Seluruh Dunia Ini adalah Tempat Bermain


Ada kalanya orangtua merasa risau karena tidak bisa memberikan ‘segalanya’ pada anak–termasuk mainan baru, mainan yang banyak, dsb. 

Walaupun semenjak hamil aku dan suami sudah memutuskan untuk tidak membiasakan anak jajan dan membeli mainan, namun rasa ingin membelikan itu tetap ada.

Beruntung kami diberi keterbatasan ekonomi waktu itu.

Tapi jangan salah, anak-anakku mainannya banyak sekali–mainan peninggalan orangtuanya waktu kecil hehe. Tak hanya mainan, tapi buku-buku anak-anak yang dulu kakek-neneknya belikan untuk Uminya masih ada. 

Buku-buku yang menemaniku menjelajahi dunia dan melakukan berbagai eksperimen sederhana, kini berada di tangan anak-anakku. 

Hal positif dari keterbatasan ekonomi kami waktu dulu adalah meningkatnya peluang kreatifitas. Ini benar-benar anugerah yang besar. Kini, meskipun kami mampu membelikan anak-anak mainan baru, namun aku lebih memutuskan untuk berupaya memanfaatkan mainan yang ada dan membuat mainan baru dari barang-barang yang ada (baca: Tips Irit tapi Bukan Pelit untuk Generasi Gemilang). Lucunya, lama kelamaan ide-ide itu datang dari anakku sendiri. 

Aku biarkan mereka main panci, wajan, dsb. Apa pun selama aman dan tidak mengganggu orang lain. Dan anak pertamaku, khususnya (karena usianya paling besar–3 tahun), sering membuat kaget dengan ide-ide segarnya. Beliau membuat kereta api dan mobil dari kursi-kursi ruang makan; membuat rumah-rumahan dari selimut, meja, kursi, kasur, dsb; membuat robot-robotan dari barang-barang tak terpakai di sekitar rumah; memanfaatkan bantal-bantal sofa untuk melakukan entah-apa–apa pun yang mereka mau. 

Aku sempat khawatir dengan kehadiran TV dan game komputer di rumah. Tapi, kalau aku pikir-pikir sekarang, aku tidak perlu khawatir, karena ternyata anak pertamaku lebih doyan menemaniku ke pasar di pagi hari, menemaniku membaca buku (sambil aku duduk membaca buku, anak-anak bermain dengan apa saja yang ada di situ), dan melakukan berbagai eksperimen. Di tengah-tengah itu barulah ia sisipi dengan menyalakan TV atau bermain game komputer.

Untuk mensiasati TV, waktu anakku bayi aku mencicil VCD anak-anak (dengan kisah teladan, dsb–bukan kartun disney dan semacamnya). Untuk mensiasati game komputer, aku hanya biarkan game-game yang ‘aman’ di komputer. Lalu aku pun browsing game-game edukasi di internet. Untuk inspirasi lebih lanjut bisa membaca How to Raise a Low Media Child.

Berikut ini beberapa kreasi anakku yang berhasil aku foto (ada banyak lainnya yang tidak ter-foto ^^)

Kata anakku ini adalah "Robot" dan "Ada tembakannya..."

Kata anakku ini adalah “Robot” dan “Ada tembakannya…”

Ini adalah pesawat terbang yang dibuat dari jepitan baju!

Ini adalah “pesawat terbang” yang dibuat dari jepitan baju!

Ini adalah "Guguk" [Hewan Anjing]

Ini adalah “Guguk” [Hewan Anjing]…

...dan ini adalah "Guguk Tinggi".

…dan ini adalah “Guguk Tinggi”.

"Bunga". Dia membuat beberapa versi 'bunga', dan ini adalah salah satu yang aku foto.

“Bunga”. Dia membuat beberapa versi ‘bunga’, dan ini adalah salah satu yang aku foto.

Benda apa ini? Dia belum punya label untuk kreasi yang satu ini, tapi dia tahu untuk apa...

Benda apa ini? Dia belum punya label untuk kreasi yang satu ini, tapi dia tahu untuk apa…

Foto-0295

^_^

Aku sempat khawatir anak-anakku tidak doyan membaca buku. Semenjak dahulu, menjadi seorang ibu tidak pernah menghentikanku dari memanfaatkan waktu luangku untuk membaca buku. Dan… belakangan ini anak pertamaku, yang semenjak kecil terlihat kemampuan kinestetisnya sangat tinggi (sehingga kurang doyan melakukan aktifitas yang duduk manis seperti membaca dan menggambar), suka mengambil buku dan minta ditemani membaca! Ow… rasanya terharu sekali. Aku benar-benar bahagia. Semoga istiqomah, anak-anakku doyan membaca semuanya. Aamiin.

Ini foto yang diambil oleh anak pertamaku. Aku tidak tahu ia memfoto adiknya, dan secara tidak sengaja turut memfoto (tangan) aku yang sedang membaca buku. Waktu itu aku lagi santai-santai membaca buku sambil membiarkan anak-anakku bermain apa pun yang sedang ingin mereka lakukan di dalam kamar.

Ini foto yang diambil oleh anak pertamaku. Aku tidak tahu ia memfoto adiknya, dan secara tidak sengaja turut memfoto (tangan) aku yang sedang membaca buku. Waktu itu aku lagi santai-santai membaca buku sambil membiarkan anak-anakku bermain apa pun yang sedang ingin mereka lakukan di dalam kamar. Kalau ia memfoto sisi lain ruangan ini, akan tampak barang-barang berantakan yang baru saja mereka mainkan.

🙂.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Game Software, Inspirasi, Keluarga. Tandai permalink.