Pengalaman Merawat Anak Demam


Aku suka gambar ini :P

Hari Rabu dan Kamis lalu (4-5 Desember 2013) anak pertamaku (3,5 tahun) demam. Alhamdulillah aku berhasil merawat anakku melewati demam tanpa obat kimia sama sekali.

Hari Rabu pagi aku merasakan suhu tubuh anakku mulai naik. Saat itu beliau masih ceria dan nafsu makannya baik-baik saja—terbukti dengan dia meminta makan di pagi hari. Melihat dia masih ceria, aku tidak memberikan perlakuan apa pun.

Sekitar jam 10 pagi barulah dia datang dengan lesu dan bicara dengan manjanya, “Pengen sama Umi…” lalu setelah aku pegang memang suhu tubuhnya memang semakin meninggi. Okay, aku lalu mengajaknya minum air bening dan tiduran di tempat tidur. Aku terus mengingatkannya untuk minum air putih (tapi tidak dengan cara memaksa, ya). Aku juga memberikan anak 1 sendok madu dengan sedikit kayu manis bubuk di atasnya.

Alhamdulillah demamnya tidak disertai dengan dehidrasi, terbukti dengan anak yang tidak ekstra haus dan bermata cekung. Demamnya juga tidak disertai susah buang air besar.

Sambil anakku menunggu, aku pergi ke dapur. Bawang merah di-ulek lalu dicampurkan dengan minyak zaitun. Kebetulan lagi ada minyak zaitun, tapi bisa juga dengan natural oil lain seperti minyak kelapa, misalnya. Campuran bawang merah dan minyak zaitun tersebut aku balurkan ke seluruh tubuh anak sambil anak dipijat.

Aku juga memasang detox foot pads pada kakinya untuk membantu pengeluaran racun tubuh.

Ternyata anakku tidak merasa ingin tiduran, jadi dia pindah, duduk di sofa ruang TV. Aku pun membuatkan dia jus sayur yang ia habiskan. Jusnya aku buat dari sayur yang kebetulan sedang ada di rumah: ketimun, tomat, wortel, dan diberi madu sebagai pemanisnya.

Aku sempat mempertimbangkan apakah perlu memberi anak ‘mandi’ (sebagai semacam kompres—karena anakku masih balita, jadi gak bisa diminta diam untuk dikompres di tempat tidur) dengan air hangat atau air dingin. Untuk ini masih ada perdebatan; ada yang bilang jangan pakai air dingin karena itu bakal memicu tubuh semakin meningkatkan suhunya, jadi pakai air hangat saja; ada juga yang menyatakan pakai air dingin saja, untuk memaksa suhu tubuh turun.

Ada juga plester penurun panas (‘bye-bye fever’, dsb—bukan maksud menyebut merek). Aku lebih suka menggunakan ini dibandingkan paracetamol, namun buatku ini bukan pilihan pertama, karena menambah limbah rumah tangga😛.

Akhirnya aku memutuskan untuk tidak mengkompres anak sama sekali, karena sudah ‘diurus’ oleh baluran bawang merah dan minyak zaitun. Namun, jika perlu mengkompres, aku pribadi lebih setuju mengkompres anak dengan air hangat (‘anget-anget kuku’).

Aku percaya tubuh anakku sedang berjuang melawan infeksi, dan yang perlu aku lakukan adalah mendukung tubuhnya dengan memberikan lingkungan yang seoptimal mungkin. Demam adalah ‘kawan’ kita melawan infeksi virus/bakteri, jangan sembarangan ‘diturunkan’ dengan langsung diberikan obat kimia penurun panas. Baca juga: Mengapa Demam Bisa Baik untuk Anda.

Sorenya aku titip ke adikku untuk membeli air kelapa murni. Anakku dengan lahapnya menghabiskan air kelapa tersebut. Air kelapa tersebut benar-benar murni, tanpa tambahan susu atau gula.

