Melebihi Ketahanan ‘Cemen’: Menjadi Antirapuh


Beyond “Sissy” Resilience: On Becoming Antifragile

[Bagian Pertama]

3 Desember 2013

Apa kebalikan dari seseorang atau lembaga yang rapuh?

Jika Anda bertanya kepada kebanyakan orang pertanyaan ini, mereka kemungkinan akan menjawab “kuat”[robust] atau “ketahanan” [resilient]. Tapi filsuf Nassim Nicholas Taleb akan mengatakan bahwa bukan itu jawaban yang benar.

Ia berargumen bahwa jika benda-benda yang rapuh akan rusak ketika terpapar tekanan, maka sesuatu yang kebalikan dari rapuh tidak akan rusak ketika berada di bawah tekanan; malahan, ia akan menjadi semakin kuat.

Kita tidak punya kata untuk mendeskripsikan orang atau lembaga seperti itu, jadi Taleb menciptakannya: antirapuh [antifragile].

Dalam bukunya, Antifragile: Things That Gain from Disorder, Taleb secara meyakinkan menjelaskan bahwa kualitas hebat ini sangat penting untuk bisnis, pemerintahan, dan bahkan para incividu yang ingin maju dalam dunia yang semakin kompleks dan mudah berubah.

Jika Anda ingin sukses dan mendominasi, untuk memisahkan diri dari orang-orang lain dan menjadi ‘orang terakhir yang berdiri’ [last man standing] –pemenangnya—dalam area kehidupan apa pun, tidak hanya cukup untuk berdiri kembali dari kesulitan dan perubahan—untuk sekedar menjadi tabah. Anda harus berdiri kembali lebih kuat dan lebih baik. Anda harus menjadi antirapuh.

Bertahan dan Maju dalam Angin Ketidak-pastian

Pertama, sedikit latar belakang.

Di tahun 2007, Taleb mempopulerkan pemikiran “Black Swans” dalam bukunya yang berjudul sama. Secara garis besar, Black Swan adalah suatu peristiwa (bisa positif maupun negative) “Yang datang secara mengejutkan, memiliki pengaruh besar, dan seringkali secara tidak tepat dirasionalisasi setelah peristiwa terjadi.”

Krisis hipotek tahun 2008 adalah peristiwa Black Swan, sama seperti kedua perang dunia. Hampir tidak ada yang memprediksinya, mereka memberikan dampak besar pada sejarah, dan semuanya tampak mampu diprediksi setelah sudah terjadi.

Banyak orang meninggalkan bacaan The Black Swan seperti ini: “Hal buruk terjadi, jadi jangan susah payah memprediksi ini-itu.” Tapi seperti yang baru-baru ini Taleb kicaukan, itu adalah kesimpulan yang orang-orang tolol [imbeciles] buat (bagian hebat dari tulisan Taleb adalah ia tidak suka melunakkan kata-kata). Namun, pesan utama dalam buku tersebut adalah ini: “Ya, hal buruk terjadi. Triknya adalah menempatkan diri Anda sendiri dalam posisi untuk bertahan dan menjadi lebih maju ketika itu terjadi.”

Dalam buku terbarunya, Antifragile [Antirapuh], Taleb menawarkan beberapa heuristic sederhana untuk membantu para bisnis dan individu berkembang maju dalam hidup yang penuh ketidakpastian. Namun, sebelum ia melakukan itu, Taleb menjelaskan bahwa orang/system/organisasi/hal-hal/ide-ide dapat dikategorikan di antara tiga: rapuh, memiliki ketahanan, atau antirapuh.

Kategori mana yang paling baik mendeskripsikan Anda? Mari kita melihat ketiganya:

Si Rapuh

“Sekarang, apa itu rapuh? Yang besar, teroptimalkan, memiliki ketergantungan berlebihan pada teknologi, ketergantungan berlebih pada metode ilmiah dibandingkan heuristic yang telah teruji waktu.”

Hal-hal yang rapuh rusak atau menderita dari kekacauan dan keserampangan. Sistem/orang/hal-hal yang rapuh mencari ketenangan dari luar karena mereka lebih banyak merugi daripada diuntungkan oleh masa-masa ketidakpastian.

