Warisan Leluhur untuk Pendarahan Dalam


Ada cerita berharga ketika USG Senin lalu.

Sambil duduk di ruang tunggu, aku ngobrol dengan seorang ibu. Pembicaraan pun jadi mengarah ke mengapa beliau ada di situ.

Ibu X ini berusia 49 tahun. Sudah berkali-kali keguguran, dan memiliki penyakit kista menahun di rahim. Sudah lebih dari setahun ke belakang beliau mendatangi dokter satu ini. Selama setahun itu pula beliau terus-terusan pendarahan dari rahimnya. Berbagai obat farmasi telah diresepkan dan dicoba, dari yang murah sampai yang mahal, tapi belum ada yang menunjukkan hasil.

Ibunya Ibu X (sebutlah ‘Mama’) sudah lama menyuruh anaknya segera pulang ke kampung di Sumatera. Mama punya resep tradisional untuk pendarahan dalam. “Ini buka penyakit kampung,” kata Bu X kepada Mama. “Ini harus ke dokter.”

Mama masih berkali-kali mengajak anaknya pulang, tapi ibu X banyak beralasan, di antaranya ongkos yang besar untuk pulang.

Ternyata kesempatan untuk pulang muncul beberapa bulan yang lalu. Total Mama punya 6 anak dan semuanya merantau. Namun, kebetulan pada bisa ngumpul. Jadi, pulang kampung-lah ibu X ini.

Begitu sampai, Mama langsung merebus berbagai bahan alami lalu menyuruh ibu X meminumnya. Setelah seminggu rutin meminum ramuan buatan Mama, pendarahan dari rahim ibu X berhenti. Hingga kini sudah kembali ke Bandung, sudah 3 bulan tidak ada pendarahan lagi (padahal sebelumnya sudah bertahun-tahun beliau banyak masalah di rahim). Kini ibu X mau ke dokter untuk USG, melihat kondisi kista di rahimnya.

Bu X cerita Mama itu usianya 80-an, tapi masih kurus dan fit, bahkan rambutnya masih banyak yang hitam. Tidak pernah Mama minum obat farmasi, setiap kali terasa kurang enak badan, dan ini relatif jarang, beliau langsung keliling mengumpulkan bahan-bahan, dari kebun maupun pasar, lalu meminum racikannya sendiri.

Ketika anak-anaknya pulang ke kampung, semuanya sakit-sakit dan gendut (kata-kata ‘sakit-sakit’ dan ‘gendut’ itu istilah dari bu X sendiri). Selain itu, semuanya punya permasalahan sakit kaki. Mama yang dengan rajin menyiapkan ramuan untuk kebutuhan masing-masing anaknya. Ada yang diminum, ada yang dioleskan ke kaki, dsb.

“Obat direbusin… kamu tinggal minum…” Mama memarahi ibu X. “Di kampung gak ada dokter… (tapi bisa sehat)”

Bu X cerita, sampai sekarang Mama tidak mau keramas memakai shampo dari pabrik, beliau masih memakai santan kelapa dan jeruk nipis. Rambutnya masih lebat dan hitam, dengan uban hanya di bagian tertentu.

Aku banyak bertemu kasus seperti ini, dimana generasi yang lampau kualitas hidupnya jauh lebih tinggi dibandingkan generasi saat ini. Padahal dulu gak ada produk farmasi, suplemen, dsb.

Kembali ke Bu X. Ketika namanya dipanggil, aku pun jadi ikut antusiasi menunggu-nunggu bu X keluar. Begitu keluar Bu X dengan senang bilang kistanya sudah menipis, tinggal sedikit lagi. Alhamdulillah…

Aku udah pengen minta nomor hape Bu X, minta tolong untuk menanyakan resep-resep Mama. Bu X malah enggak mau 😥 *Sedih*. Semoga suatu saat ketemu lagi ama Bu X, atau ketemu orang lain yang seperti Mama-nya Bu X yang bisa memberikan resep-resep warisan yang aman dan efektif :).

Oh ya, untuk kasus Bu X, obat yang beliau minum terdiri dari sarang semut dan honje yang direbus lalu diminum airnya. Katanya ada di toko obat di Pasar Baru, Bandung. Resep ini juga suka diminum oleh orang-orang pasca operasi, kata Bu X.

Ini sekilas info aja, siapa tahu bermanfaat :).

Iklan
Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesehatan. Tandai permalink.