E-learning: Kesempatan Berkembang Melebihi Mimpi Terliar Orangtua Kita Dahulu


Waktu aku dulu berkuliah ada mata kuliah bernama CMC alias Computer Mediated Communications. Secara sederhana CMC ini sebenarnya membahas internet, dan jaringan komunikasi lain melalui komputer. Suatu hari aku ke perpustakaan dan menemukan buku yang membahas CMC. Lucunya ketika aku membaca, kok mereka membahas email sebagai sesuatu yang baru? Aku jadi penasaran, ini buku terbitan kapan, sih? Ketinggalan zaman banget?

Ternyata itu buku cetakan tahun 1990 atau 1991.

Kalau dipikir-pikir, itu belum lama; seusia dengan aku yang masih anak bawang ini (anak bawang beranak dua). Kini email bukan lagi sesuatu yang baru, malah menjadi salah satu media wajib untuk berkomunikasi—khususnya secara formal. Belum lagi tak terasa belum 1 dekade social media ‘berdiri’, namun kini berbagai jenis akun media social dimiliki oleh orang-orang. Dimulai dari Friendster (kini sudah out of date), MySpace (juga out of date), Flicker (OOD juga), dst.

Itu membuat aku sadar betapa cepatnya perkembangan teknologi dan perubahan yang ia hasilkan pada masyarakat—atau sebaliknya, perubahan masyarakat yang mempengaruhi perkembangan teknologi? Keduanya saling berhubungan.

Ini menjadikan aku memikirkan dunia pendidikan formal. Dengan perubahan yang sangat cepat di masyarakat, system pendidikan formal sangat ketinggalan jauh. Bayangkan, aku baru ‘diajari’ email ketika SMP kelas 1, itu pun karena beruntung mendapat guru yang sadar teknologi, di sekolah lain belum tentu akan mendapatkan itu. Kami, manusia angkatan 90-an, mempelajari teknologi lebih melalui otodidak. Apakah Anda belajar cara mengoperasikan handphone dari sekolah? Kursus IPad? Atau apakah Anda mendaftar di bimbel lapbook? Tentu saja tidak, namun itu merupakan perangkat-perangkat yang sudah umum digunakan saat ini.

Ini membuktikan, bahwa manusia itu memiliki kemampuan untuk mempelajari hal-hal yang ia rasa penting dan bermanfaat untuk keberlangsungan hidupnya. Semua contoh perangkat yang aku sebutkan adalah di antara kenyataan hidup saat ini. Kita memanfaatkannya untuk berbagai keperluan, tak hanya komunikasi, tapi juga berbisnis, berbelanja, bahkan mengecek kondisi anak di sekolah.

Di tahun 1970-an, Bill Gates memimpikan akan ada komputer di setiap rumah. Mimpi itu terwujud di tahun 1990-an, hanya 2 dekade kemudian (±20 tahun). Orang-orang yang terlahir di tahun 70-an sudah bisa merasakan hasil dari mimpi tersebut di usia produktifnya.

Kita bisa belajar sesuatu hal yang besar di sini—masa depan tidak akan sama dengan masa kini. Sehingga, merupakan suatu kesia-siaan jika kita memaksakan anak-anak kita 100% mengikuti tren yang ada saat ini, karena zaman mereka ketika dewasa nanti pasti akan berbeda. Kita saat ini mungkin tidak bisa melihat masa depan secara detail, tapi kita bisa memanfaatkan apa-apa yang ada sekarang untuk mempersiapkan generasi berikutnya untuk masa depan mereka nanti.

Apa yang aku maksudkan?

Kita bisa mempersiapkan mereka untuk ‘belajar cara belajar’. Menurutku istilah ini kurang cocok, karena pada dasarnya manusia lahir sebagai makhluk pembelajar, jadi yang perlu kita lakukan adalah ‘memelihara insting belajar dan berkembang’ mereka.

Baru beberapa tahun ke belakang muncul istilah ‘e-learning’, yaitu belajar melalui media perangkat elektronik. Ini bisa dalam berbagai bentuk, seperti melalui berbagai program perangkat lunak (software), internet, dsb.

Menurutku, peluang ini perlu dimanfaatkan dengan baik, dan merupakan salah satu solusi keterbatasan pendidikan formal yang ada saat ini. Banyak orang mengeluhkan kurangnya ‘fasilitas pendidikan’, ini tak hanya termasuk buku, tapi juga seragam, tas, bangunan, kursi, dan meja. Namun saat ini, melalui fasilitas elektronik yang kita miliki, semua biaya itu bisa kita pangkas. Ini terbukti dengan bertambahnya penyelenggara dan peserta online course, webinar, dan podcast. Bahkan sudah ada online course dengan degree yang diberikan oleh universitas-universitas international terkemuka. Ini bukan perkara remeh! Orang dari berbagai kalangan, dari sudut-sudut dunia yang berjauhan, bisa ‘bertemu’ dan mendapatkan ilmu yang berkualitas melalui medium perangkat elektronik yang mereka miliki (komputer/ laptop/ notebook/ IPad, dst). Seperti yang sering diungkapkan oleh mendiang Steve Jobs sambil setengah bercanda, “I think there’s an app for that. (Saya pikir ada perangkat aplikasi untuk itu.)”

Indonesia yang dianugerahi ribuan pulau sehingga seringkali dibatasi oleh jarak dan waktu, kini dapat menjangkau berbagai lokasi melalui fasilitas teknologi yang ada—khususnya di bidang pendidikan.

Kebutuhan peningkatan metode pendidikan ini semakin dirasa urgent mengingat Sang Bill Gates yang dulu memprediksi ‘era komputer di setiap rumah’ kini memimpikan era ‘robot di setiap rumah’. Di tahun 2006 ia menulis ‘A Robot in Every Home’ yang dipublish di Scientific American.

A Robot in Every Home hlm 1

Apa maksud dari ‘robot di setiap rumah’? Artinya, banyak pekerjaan yang saat ini dilakukan oleh manusia nanti akan dilakukan oleh robot. Selamat tinggal demo buruh, selamat tinggal Asisten Rumah Tangga, selamat tinggal Operator Telepon (saat ini sedang dikembangkan robot yang bisa menjawab telepon dari pelanggan dengan suara se-alami manusia), dst. Ini merupakan bagian kecil dari besarnya perbedaan saat ini (awal dekade 2010-an), dengan dekade-dekade berikutnya.

Cara-cara pendidikan ‘standar’ saat ini tidak bisa dipertahankan sebagai satu-satunya cara untuk mempersiapkan generasi masa depan. Akar sistem pendidikan yang ada saat ini dibangun abad lalu untuk mempersiapkan kebutuhan tenaga kerja yang tinggi pada saat itu. Kini, yang anak-anak butuhkan adalah ketahanan untuk bertahan dalam berbagai situasi, bahkan yang sama sekali belum terpikirkan sebelumnya, kemampuan untuk fleksibel dan siap terus beradaptasi. Peluang e-learning ini merupakan salah satu cara yang memberikan akses bagi anak-anak kita belajar hingga ke batas ujung dunia, melalui ujung jari mereka, dan memberikan kesempatan berkembang melebihi mimpi terliar orangtua kita dulu. .

Nah, apakah Anda (orangtua/pendidik) sudah siap memanfaatkan peluang e-learning ini?

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Isu, Lomba dan tag , , . Tandai permalink.