebak: semuanya mengkonsumsi obat-obatan pengendali prilaku dan/atau sejenis anti-depressan. Hmmm…

Di Indonesia isu hiperaktif ini belum marak, tapi jika kita berkiblat pada AS, maka kemungkinan besar, obat-obatan psikotropika yang dipakai untuk menangani anak-anak di sana bisa jadi suatu saat akan dijadikan solusi di sekolah-sekolah kita. Bentengi diri Anda dengan membaca buku ini.

 

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesehatan, Recommended Books dan tag , , , , , . Tandai permalink.