Kamis pagi demamnya sudah turun, dan beliau ceria kembali. Aku tidak banyak berkomentar dan membesar-besarkan apa yang terjadi. Aku tidak bilang, “Jangan banyak main… kan baru sembuh…” Aku pikir melarang anak bermain tidak masuk akal. Justru bermain bagi seorang anak juga adalah salah satu terapi kesehatan. Toh, beliau bermainnya juga masih di dalam rumah.

Sorenya (hari Kamis) suhu tubuhnya mulai merangkak naik kembali, dan aku berikan treatment yang kurang lebih sama dengan malam sebelumnya. Kebetulan anakku sedang ingin dipijat ayahnya, jadi kali itu ayahnya yang memijatnya. Kemudian kami membiarkannya banyak tiduran, sambil tetap mengingatkannya untuk banyak minum air putih.

Jumat pagi demamnya turun, dan hingga hari ini dia masih sehat dan ceria.

*

Hal yang menentukan di sini adalah aku tidak melihat demam anak sebagai ‘musuh’ yang harus langsung dilawan dan ‘diturunkan’. Demam adalah salah satu bagian dari proses tubuh. Demam terjadi karena ‘sesuatu’. Tubuh sudah memiliki mekanisme pertahanannya. Nah, yang perlu kita lakukan adalah memberikan tubuh apa yang diperlukannya untuk menangani situasi yang sedang ia hadapi.

Penyakit tidak tiba-tiba menjadi besar. Ia menjadi besar jika penyakit ringan tidak ditangani dengan baik. Alhamdulillah kebetulan demam yang anakku hadapi tidak diikuti dengan gejala lainnya.

Kadang ada gejala-gejala lain yang muncul bersamaan dengan anak demam; muntah-muntah, diare, susah buang air besar, dsb.

Aku sendiri punya ‘standar’ untuk diri sendiri (sebelum memutuskan untuk membawa anak ke dokter atau lembaga-pelayanan-ketika-sakit); 3 hari, dan diikuti gejala lain. Misalnya anak demam terus-terusan dan diikuti gejala lain seperti dehidrasi, muntah-muntah atau diare, dst, dan berlangsung selama 3 hari, maka hari keempat akan aku bawa ke rumah sakit (kecuali jika anak kejang, maka aku tidak akan menunggu hingga 3 hari—lanjutkan membaca post).

Diare adalah salah satu respon tubuh terhadap makanan/minuman yang dianggap meracuni atau mengandung bakteri yang mengganggu. Untuk melindungi dirinya, tubuh akan segera membuang makanan tersebut meskipun belum sempurna tercerna, hasilnya itulah yang kita sebut diare. Jadi, jangan melihat diare sebagai ‘musuh’, tapi rangkul lah dengan bersabar melewati proses tersebut. Selama diare, stop dulu pemberian makan, kasih minum sebanyak mungkin, beri air madu dan/atau air kelapa murni[1].

Jika anak demam diikuti susah buang air besar, berikan jus buah 3 kali sehari (pepaya, melon, madu)[2].

Jika anak yang sakit berusia di bawah 6 bulan, terus lah memberikan ASI dan pelukan hangatmu😉.

Nah, kalau anak kejang-kejang gimana?

Okay, tunggu hingga kejang-kejangnya selesai. JANGAN mengganggu proses kejang. Pastikan kondisi di sekitar anak aman, lalu tunggu hingga kejang-kejang selesai. Setelah beres kejang, berikan waktu pada anak untuk pulih sebelum memberikan minum. Setelah itu barulah bawa anak ke tempat-pelayanan-ketika-sakit terdekat.

Post ini adalah bentuk berbagi pengalaman, bukan pemberian saran medis.

Pharmacy -- take them until further testing shows they really aren't effective


[1] Husen A. Bajry, “Tubuh Anda adalah Dokter yang Terbaik”, hlm 139.

[2] Ibid., hlm 136.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesehatan dan tag , , , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Pengalaman Merawat Anak Demam

  1. Ping balik: Mengapa Demam Bisa Baik untuk Anda | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.