Taleb mengibaratkan si rapuh dengan kisah Pedang Damocles. Bagi Anda yang tidak akrab dengan mitologi Yunani, Damocles adalah orang istana King Dionysius II yang sangat iri terhadap kemewahan dan kekuasaan hidup raja. Sang raja menawarkan padanya untuk mencoba memegang tahta, agar ia dapat merasakan sendiri kehebatannya. Awalnya Damocles berbahagia dengan harta dan kemewahan barunya, dan gemar menyuruh para pembantu menjalankan semua perintahnya. Tapi, lalu Dionysus meletakkan pedang tajam—digantungkan pada rambut tipis kuda—tepat di atas kepala Damocles. Kapan pun rambut itu bisa lepas dan [pedang tersebut] langsung membunuhnya.

Tiba-tiba, menjadi raja tidak terasa begitu hebat.

Damocles mengiba-iba meminta Dionysius membiarkan ia pergi. Ia sadar ia tidak ingin se-‘beruntung’ raja lagi.

Dengan sukses dan kekuasaan besar muncul kecemasan dan masalah besar. Seperti disebutkan Shakespeare, “uneasy lies the head that wears the crown [ketidak nyamanan menanti orang yang memakai mahkota].” Ketika status dan harta Anda meningkat, tanggung jawab Anda pun semakin banyak. Lebih banyak uang, lebih banyak masalah. Ditambah lagi, Anda harus terus siaga untuk para penantang yang ingin mengambil alih tahta Anda. Itulah sebabnya Pedang Damocles adalah metafora yang baik untuk kerapuhan. Ketika Anda raja atau pada posisi kekuasaan, goncangan kecil dapat menjatuhkan seluruh bangunan Anda; Anda mungkin lebih rapuh daripada yang Anda pikir.

Namun, Anda tidak perlu berada pada posisi kekuasaan untuk merasakan efek Pedang Damocles dalam hidup Anda.  Pedangnya bisa jadi sesuatu seperti hutan. Ketika Anda dalam lubang tersebut semuanya tampak menyenangkan selama semuanya stabil, tapi tambahkan sedikit keguncangan—Anda jatuh sakit atau mobil Anda rusak—dan pedang pun terjatuh.

Jadi kita tahu bahwa hal-hal yang rapuh rusak dan menderita dari masalah atau kegoncangan. Tapia pa sebenarnya yang membuat sesuatu rapuh? Berikut ini beberapa cirri yang menurut Taleb menjadikan seseorang atau organisasi rapuh:

Hal yang Rapuh biasanya besar. Ukuran seringkali memberikan rasa aman yang palsu, tapi organisasi besar, seperti korporasi dan pemerintahan, biasanya kurang tangkas untuk kuat bertahan, apalagi menjadi lebih baik pada momen-momen kesulitan. Terdapat terlalu banyak komplikasi dan lapisan birokrasi untuk mengambil tindakan cepat.

Hal-hal yang besar itu seperti Titanic pada malam ketika ia tenggelam. Begitu bongkahan es terlihat, sudah terlambat untuk berbalik karena kemampuan membelok kapal terlalu lambat sedangkan radiusnya begitu lebar. Untuk secara sukses menavigasi menuju arah yang aman, lebih banyak waktu dibutuhkan—dan waktu seringkali merupakan kemewahan yang tidak dimiliki pada kondisi kritis.

Jadi dalam kondisi sulit, menjadi kecil dan tangkas ada untungnya juga.

Respon-respon terhadap keragaman dan tekanan berasal dari luar. Jika sesuatu yang rapuh mengalami tekanan, tidak ada sesuatu dari dalamnya untuk membantu melawan tekanan tersebut. Responnya harus berasal dari luar. Misalnya, jika gelas teh porselen terjatuh dari meja karena mejanya terdorong, satu-satunya yang akan mencegah gelas teh tersebut retak adalah suatu kekuatan atau objek dari luar—[misalnya] tangan atau busa untuk menyelamatkannya.

Hal yang sama berlaku pada orang atau perusahaan. Orang yang rapuh kemungkinan akan membutuhkan bantuan dari luar ketika hidupnya menjadi sulit karena mereka kekurangan modal—bisa secara financial, social, atau emosional—untuk membantu mereka melewati badai.

Hal-hal rapuh terlalu teroptimalissi. Perusahaan, orang, dan organisasi rapuh seringkali terlalu cerdas untuk kebaikan mereka sendiri. Dunia modern kita terlalu terobsesi pada efisiensi dan optimalisasi. Perusahaan-perusaahaan berupaya menghasilkan sebanyak mungkin widget dalam jadwal yang ketat dan dengan harga serendah mungkin. Sama juga, para individu diminta untuk seefisien mungkin dengan waktu mereka.

