Melebihi Ketahanan ‘Cemen’: Menjadi Antirapuh – Bagian II


{Ingat baca dulu bagian pertamanya}

[Bagian II]

Yang memiliki ketahanan, atau kuat, tidak peduli jika kondisi menjadi tidak stabil atau merusak (hingga titik tertentu). Mereka tetap stabil pada waktu-waktu sulit maupun tentram.

Taleb menyamakan ketahanan (resiliency) dengan burung mitos Phoenix. Phoenix, jika Anda ingat, adalah burung abadi yang mati dengan api dan terlahir kembali dari abunya kembali ke keadaan semula. Phoenix tidak menjadi lebih baik atau lebih buruk dari siklus kematian dan kelahirannya. Ia tetap sama. Oleh karena itu, kuat.

Orang-orang bisa tetap bertahan ketika mereka sabar, tenang, dan dapat menguasai diri pada periode sulit. Buddhism dan Stoicism mempromosikan ketahanan psikologis, karena keduanya mengajarkan untuk tidak terpengaruh terhadap perubahan. Ketika secara mental kuat, Anda tidak peduli jika Anda kaya atau jika Anda kehilangan seluruh harta Anda dalam sehari.

Ketahanan atau kekuatan, tentunya lebih kita inginkan dibandingkan kerapuhan. Kita semua perlu terus menjadikan diri, bisnis, dan masyarakat kita lebih kuat dihadang ketidak pastian. Tapi, Taleb berargumen bahwa hanya mengejar untuk menjadi bertahan adalah pergerakan yang “cemen” karena sebenarnya Anda sedang bertahan dengan status quo. Tentu saja, jika Anda kuat, Anda berdiri kembali dari kesulitan, tapi Anda berdiri kembali ke kondisi awal sebelum terjatuh.

Untuk menjadi benar-benar efektif dalam dunia yang rumit, tidak beraturan, dan resiko, Anda tidak bisa berhenti pada ketahanan cemen. Kapanpun Anda bisa, Anda perlus selalu mencari peluang untuk tumbuh dari keserampangan, ketidak pastian, dan kesulitan. Sasarannya adalah bergerak melebihi ketahanan untuk menjadi anti-rapuh.

Bersambung…

Diterjemahkan dari: http://www.artofmanliness.com/2013/12/03/beyond-sissy-resilience-on-becoming-antifragile/

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Homeschool, Terjemahan dan tag , , . Tandai permalink.