Tips Irit tapi Bukan Pelit untuk Generasi Gemilang


great teacher - great artistDi dunia pendidikan, dari dulu aku denger isunya itu-itu… aja; kurang duit. Aku sangat tidak setuju dengan pendapat ini. Dimana-mana, semakin banyak duit biasanya semakin banyak masalah. Weleh-weleh, dasar si Hanna anti-mainstream heheh.

Kita seringkali menyamakan ‘baru’ itu artinya ‘bagus’. Jadi, kita fokus pada fasilitas; meja-kursi baru, buku baru, alat peraga baru, guru-guru baru… oops.

Aku sangat terinspirasi oleh ibuku, seorang guru bahasa Inggris, ketika dulu masih mengajar. Beliau begitu kreatif punya segudang cara membimbing anak-anak belajar tanpa banyak duduk manis dan mengeluarkan uang. Sebenarnya yang beliau lakukan hal-hal sederhana yang semua orang bisa lakukan, menyenangkan bagi guru dan siswa, dan efektif membimbing siswa belajar.

Beruntung pula aku bertemu dengan guru-guru kreatif semasa sekolah dulu, dimana mereka bisa membuat anak-anak didiknya melejit tanpa perlu banyak keluar duit—tapi bukan pelit loh, ya…

Berikut ini beberapa pengalaman aku irit-tapi-bukan-pelit untuk generasi gemilang

1. Membuat alat peraga sendiri.

Ada banyak buku-buku games sebagai inspirasi untuk para guru. Baca dan uji cobakan di kelas, ajak anak-anak membuat kreasi alat peraga tersebut. Malah, banyak permainan edukasi bagus yang tidak butuh alat peraga sama sekali.

Pernah ibuku mengumpulkan dan membawa baju-baju bekas ke sekolah. Di kelas, siswa yang terpilih diminta untuk memilih baju yang mau ia kenakan dari tumpukan baju di kotak di luar kelas. Lalu si anak masuk ke kelas, lalu ibuku bertanya ke anak-anak yang lain, “What is she/he wearing? [apa yang dia kenakan?]”

Lalu ada juga game Mr. X dimana anak-anak harus berkeliling sekolah mencari ‘petunjuk-petunjuk’. Ada juga permainan berjualan dengan uang-uangan buatan sendiri. Dan buaaaanyak ide lainnya.

Ini menginspirasi aku untuk banyak berkreasi membuat alat peraga pembelajaran sendiri waktu sekolah dulu. Dan ini aku lanjutkan kepada anak-anakku.

HS Ideas 4 Sept 13 (1)

Ini Poster yang aku buat waktu SMA.

04092012391

Ini poster yang aku buat untuk anakku untuk belajar nama-nama hari.

HS Ideas 4 Sept 13 (7)

Ini juga alat peraga yang aku buat sendiri dari rol tisu yang ditempeli simbol huruf dan angka untuk anak aku.

2. Sampul buku dari kertas Koran.

Ini mungkin lebih untuk buku-buku beliau (ibuku) sendiri. Beliau tidak malu untuk menyampulkan bukunya dengan Koran atau kertas kado bekas. Ini juga pernah aku terapkan waktu SD. Aku inisiatif menyampul beberapa bukuku dengan koran.

3. Membuat buku tulis.

Di usia menjelang 5 tahun, sebelum masuk TK, ibuku mengajari aku cara membaca dan berhitung. Beliau memanfaatkan kertas-kertas bekas dari kantor ayahku, memotong-motong, dan meng-hekter-nya hingga menjadi buku. Ada buku belajar membaca dan ada buku belajar berhitung.

Aku yang saat itu masih 5 tahun tidak peduli bukunya bekas atau hasil rakitan dari kertas-kertas sisa, yang pasti ketika masuk TK aku sudah mahir membaca. Dan aku begitu cinta membaca—hingga sekarang.

4. Kliping.

Beberapa waktu yang lalu seorang temanku,  meminjamkan kliping koran yang ia buat semenjak SMA untuk anak-anaknya kelak. Wuih, visioner sekali beliau. Kita doakan semoga beliau segera mendapatkan pendamping yang terbaik😀.

Ini mengingatkanku bahwa waktu sekolah dulu, aku senang mengkliping tulisan yang aku temukan dari koran maupun majalah. Tapi, ada dimana mereka sekarang, ya? Kayaknya perlu aku lanjutkan tuh🙂.

5. Membuat jus sendiri.

Apa hubungannya ini???

Eits, otak kita membutuhkan berbagai bahan baku dari alam untuk dapat bekerja dengan baik. Seperti membangun rumah, kita pasti pilih bahan terbaik, begitu pun untuk otak dan fisik anak-anak.

Kalau kita berkeliling, pasti yang namanya jus kemasan itu mahal, dibandingkan dengan membeli buah dan nge-jus sendiri. Jangan juga tertipu iklan, karena kita harus curiga, bagaimana mungkin jus kemasan bisa tahan lebih dari dua hari dalam kotak dan dalam kondisi yang ‘baik’. Hayo kenapa? Lalu kenapa jus kemasan diberi lagi perisa? Kenapa pula di dalam jus kemasan ada ‘garam’?

Aku termasuk rajin membaca label kemasan makanan, dan daripada ragu-ragu, lebih baik rajin nge-jus sendiri. Mengkonsumsi jus buatan sendiri sangat menghemat uang, mengurangi sampah kemasan, mengurangi jus yang terbuang (karena ketika minum dari kemasan, ada kecenderungan meninggalkan sisa jus, kan?), dan tentu saja lebih menyehatkan—karena menggunakan buah asli segar.

6. Jalan kaki ke sekolah dan mendapatkan sinar mentari pagi.

Pasti di sini ada yang protes, “Sekolah anakku jauh…”

Ini kembali ke definisi masing-masing mengenai jarak ‘jauh’ dan ‘dekat’. Memang ini subjektif, tapi aku bukan mau membahas ini. Yang pasti, olahraga itu perlu setiap hari, dan anak-anak itu butuh mendapatkan sinar mentari pagi untuk kesehatan.

Terimakasih kepada ayahku yang dulu rajin membawaku jalan-jalan. Ketika akhirnya aku bisa naik angkot sendiri ke sekolah (kelas 4 SD), aku berjalan kaki setengah jalan, dan naik angkot sisa perjalanan berikutnya. Uang yang tersimpan karena tidak naik angkot aku kumpulkan, lalu jadikan modal usaha untuk berjualan di sekolah!😉

7. Dan banyak pengalaman lainnya.

Apa tips irit tapi bukan pelit untuk generasi gemilang Anda? ^_^

“Tulisan ini diikutsertakan pada Giveaway Irit tapi Bukan Pelit yang diadakan oleh Kakaakin”

Dan alhamdulillah menang juara 2 (^_^) dengan hadiah pulsa Rp 50.000!

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Homeschool, Inspirasi, Kesehatan, Lomba dan tag , , . Tandai permalink.