Beri Work-Out Terus Otot Berfikir Anda


Hanna at Coffee n Friends Nov 2013Discovery consists of seeing what everybody has seen and thinking what nobody has thought.

 (Penemuan terdiri dari melihat apa yang semua orang telah lihat dan [namun] memikirkan apa yang tidak terfikirkan orang lain)

 —Albert von Szent_Gyorgyi Nagyrapolt, 1937, Pemenang Nobel Bidang Fisiologi dan Pengobatan, ilmuwan yang berhasil mengekstraksi vitamin C—

homeschooling (3) terang-dunia-400x190

Melalui postingan ini aku ingin menulis apa yang dimaksud dengan smart dalam sudut pandang aku, tapi bukan dalam bentuk kalimat, namun melalui demonstrasi contoh-contoh nyata.

Alkisah ada seorang Pedagang yang punya hutang besar kepada seorang Lintah Darat. Sang Lintah Darat yang sudah tua dan bermuka jelek itu kebetulan menyukai Putri Sang Pedagang. Suatu hari ia mengajukan sebuah pilihan, “Nikahkan aku dengan putrimu, maka akan aku hapuskan semua hutangmu.”

Tentu saja ini adalah pilihan yang sangat sulit bagi sang Pedagang dan Putrinya, jadi Sang Lintah Darat memberikan ide, “Biarkan takdir yang menentukan.” Ia menawarkan akan menyimpan satu batu putih dan satu batu hitam di dalam sebuah kantung uang, lalu Sang Putri harus mengambil satu batu tanpa melihat. Jika ia mengambil batu hitam, maka ia harus menikahi Sang Lintah Darat dan semua hutang ayahnya akan terhapuskan. Jika ia mengambil batu putih, maka ia akan tetap bersama ayahnya (tidak menikah dengan Sang Lintah Darat) dan semua hutang ayahnya tetap terhapuskan. Jika Sang Putri menolak untuk mengambil batu maka ayahnya akan dijebloskan ke penjara.

Dengan enggan Sang Pedagang menyetujui.

Mereka saat itu sedang berdiri di atas jalur penuh batu di halaman rumah Sang Pedagang, lalu Sang Lintah Darat pun menunduk untuk mengambil dua buah batu.

Tanpa disadari Sang Lintah Darat, melalui sudut matanya Sang Putri menyadari bahwa Sang Lintah Darat memasukkan dua batu hitam ke dalam kantung! Wah, mau licik dia.

Jika Anda menjadi Sang Putri, apa yang akan Anda lakukan?

Kisah ini terdapat dalam bab pertama buku “The Use of Lateral Thinking” karya Edward De Bono[1]. Ketika awal membaca buku tersebut aku masih sekitar SD, dan isi bukunya masih terlalu sulit aku cerna, jadi aku tidak membaca buku tersebut sampai khatam, namun minimal kisah pendahuluan ini berhasil aku pahami.

Kebetulan ayahku punya beberapa koleksi buku-buku Edward De Bono, dan sebagai seorang dosen matematika, sangat menarik mempelajari berbagai metode berfikir. Menurutku dalam hal pengembangan metode berfikir, Edward De Bono adalah salah satu jeniusnya.

Meskipun aku belum memahami keseluruhan isi buku-bukunya, namun aku tetap berusaha membacanya. Waktu SD aku punya prinsip begini, “Suatu saat aku akan mengerti.” Ini yang membawa aku tidak sungkan membaca berbagai buku, selama itu menarik buatku, aku akan membacanya.

Waktu kelas 5 SD, kakakku mengirimkan 3 paket berisi CD computer pembelajaran anak seri ‘ADVANTAGE’; Elementary (6-11 tahun), Math 6-11 tahun, dan High School (usia 14+). Masing-masing paket memiliki beberapa CD, tergantung bidang masing-masing, seperti history, languages, dst. Yang membuat menarik adalah isinya semua dalam bentuk games. MIsalnya, ada game membuat track balap sepedah, menganalisis kecelakan kereta api (teringat peristiwa di Bintaro?), mencari tahu pelaku kejahatan, dsb.

CD yang membuatku pribadi paling tertarik adalah ‘Critical Thinking’ (secara sederhana ini terjemahannya adalah ‘Berfikir Kritis’). Itu CD diambil dari seri Elementary (usia 6-11 tahun). Dalam waktu kurang dari seminggu dengan bangganya aku sudah bisa menyelesaikan semua tantangannya. Game dalam CD Critical Thinking itu berisi 10 permasalahan unik, dan kita perlu mencari tahu penyelesaiannya. Semua permasalahannya tidak bisa diselesaikan dengan cara berfikir biasa, tapi kita benar-benar perlu melihat berbagai opsi yang ada—termasuk yang tidak terfikirkan!

Keren banget kan, permainannya?

Semua ‘latihan berfikir’ ini membantu aku melewati sekolah formal, dan bahkan sempat membuat aku frustasi waktu SMA (karena waktu SMA, dengan beratnya beban kurikulum, tidak ada waktu untuk berfikir :P). Dan kini, sebagai seorang ibu dengan dua anak balita, aku tidak boleh berfikir biasa. Balita itu penuh kejutan, dan jika aku tidak kreatif maka aku akan tertinggal.

