Keberhasilan Datang dari Kegagalan


A little girl in Mongolia shares a laugh with her camel

Senangnya jika bisa tersenyum puas seperti ini, apapun yang terjadi :).

Suatu hari di motor aku bercerita pada suami kalau di hari lain aku sempat salah jalan. Aku pergi ke sebuah lokasi yang ditunjukkan oleh adikku. Walaupun sudah berusaha mengikuti petunjuk, namun ternyata aku masuk ke jalan yang berbeda dengan yang dimaksud adikku. Setelah menelusuri jalan dan bertanya kesana kemari, ternyata aku menemukan jalan lain yang membawaku pada tujuan.

Aku pun menutup kisahku dengan mengatakan, “Dalam kehidupan nyata, kegagalan membuka peluang baru.” (ciee…)

Tentu saja itu adalah kegagalan yang muncul bukan karena kegegabahan, karena sebelumnya aku telah berikhtiar ‘belajar’ terlebih dahulu dengan menanyakan jalan kepada adik. Semua yang terfikirkan sudah dilakukan. Tapi, beruntung, ‘kesalahan’ menunjuki aku jalur lain, agar aku tahu bahwa ada jalan-jalan lain menuju tujuan, selain dari yang diberi tahu oleh adikku. Kalau aku tidak salah jalan, mungkin aku tidak akan berupaya menemukan jalan-jalan lain.

Ngomong-ngomong soal kegagalan, aku membaca ringkasan kisah Henry Ford dari buku Midas Touch. Bagian yang sangat menyentuh aku muncul di kalimat berikut ini:

Dia kerap gagal dan, karena dia selalu menyukai ungkapan-ungkapan terkenal, dia menyebut kegagalan sebagai “peluang untuk memulai lagi—secara lebih cerdas”.[1]

Hmm… Aku suka itu… Peluang untuk memulai lagi secara lebih cerdas.

Aku salah satu fans Robert Kiyosaki. Pernah aku mendownload beberapa audio seminarnya, dan ada salah satu kisahnya yang bagus tentang kegagalan. Awalnya dia menceritakan tentang berbagai kegagalan yang akan terjadi dalam upaya berwiraswasta—kehilangan uang. Dia bilang bahwa ketika kita menyerah, maka uang yang telah kita keluarkan akan hilang begitu saja. Namun, jika kita belajar dari kesalahan kita dan memperbaiki diri, maka kerugian yang kita alami akan berubah menjadi investasi pendidikan.

Bayangkan, orang bayar mahal untuk sekolah dan mendapatkan ‘ilmu’. Maka, proses yang terjadi ketika berwiraswasta pun sama. Kegagalan yang kita alami anggap saja sebagai ‘modal’ untuk mendapatkan ilmu dan kebijaksanaan yang berharga untuk mengembangkan usaha (dan hidup) kita.

Dari buku Midas Touch lagi; ‘Keberhasilan datang dari kegagalan, bukan dari menghafal jawaban-jawaban yang benar’ (halaman 20).

Ilustrasi sederhana kata-kata ini adalah seperti misalnya ketika kita sedang merakit suatu barang. Sebuah buku manual terbuka di hadapan kita sambil kita merakit, namun dalam upaya tersebut apakah kita langsung berhasil merakit benda tersebut dengan sempurna? Seringkali orang melalui trial and eror dahulu sebelum akhirnya barang berhasil terpasang. Apakah jika kita salah dalam beberapa kali pasang kita adalah orang yang bodoh? Ya—baru beberapa kali berupaya dan belum berhasil kita langsung menyerah, menutup buku manualnya, lalu tidak mau berupaya lagi, sampai kapanpun kita tidak akan tahu cara memasang barang tersebut.

Di sekolah, melakukan kesalahan itu jelek. Murid-murid yang membuat kesalahan paling sedikit disebut ‘pintar’. Ini sebenarnya yang mengkondisikan kebanyakan kita untuk memandang kegagalan/kesalahan sebagai sesuatu yang sangat buruk. Namun, di kehidupan nyata, kita akan melejit jika kita bisa mengakui kesalahan-kesalahan yang kita buat (karena tidak ada manusia yang akan terbebas sama sekali dari kesalahan), dan kemudian belajar mengubah kesalahan/kegagalan tersebut menjadi ‘nasib baik’.

Poin penting di sini adalah kemampuan kita untuk fleksibel dan mau terus belajar. Jika ini tidak kita miliki maka kemungkinan besar ketika kita gagal, maka respon kita malah menyalahkan pihak lain, menghindar, malah mungkin terus menerus jatuh ke lubang yang sama—dengan cara yang sama.

Ada kalimat yang sering aku ucapkan pada diri sendiri ketika melewati pengalaman pahit, “Ini bakal bikin aku tambah kuat.” Lucunya, kata-kata itu sering aku ucapkan, yang menunjukkan betapa seringnya aku melakukan kesalahan. Namun aku tarik nafas panjang, lalu setiap kali aku teringat dengan pengalaman pahit tertentu, aku tarik nafas lagi, lalu kembali mengingat bahwa itu adalah masa lalu, dan sekarang saatnya terus melangkah maju dan memperbaiki diri.

Melakukan hal tersebut bagiku sama sekali tidak mudah. Masalahnya, aku benci melakukan kesalahan. Sangat-sangat benci. Semenjak kecil, ketika berbuat kesalahan, ibuku kadang bilang, “You’re so stupid.” Ok, itu sangat menyakitkan, apalagi mengingat siapa yang mengatakannya. Ini mendorong aku untuk sering mengumpat diri sendiri ‘bodoh’ jika melakukan kesalahan, atau bahkan ketika sekedar teringat kesalahan yang aku perbuat di masa lalu. Aku tentu saja tidak akan melanjutkan hal tersebut pada anak-anakku. Seberapapun menjengkelkannya perbuatan mereka, aku tidak akan menghina mereka secara personal.

Aku ingin mengakhiri postingan singkat ini dengan kata-kata yang bisa Anda ‘bawa pulang’ untuk meningkatkan kualitas hidup (semoga 🙂 );

“Manakala saya mendapati diri saya kecewa tentang satu kesalahan, saya akan bertanggung jawab atas itu meskipun saya lebih suka menyalahkan orang lain. Saya kemudian meluangkan waktu untuk menemukan mutiara kebijaksanaan dalam kesalahan itu. Ketika saya sudah menemukan mutiara tersebut, penemuan itu memberi saya energi untuk melangkah maju.”[2]


[1] Donald Trump dan Robert Kiyosaki, Midas Touch, terjemahan B. Indonesia cetakan tahun 2011, Jakarta: Gramedia Pustaka Utama, hlm. xi.

[2] Idem dengan yang sebelumnya., hlm. 22-23.

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Inspirasi, Serba-serbi dan tag , . Tandai permalink.