Dan itu berhasil… jika semuanya bekerja sesuai rencana. Tapi segala sesuatu jarang sekali berjalan sesuai rencana. Keserampangan adalah aturannya, tidak ada pengecualian.

Permasalahan utama jika kita terlalu ter-optimalisasi dan efisien adalah kita tidak bisa memprediksi ketika permasalahan dan eror muncul. Dan seperti yang dicatat Taleb, ketika eror-eror yang tidak beraturan ini muncul dalam system yang terlalu teroptimalisasi “berbagai permasalahan akan bergabung, memperbanyak diri, membengkak, dengan efek yang akan membawa pada satu arah—arah yang salah.”

Ini contohnya:

Anda mendaftarkan diri untuk mengikuti pelayaran Eropa. Ia terjadwalkan untuk mulai berlayar dari Venice, Italia, tapi Anda tinggal di Tulsa, Oklahoma, jadi Anda perlu menaiki penerbangan internasional untuk mengejar pelayaran Anda. Anda mengoptimalkan rencana perjalanan Anda secara uang dan waktu—penerbangan pertama berangkat cukup siang sehingga Anda bisa masuk kerja setengah hari, dan Anda meminimalkan waktu singgah antar penerbangan.

Rencana perjalanan Anda yang sangat efisien itu menjadi sangat rapuh. Dengan waktu singgah 30 menit, Anda tidak boleh mengalami rintangan.

Anda melewati penerbangan pertama Anda tanpa masalah, tapi penerbangan berikutnya mengalami penundaan, sehingga Anda kehilangan penerbangan Anda ke Roma, dan karenanya kehilangan seluruh rencana pelayaran Anda. Karena Anda tidak memberikan waktu sama sekali dalam jadwal Anda untuk ‘cegukan’, upaya Anda untuk mengoptimalkan segala sesuatu menjadi sangat merugikan.

Saya pernah merasakan permasalahan optimalisasi-berlebihan dalam kehidupan pribadi dengan jadwal mingguan saya. Seringkali saya merencanakan pekan dengan begitu rinci, di bawah asumsi naïf bahwa tidak akan ada tugas atau gangguan muncul.

Tapi tentu saja, permasalahan yang tak terduga seringkali terjadi, memaksa saya mengubah jadwal. Karena jadwalnya terlalu ‘teroptimalisasi’, satu perubahan akan memaksa perubahan-perubahan lain, sehingga menciptakan kekacauan bagi saya. Saya membuat jadwal saya rapuh dengan terlalu banyak menjejalkan rencana di dalamnya.

Sistem dan orang yang rapuh berupaya menghilangkan keragaman, kebisingan, dan ketegangan. Karena system dan orang-orang rapuh tidak memiliki respon terhadap stress dan keragaman di dalamnya, mereka secara naïf berusaha menghilangkannya dari rencana. Tapi berusaha menghilangkan keragaman dan perubahan hanya akan menciptakan kekalahan. Ingat, sifat acak dan keragaman adalah peraturan, bukan pengecualian.

Berupaya untuk mengeliminasi stress dan keragaman tidak hanya sebuah kesia-siaan, tapi ia hanya membuat system dan orang-orang yang rapuh menjadi semakin rapuh.

Taleb menyebut orang-orang yang berupaya mengeliminasi volatilitas dengan sebutan “fragilistas.” Orangtua Helikopter (Helicopter Parents) adalah contoh hebat untuk fragilistas. Dalam upaya mereka membuat hidup seaman mungkin bagi anak-anak mereka, mereka sebenarnya sedang menyiapkan anak-anak mereka gagal ketika mereka menghadapi kesulitan sendiri. Jiwa manusia membutuhkan keragaman, tantangan, dan tekanan untuk menjadi kuat. Dengan menghilangkan sama sekali tantangan yang dihadapi anak, Orangtua Helikopter me-‘rapuh’-kan masa depan anak-anak mereka.

Bersambung…

Diterjemahkan dari: http://www.artofmanliness.com/2013/12/03/beyond-sissy-resilience-on-becoming-antifragile/

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Inspirasi, Terjemahan dan tag , . Tandai permalink.

Satu Balasan ke Melebihi Ketahanan ‘Cemen’: Menjadi Antirapuh

  1. Ping balik: Melebihi Ketahanan ‘Cemen’: Menjadi Antirapuh – Bagian II | Punya Hanna Wilbur

Komentar ditutup.