Kutipan yang aku simpan di awal postingan ini adalah kalimat yang buat aku adalah kunci yang membedakan orang yang ‘smart’ dengan yang ‘average’ (aku tidak bilang ‘bodoh’ loh, ya…).

Reading -- people instal new software into their brainsBiasanya ketika bicara kepintaran, kita membayangkan anak yang ‘smart’ itu yang sering mengacungkan tangan di kelas, atau anak yang mengangkat piala. Meskipun kini iklan-iklan sudah lebih kreatif dengan menunjukkan anak smart itu yang memainkan lagu dari gelas berisi air, dsb, tapi masyarakat masih berfikir kepintaran adalah apa-apa yang bisa ditunjukkan di ruang kelas. Permasalahannya adalah, sekolah bukan tempat untuk mengembangkan ‘otot’ berfikir. Sekolah adalah tempat mengkomunikasikan ilmu-ilmu yang sudah ditetapkan oleh para pembuat kurikulum sebelumnya. Dan, anak yang dianggap pintar adalah yang sukses menunjukkan bahwa ia (1) Tidak membuat kesalahan sedikitpun, (2) Patuh terhadap apa yang disebut ‘benar’ dan ‘salah’ dalam kurikulum. Hanya sedikit ruang untuk berfikir selain itu.

Tidak ada yang salah di sini, namun jika membahas smart di kehidupan nyata, maka kebanyakan anak-anak yang full pendidikannya hanya didapatkan melalui sekolah ini akan kecewa nanti. Makanya kebanyakan kita mengalami momen-momen ‘kebingungan pasca lulus’, apalagi jika tidak langsung mendapatkan pekerjaan. Kemudian setelah mendapatkan pekerjaan dan mencapai ‘mapan’, perlu adaptasi besar-besaran untuk hidup berkeluarga dan mengasuh anak. Mengapa? Karena ‘latihan’ kita masih dominan di sekolah, tapi jika orangtua kita dulu tidak pula melatih anak-anak mandiri di luar sistem sekolah, maka kemungkinan besar seseorang akan semakin rentan di usia dewasanya.

Ada sebuah penelitian terhadap berbagai CEO perusahaan internasional (lupa lagi sumbernya dari mana, tapi kita ambil hikmahnya saja, ya…). Apa kesamaan di antara mereka? Ternyata kebanyakan mereka waktu masa sekolahnya biasa membereskan rumah dan memanfaatkan libur sekolah untuk mencari penghasilan tambahan (berjualan es limun, mengasuh anak, memotong rumput tetangga, dst). Artinya, mereka semenjak kecil sudah biasa problem solving di kehidupan nyata—otot berfikirnya lebih terlatih.

Okay, kembali ke kisah Sang Putri di awal. Jika Sang Putri seperti kebanyakan orang, maka ada tiga pilihan yang biasanya diambil:

  1. Ia akan menolak mengambil batu.
  2. Ia menunjukkan bahwa terdapat dua batu hitam dalam tas dan mengungkap Sang Lintah Darat sebagai seorang penipu.
  3. Ia mengorbankan dirinya dengan mengambil batu hitam demi menyelamatkan ayahnya dari penjara.

Tidak ada satu pun penyelesaian tersebut yang happy ending, karena jika ia menolak mengambil batu, maka ayahnya akan masuk penjara. Jika ia mengambil batu, maka ia harus sengsara menikah dengan Sang Lintah Darat.

Education is not the learning of facts, but the training of the mind to think -- Albert EinsteinEdward De Bono mengungkapkan bahwa kebanyakan orang adalah ‘pemikir vertikal’. Pemikir vertikal berfokus pada kenyataan bahwa Sang Putri harus mengambil batu. Pemikir vertikal memulai dengan sudut pandang paling rasional dari suatu situasi, lalu mulai melangkah secara logis untuk menyelesaikan situasi.

Pemikir lateral (kebalikan dari pemikir vertikal), akan mengeksplorasi semua kemungkinan, termasuk pula memikirkan batu yang tidak diambil.

Sang Putri dalam kisah tersebut lalu memasukkan tangannya ke dalam kantung dan mengeluarkan sebuah batu. Tanpa melihat ke batu, ia pura-pura terpleset dan membiarkan batu tersebut terjatuh ke jalanan, bersamaan dengan batu-batu lainnya.

“Haduh, cerobohnya aku…” ucap Sang Putri. “Ah, tidak apa-apa, kita akan bisa melihat batu mana yang saya ambil berdasarkan batu apa yang tertinggal di dalam kantung.”

Tentu saja batu yang tertinggal di dalam kantung adalah batu hitam, dan Sang Lintah Darat tidak punya pilihan untuk mengungkapkan bahwa dia telah curang dengan memasukkan dua buah batu hitam. Jadi, Sang Putri pedagang tidak jadi menikahi Sang Lintah Darat, dan Sang Pedagang bebas dari penjara karena semua hutangnya diampuni.

 —————————————————————-

 “Blogpost ini diikutsertakan dalam Lomba Ultah Blog Emak Gaoel

smart gaul kreatif 21 nov-21 des 2013 banner lomba


[1] Penerbit Penguin Books, cetakan tahun 1983.

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Homeschool, Inspirasi, Lomba, Recommended Books dan tag , , . Tandai permalink.