Sehat Memang Milik Kita Semua


Original Medicine humans have been using for thousands of yearsSetiap kali aku melewati pusat kesehatan, kenapa selalu penuh? Puskesmas, rumah sakit, dan tempat layanan-ketika-sakit lainnya ada di antara tempat-tempat yang ramai dikunjungi. Seharusnya ini membuat kita miris, mengapa pengunjungnya tambah banyak? Mengapa tidak tambah sedikit?

Seharusnya perhitungan kota tersehat bukan berdasarkan jumlah rumah sakitnya,tapi dari sedikitnya pengunjung lembaga pelayanan-ketika-sakit, dan tingginya produktifitas penduduk (ditunjukkan misalnya dengan izin absen sakit yang rendah di sekolah-sekolah dan perkantoran).

Suatu hari aku pergi ke puskesmas untuk menuntaskan persyaratan administrasi tertentu. Pagi hari puskesmas sudah begitu penuh dengan orang mengantri; ada yang membawa anak, bayi, hingga lansia. Rasanya miris berjam-jam antri, hanya untuk bertemu dengan dokter selama kurang dari 10 menit. Dokter tidak punya banyak waktu untuk mengecek setiap pasiennya; apakah alergi, sejarah obat yang pernah dipakai, riwayat sakit yang telah lewat, pola kebiasaan makan-minum dan pekerjaan sehari-hari pasien, dst. Padahal itu semua mempengaruhi ke penanganan penyakitnya. Bisa jadi terdapat banyak permasalahan kesehatan yang muncul sebagai efek samping dari salah penanganan yang sebelum-sebelumnya. Lalu dengan waktu dan kesempatan yang terbatas, kesalahan penanganan terjadi kembali.

Aku jadi merasa kasihan pada para dokter. Kalau ada kekurang puasan, ujung-ujungnya para dokter juga yang disalahkan.
Saat itu aku berfikir, kalau saja semua orang ini tahu asal mula penyakit, dan mereka dibekali ilmu untuk menjaga kesehatan, tidak perlu sampai antri seperti ini.

Kalaupun ada yang punya uang lebih dan mampu membayar dokter keluarga, tetap saja menjaga kesehatan adalah tanggung jawab masing-masing.

Kemampuan dokter sangat terbatas untuk menangani penyakit (terbatas ruang dan waktu), sisanya sang pasien yang perlu menjaga tubuhnya. Berapa kali seorang dokter harus menghadapi pasien yang sudah berada di tahap-tahap kritis, padahal hal ini seharusnya bisa pasien hindari jauh-jauh hari jika saja ia tahu cara menjaga tubuhnya.

Sehat Milik Semua memerlukan perubahan yang sangat mendasar yaituparadigma. Paradigma kesehatan yang kita miliki saat ini menjadikan sehat terasa begitu mahal dan hanya bisa dinikmati jika memiliki uang yang cukup. Padahal, sebenarnya tidak demikian. Sehat adalah sesuatu yang semua orang miliki. Justru sakit adalah sesuatu yang kita dapatkan setelah melepaskan kesehatan kita.

Kita melepaskan kesehatan kita ketika kita tak peduli apa yang kita makan, tidak peduli apa yang kita minum, tidak peduli apa yang kita sentuh, tak peduli apa yang kita hirup, dan tidak peduli apa yang kita pikirkan. Toksin, kekurangan nutrisi, kekacauan elektromagnetis, dan stress (permasalahan psikologis) menyedot keseimbangan tubuh kita, menjadikan kita jatuh sakit. Solusinya cukup dengan mengembalikan kembali apa-apa yang tubuh kita butuhkan.

Tentu saja ini tidak berarti kita tidak membutuhkan lembaga kesehatan. Kita butuh lembaga kesehatan untuk edukasi, dan juga untuk siap siaga menghadapi hal-hal yang tidak terdugakecelakaan lalu lintas, misalnya.

Teringat dulu pernah ada program pemerintah setiap rumah menanam TOGATanaman Obat Keluarga. Ini adalah program bagus untuk dilanjutkan. Selain mengurangi biaya subsidi obat, juga tanaman adalah pilihan obat yang lebih aman.

Program lain yang penting adalah memberi insentif dokter yang menjagapasiennya tetap sehat. Ini bisa dilakukan dengan berbagai cara seperti misalnya memberi penghargaan kepada puskesmas/RS dengan sedikit pengunjung (ini di-cross-check juga dengan jumlah absensi sakit siswa dan pekerja yang rendah juga, dsb).

Permasalahan kesehatan bukan semata-mata kurang biaya, tapi kekurang pedulian kita untuk menjaganya. Mari kita perbaiki hal ini maka kita akan sadar bahwa sehat memang milik kita semua.

Tulisan ini pertama kali diposting di http://hannawilbur.blogdetik.com/2013/12/05/sehat-memang-milik-kita-semua/.

Selanjutnya bisa baca: The Body’s Natural State Is Health, Not Diseased As We’ve Been Led to Believe dan Looking for a New Health Insurance Plan?

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesehatan dan tag , , , . Tandai permalink.