Review, Komen, dan Opini Buku “Anakku Sehat Tanpa Dokter”


azmy sehat--18 Okt 2013

Anak pertamaku. Kelahiran 2010.

Ketika pertama kali mendapat info tentang buku ini aku langsung penasaran. Judulnya saja sudah asyik begitu, ‘Anakku Sehat Tanpa Dokter’, gue banget lah haha… Semenjak anak keduaku lahir tidak pernah diberikan obat kimia ataupun dibawa ke dokter, jadi ungkapan ‘sehat tanpa dokter’ bukan sebuah impian yang mengawang-ngawang, tapi sesuatu yang mungkin untuk dicapai. Dalam hal ini, aku setuju sekali dengan sang penulis, Mbak Sugi Hartati.

Buku ini pun aku pesan melalui toko buku on-line, aku terima malam hari, dan keesokkan harinya langsung selesai aku baca. Membaca buku itu membuat aku tersenyum-senyum sendiri, khususnya pada bagian budaya ‘berburu dokter’. Anak pertamaku pernah beberapa kali ke dokter tapi aku tidak pernah se-‘fanatik’ itu sama dokter. Tapi aku tidak bisa sombong, mungkin karena aku tidak tumbuh di lingkungan yang ketergantungan pada dokter, kalau aku tumbuh di lingkungan yang berlari ke dokter begitu anak batuk sedikit mungkin aku akan sama saja seperti itu.

Bagian awal buku ini menceritakan pola yang tertanam dalam benak orang-orang, khususnya para ibu di perkotaan, ketika sakit bagaimana caranya agar anaknya sembuh secepat mungkin dengan langsung membawanya ke dokter. Tidak jarang orangtua akan berpindah dari satu dokter ke dokter lain demi melihat anaknya segera sembuh (hlm 5). Setelah jatuh sakit sepertinya hanya melalui tangan dokter-lah anaknya akan sembuh.

Tanpa disadari seorang ibu bukannya bertanya, mengapa anak sering sakit? Tapi pasrah begitu saja dengan pemberian dokter, hal ini menimbulkan ketergantungan yang berlebihan, bahkan untuk penyakit sederhana sekalipun. Mbak Sugi menjelaskan sebab-sebab sederhana mengapa anak sering sakit. Seringkali penyebab sakit anak adalah orangtua sendiri, dengan terlalu mudah memberikan obat kimia, misalnya (hlm 12). Jangan salahkan dokter jika ibu tidak memperhatikan makanan dan minuman yang dikonsumsi anak, apakah bergizi? Apakah anak alergi terhadapnya? Dan seterusnya.

Di Bab II Mbak Sugi memberikan alasan-alasan agar jangan ketergantungan pada dokter. Sedikit pun dari awal penulis tidak mengajak orang untuk tidak mempercayai dokter (halaman xiii) atau menganggap buruk profesi kedokteran, namun kita pun sebagai pasien memiliki hak untuk tahu hal-hal berkaitan dengan penyakit yang diderita (halaman 24). Biaya dokter mahal (diikuti dengan kesibukan yang luar biasa sehingga tidak ada waktu untuk menggali detail tentang masing-masing pasiennya), ilmu kedokteran yang tidak sempurna (hlm 27), meminimalkan resiko salah obat, menghindari menjadi objek eksperimen, menjadi dekat dengan buah hati, dsb adalah di antara berbagai alasan untuk tidak ketergantungan pada dokter.

Terdapat banyak hal sederhana yang bisa kita, para ibu, lakukan ketika anak sakit. Berfikir cerdas, ubahlah paradigma ‘orang sakit memerlukan obat’ (hlm 43), jangan takut repot, dan bersikap kritis terhadap obat adalah di antara pesan yang disampaikan penulis di Bab III. Mencegah tetap lebih baik. Di sini penulis menjabarkan hal-hal sehari-hari yang bisa kita lakukan bagi kesehatan keluarga.

Di bab-bab selanjutnya kita membaca berbagai mitos yang membuat sakit dan mengenali gejala sebelum jatuh sakit. Setelah mengidentifikasi gejala, terdapat hal-hal sederhana yang bisa dilakukan seperti memakan makanan tertentu dan memberikan akupresur untuk melegakan sakit (hlm 149). Pada bagian ini aku sedikit kaget karena tanpa sadar suamiku sering memberikan ‘akupresur’ pada anak-anak semenjak bayi, khususnya ketika kembung. Biasanya usia beberapa hari atau beberapa minggu bayi mengalami kembung karena adaptasi pencernaan di luar kandungan, suami cukup memijat perutnya, tepat seperti yang dijelaskan dalam buku ini. Alhamdulillah dengan kesabaran, anak pun akan lebih lega perutnya. Aku juga belajar cara-cara akupresur lainnya yang bisa aku lakuin di rumah.

