Notebook Membantu Emak Pendidik: Meningkatkan Pengalaman Belajar Anak Meskipun Sedang Bepergian


Azmy-Apta depan laptop Oktober 2013

Mungkin Anda sudah membaca di postingan sebelumnya, tentang anak-anak-ku yang sudah relatif mahir berkomputer. Sebenarnya itu adalah salah aku, karena semenjak anak bayi, aku sudah sering berada di depan computer. Itu juga bukan salah aku sih, semenjak aku balita, ayahku sering berada di depan komputer, dan semenjak kecil aku sudah sering diasuh oleh computer (cul budak sina anteng), jadi itu semua salah ayahku :P.

Oke, daripada menyalahkan ayahku karena mengajariku untuk berkomputer ria, lebih baik kita lihat sisi positifnya.  Aku memanfaatkan komputer (laptop) untuk membimbing anak belajar berbagai hal seperti berhitung, dsb.  Walaupun tidak setiap hari, tapi aku memberi kesempatan anak untuk mengeksplor website atau game yang telah aku pilihkan. Lalu aku pun ngacir untuk melakukan hal lain, seperti beres-beres, dsb. Nah, terus pas ada hal-hal yang ingin ia tunjukkan, aku siap untuk membantu dan memberikan apresiasi.

Ini sih kalau ada di rumah. Nah, bagaimana kalau harus pergi jauh?

Sebenarnya aku tidak mau liburan diganggu oleh makhluk bernama laptop. Waktu bepergian adalah waktu bagi anak-anak mengeksplor dunia nyata, bukan dunia virtual. Anak-anak belajar hal seperti nama-nama tanaman, jenis-jenis serangga dan hewan, mendengar suara ombak (kalau ke pantai), dsb. Tapi ada sebuah pengalaman menarik soal tanaman. Suatu hari sambil berjalan ke pasar, anakku bertanya, “Umi itu tanaman apa?” Aku bilang tidak tahu, tapi aku berjanji akan mencari tahu, sambil menghafalkan ciri-ciri fisik tanaman tersebut agar bisa mencari info di internet (atau mungkin di buku di perpustakaan pribadi).

Di saat ada kesempatan, aku mengingatkan anakku akan janji mencari tahu info mengenai tanaman yang ia tanyakan. Kami pun berdua membuka-buka beberapa link yang muncul di Google. Kaget aku karena ternyata tanaman tersebut memiliki banyak juga khasiat untuk kesehatan. Wow, untung saja anakku bertanya dan kami memeriksanya. Kalau tidak, aku akan menyangka itu hanya sekedar tanaman hias.

Aku jadi terpikirkan bagaimana jika kami suatu saat pergi jalan-jalan ke tempat yang jauh, dan anakku banyak bertanya. Kalau tanpa alat elektronik yang mobile (baca: notebook), mungkin anakku perlu bersabar hingga jawabannya terjawab. Namun, jika kami membawa notebook sebagai ‘bekal’, kami bisa memanfaatkan teknologi tersebut untuk meningkatkan pengalaman belajar anak-anak kami.

Acer Aspire E1-432Bagi aku ini penting, karena aku adalah ‘emak’ yang sekaligus pendidik langsung anak-anak. Kami berencana untuk memberikan pendidikan-tanpa-sekolah pada anak-anak kami, jadi aku adalah fasilitator utama dalam pengalaman belajar anak-anak. Memanfaatkan gadget yang tersedia adalah salah satu cara persiapan untuk masa depan mereka nanti.

Kebetulan Acer lagi ngeluarin product yang tipis dan hemat harganya. Ada beberapa sih, tapi yang aku kecengin, yang tipe Acer Aspire E1-432. Acer Aspire ini punya kekuatan baterai yang lumayan tinggi, jadi cocok untuk dibawa pergi-pergi. Kami sekeluarga bisa online sambil menatap hijaunya gunung Pangandaran (loh? Bukannya Pangandaran itu pantai? Heheh…).

—————————————————————————————–

Tulisan ini diikutsertakan dalam lomba “30 Hari Blog Challenge, Bikin Notebook 30% Lebih Tipis” yang diselenggarakan oleh Kumpulan Emak Blogger (KEB) dan Acer Indonesia.

—————————————————————————————–

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Homeschool, Keluarga, Lomba dan tag , , , , . Tandai permalink.