Berpetualang dengan Bersekolah di Rumah


Buku ini membahas serba-serbi pendidikan-tanpa-sekolah atau sekolah-di-rumah (ada yang menyebut homeschooling atau unschooling), dimana anak-anak mendapatkan pembelajaran tanpa melalui lembaga sekolah formal. Terdapat berbagai alasan mengapa orangtua tidak menyekolahkan anaknya, hal-hal seperti keterbatasan fisik, keterbatasan jarak, bahkan nilai-nilai filosofis keluarga adalah di antara berbagai alasannya. Di Amerika Serikat, tempat dimana penulis buku ini tinggal, diperkirakan ada sekitar dua juta anak yang sekolah-di-rumah.

Di awal buku ini kita sudah disuguhi sebuah kutipan yang menginspirasi:

“Hidup bukanlah sebuah perlombaan tapi sebuah petualangan.”

Mary Griffith, sang penulis, membagikan pengalamannya dan pengalaman banyak keluarga lainnya yang memutuskan untuk tidak menyekolahkan anak-anaknya ke sebuah sekolah formal. Di sini kita sedikit mengintip ‘petualangan’ yang dialami para keluarga homeschooling/unschooling. Banyak pertanyaan-pertanyaan yang muncul perihal pendidikan-tanpa-sekolah dijawab satu-satu dengan penuh antusias oleh Mary dan keluarga lainnya.

Berawal dari sejarah singkat gerakan sekolah-di-rumah semenjak tahun 1970-an di AS. Sebenarnya sebelum disakralkannya ‘sekolah umum’ di tahun 1850-an, sekolah merupakan pilihan, bukan kewajiban.  Anak-anak cukup bersekolah beberapa tahun untuk mempelajari membaca, menulis, dan aritmatika dasar, lalu mempelajari berbagai keterampilan dari anggota keluarga dan anggota masyarakat yang lebih tua (hlm 10). Gerakan pendidikan-tanpa-sekolah bukanlah sesuatu yang baru, tapi merupakan cara pendidikan yang telah masyarakat lewati selama berabad-abad.

Pertanyaan paling besar yang sering diajukan dan ingin coba dijawab buku ini adalah “apa maksud dari ‘pendidikan tanpa sekolah’ dan apakah itu efektif?” Kita tak hanya membaca pendapat dari penulis dan orang tua, namun juga pendapat dari anak-anak yang sekolah-di-rumah.  Di sini kita membaca tentang pembelajaran mandiri, bahwa anak bisa mempelajari apa yang diinginkan, saat dia mengingnkannya, dengan cara yang ia inginkan, di tempat yang diinginkannya, untuk alasannya sendiri (hlm 18). Seringkali orang sudah begitu terbiasa memikirkan ‘belajar’ itu perlu motivasi nilai dan kekhawatiran akan hukuman sehingga kita lupa bahwa anak-anak adalah pembelajar alami (hlm 19).

Belajar adalah sama alaminya dengan bernafas. Tidak ada dua keluarga yang berpendidikan tanpa sekolah punya cara-cara yang sama persis, namun ada beberapa perilaku umum rumah tangga yang tidak bersekolah (hlm 21). Hal-hal seperti menyediakan lingkungan yang kondusif bagi eksplorasi dan eksperimentasi, orang dewasa sebagai model dan fasilitator, dan kepercayaan bahwa anak-anak akan belajar.

Kita juga bisa membaca ‘perdebatan’ mengenai TV (atau teknologi lainnya). Ada yang menganggap baik dan buruk. Berbagai keluarga menceritakan pengalamannya dengan/tanpa TV, dan bagaimana mereka menggunakannya dalam proses pembelajaran. Insight bagus bagi yang kebingungan dengan ‘makhluk’ satu ini.

Pertanyaan berikutnya adalah, “Bagaimana kita tahu bahwa mereka sedang belajar?” Seperti yang telah dijelaskan di awal, belajar sama alaminya dengan bernafas, namun terdapat berbagai cara untuk memiliki cara mendokumentasikan berbagai hal yang anak-anak lakukan, yang bisa mereka pegang bila dibutuhkan (hlm 73). Hal-hal seperti jurnal naratif, tabel pokok bahasan/jadwal, portfolio, dsb. Ini dapat membantu jika suatu saat anak memutuskan untuk bersekolah ke sekolah formal, melamar pekerjaan, atau sekedar kenang-kenangan untuknya ketika dewasa. Penulis melengkapi dengan menyediakan beberapa contoh catatan laporan pembelajaran anak-anak yang homeschool.

Di Bab V hingga Bab IX penulis membahas satu-satu berbagai bidang ‘pelajaran’ dan bagaimana mereka melakukannya tanpa sekolah. Bidang-bidang seperti membaca dan menulis, matematika dan pemecahan masalah, sains, sejarah, dan kesenian. Berbagai pengalaman mempelajari berbagai bidang berikut dengan beberapa sumber bagus untuk dipelajari lebih lanjut ada di setiap bab. Ini juga akan sangat membantu bagi orangtua yang tidak memiliki ‘teman’ lain yang sama-sama menjalankan pendidikan-tanpa-sekolah.

Bagaimana jika orangtua tidak tahu semua ‘jawabannya’, atau anak ingin mempelajari keterampilan yang belum orangtua kuasai? Penulis memberikan berbagai tips mencarikan pendamping pembelajaran, dan juga pengalaman anak-anak homeschool yang mengikuti kursus-kursus untuk bidang tertentu yang diminati. Anak-anak akan terus tumbuh dewasa, hingga bisa jadi dalam masa remaja atau pra-remajanya ia memutuskan ingin bersekolah. Kita bisa membaca berbagai pengalaman atau hal untuk dilakukan dan disiapkan jika anak berfikir untuk kembali bersekolah. Kadang anak hanya penasaran, dan memberinya kesempatan sehari atau seminggu duduk di sekolah sudah cukup untuk memuaskan rasa penasarannya (hlm 172).

Ada juga kisah sebuah keluarga yang anak-anaknya sebagian tidak bersekolah dan sebagian bersekolah. Bagaimana mereka melewatinya diceritakan di sini. Sehingga ‘sekolah’ atau ‘tidak-bersekolah’ hanyalah berbagai cara mendapatkan pendidikan, dan bukan hal yang bersebrangan. Penulis juga memberikan satu bab khusus membahas mengenai mengatasi keraguan dan tantangan (hlm 199). Bagaimana menyiasati ‘serangan panik’ karena berbagai alasan. Pada saat-saat seperti itu yang dibutuhkan adalah dukungan, dan bagaimana—ketika kita jauh sekalipun dari keluarga homeschool yang lain—tetap bisa mendapatkan dukungan tersebut.

Buku ini dilengkapi ‘sumber-sumber’ di akhir setiap babnya dimana kita bisa mendapatkan informasi hal-hal khusus jika ada bagian-bagian tertentu yang ingin kita dalami lebih jauh.

 

Cover buku cetakan awal, yang sekarang sudah diganti judulnya menjadi ‘Sekolah di Rumah’.

Judul Buku                  : Sekolah di Rumah

Penulis                          : Mary Griffith

Jenis Buku                   : Non-Fiksi

Penerbit                       : Nuansa

Jumlah Halaman          : 240

Cetakan Pertama          : Maret 2008

ISBN                            : 978-24-5627-9

Dimensi                       : 25 x 19 cm

—————————————

Buku Anda butuh di-resensi? Hubungi aku di hannawilbur@yahoo.com ;).

—————————————

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Homeschool, Keluarga, Recommended Books dan tag , , , , , , . Tandai permalink.