Di sini kita juga mendapat berbagai resep jus sebagai food therapy. Bebas aja sih, tapi apa yang dijelaskan di buku ini bisa menjadi panduan awal untuk yang belum terfikirkan untuk membuat jus bagi gejala penyakit tertentu yang sedang diderita anak. Bahkan resep-resep di buku ini bisa untuk diminum sehari-hari. Kalau anak dibiasakan membuat jus, akan lebih mudah ia mendapatkan asupan vitamin-mineral kalau sedang ‘malas makan’. Ada juga resep-resep makanan penunjang yang aku pribadi mau ‘simpan’, seperti air tajin, bubur tepung, dsb yang mudah dibuat ketika anak menderita penyakit-penyakit sederhana seperti diare, dsb.

Di akhir buku Mbak Sugi memberikan rumusnya yang disingkat E-DO-T. Apa tuh? Baca aja sendiri di bukunya, ya. Yang pasti aku cukup puas membaca buku ini. Info di dalamnya cukup sebagai awalan bagi ibu-ibu yang mau beralih mengambil alih tanggung jawab kesehatannya dari dokter menjadi ke tangannya (loh, bukannya memang ini tanggung jawab kita masing-masing?) ;).

Mungkin ada beberapa hal yang ingin aku tambahkan. Dalam buku disinggung bahwa susu adalah zat non-asam ( hlm 133). Maaf, tanpa mengurangi isi informasi, Cuma ingin memperbaiki bahwa susu itu bersifat asam (mungkin salah ketik, ya?). Dan, bagusnya disinggung bahwa banyak anak-anak (dan dewasa) yang alergi susu, bisa diganti asupan kalsiumnya dari sayuran hijau seperti brokoli. Jika ingin minum susu, pilihlah susu se-murni mungkin. Susu bubuk, susu cair proses, dsb mengurangi kandungan dan strukturnya. Masukan yang kedua, dalam buku sering disebutkan menambahkan gula dalam berbagai resep untuk anak, nah bagusnya gula diganti dengan madu murni. Selain enak, ada tambahan khasiat ekstra ;). Terakhir, penulis menyinggung fluoride untuk kesehatan anak (hlm 141). Bagusnya bagian ini dihilangkan ^_^.

Secara garis besar aku bersyukur membaca buku ini. Tulisan yang bagus berisi tips-tips real yang langsung bisa diterapkan. Yuk, kita jaga tanggung jawab kita menjaga kesehatan keluarga, dan jadikan anak (dan seluruh anggota keluarga lainnya) sehat tanpa dokter.

Judul Buku : Anakku Sehat Tanpa Dokter [Non-Fiksi]
Penulis : Sugi Hartati SPsi
Penerbit : Stiletto Book
Jumlah Halaman : 196
Cetakan Pertama : April 2013
ISBN : 978-602-7572-14-0

Harga: Rp 30.000-40.000 (tergantung beli dimana ^^’)

—————

Alhamdulillah tulisan ini jadi pemenang ketiga Book Review Contest. Informasi lebih jelas dapat dilihat DI SINI.

—————

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Kesehatan, Lomba, Recommended Books dan tag , , , , . Tandai permalink.

3 Balasan ke Review, Komen, dan Opini Buku “Anakku Sehat Tanpa Dokter”

  1. Bunda sugi berkata:

    Bagus sekali reviewnya mbak. Super lengkap. Terimakasih atasnya, termasuk masukkannya. Jika nanti memungkinkan untuk cetak lagi, saya akan mempertimbangkan ini sebgai revisi. Good luck, semoga anak-anak dan keluarga sehat.

    • punyahannawilbur berkata:

      Wah, penulisnya langsung yang komen. Jadi malu saya. Makasih mau berkunjung ke sini :D. Iya, tujuan sy bikin post ini maksudnya supaya siapa pun yang baca post ini bisa mendapat sekilas ilmu tentang ‘perubahan paradigma’ menjaga kesehatan ^_^.

  2. Ping balik: Kenyataan Mengenai Obat-obatan (Drugs) | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.