Sisi Pendidikan dari Merawat Anak


Updated: 9 Juni 2014 [karena gemes jadi ada tambahan-tambahan dalam tulisan ini :P]

storytime_with_babyWaktu saya kecil liburan ke rumah sepupu. Ayah-ibunya (sepupu saya) bekerja dari pagi sampai sore menuju malem, dan anaknya yang waktu itu masih bayi dititipkan ke ART. Subhanallah… ART galak sama bayinya, tapi kalo ada ayah-bunda si anak, beliau baik. Dulu saya sebel, berfikir kalau saya bekerja tidak akan disamakan antara ART untuk beberes rumah dengan yang urus anak.

Beberapa tahun berlalu, dan sy punya anak pertama pas kuliah. Anak beda-beda yang urus, kadang ART, kadang mertua, dsb. Saya malah lebih bersyukur temen2 kampus yang jaga anak, soalnya pola asuh mertua dan ART beda banget dengan saya ^,^’. Waduh, pusingnya karena saya dan suami kayak yang harus ‘memperbaiki’ apa yang kami anggap gak sesuai. Banyak deh contohnya hehe… (long story)

Lulus kuliah anak kedua usia 5 bulan. Saat itu mantaplah si saya fokus menjadi ibu rumah tangga. Untuk beberes rumah suami ridha dikerjain ART, tapi urusan jaga anak, harus sama ibunya, biar ‘gak banyak tangan’ hehe. Jaga fisik dan emosional anak memang bisa dititip ke yang lain, tapi urusan pendidikan, kerasa banget memang harus sy yang jadi manajer utama. Seperti kayak pas anak tantrum, ART/mertua gak bisa diharapin untuk tegas mendidik anak. Ada kalanya kita perlu mengatakan ‘tidak’ dan memberikan penjelasan-penjelasan apa adanya tentang sesuatu. Anak perlu tahu apa yang ‘baik’, ‘buruk’, ‘boleh’, dan ‘tidak boleh’.

Ketika anak mulai bisa bicara dia suka banyak tanya. Kalau tanya ke yang lain gak pernah ditanggepin serius, tapi kalau saya ato Abi yang ditanya kita pasti jawab selengkap mungkin, karena menurut kami itu penting untuk perkembangannya. Hasilnya, anak lebih percaya untuk mendatangi kami dengan pertanyaan dan permasalahannya. Kami juga selalu jujur dengan anak, gak kayak yang lain yang suka menakut-nakuti (ih takut ada tikus…), memberi ancaman (nanti gak dikasih ini loh…), atau sebaliknya terlalu memanja, dsb. Kami juga suka mengajarkan hal-hal seperti sayang kepada hewan (tidak seperti yang lain yang suka geuleuhan dan bilang ke anak, “Ih geuleuh ada ulet bulu…”, misalnya).

Ada kelakuan khas anak-anak, yang saya lihat di anak pertama dan kedua; menangis jika menginginkan sesuatu. Kalau masih di bawah 1,5 tahun saya masih memaklumi, tapi setelah itu harus mulai membiasakan dia meminta dengan cara yang baik. Ketika Azmy menangis teriak-teriak saya tidak akan memberikan apa yang dia minta, “Azmy, kalau mau sesuatu harus minta baik-baik. Kalau apa yang Azmy mau belum ada, Azmy harus sabar.” Seringkali kita harus sabaaar sekali pas anak lagi tantrum, saya sengaja sibuk dengan aktifitas lain, membiarkan dia menangis. Awalnya seperti yang ‘jahat’, tapi di waktu lain anak akan berfikir, “Geuning kalo nangis aku gak dapet apa yang aku mau…” hehe dan ia pun meminta dengan cara yang lebih baik. Kini, anak kedua pun perlu dibimbing untuk meminta dengan baik-baik. Kalau Apta mulai mau menangis, saya langsung bilang, “Enggak nangis. Apta kalo mau sesuatu ngomong baik-baik. Apta mau apa? (senyum)”

Azmy semenjak kecil suka nonton acara TV balapan motor atau mobil (ngikutin abinya :P). Saya suka mengingatkan betapa pentingnya keamanan dan tempat yang khusus untuk balapan. Jalanan umum bukan tempat balapan, harus ada aturan-aturan yang diikuti untuk menjaga keamanan pribadi dan orang lain. Semoga diskusi-diskusi seperti ini terekan di otak bawah sadarnya sehingga nanti ketika punya kendaraan pribadi akan lebih mawas diri dan peduli memperhatikan keselamatan orang lain.

Junk Food worse than cigarettesTidak membiasakan anak untuk jajan juga sangat membantu; anak lebih terbiasa belajar sabar. Awalnya mertua suka mengejek kami karena tidak suka memberi jajan anak. Alhamdulillah mereka justru akhirnya mendukung, karena Azmy ketika dititip ke mereka gak pernah minta beli macem-macem, jadi mereka tidak kerepotan ketika pergi jalan-jalan😛.

Anak belajar bukan hanya dari nasihat kita, tapi dari tindak-tanduk kita. Bagaimana kita menghadapi masalah, bagaimana menghadapi orang di jalan (misalnya bilang ‘punteun…’ kalau berjalan melewati orang), kebiasaan berdoa sebelum melakukan sesuatu (doa mau makan, doa memakai pakaian, doa masuk WC, doa keluar WC, dst). Saya juga suka sengaja menjadikan momen-momen untuk menjadi pembelajaran untuk anak, seperti mengajak anak jalan-jalan lalu mengajari anak nama-nama tumbuhan, nama-nama hewan, lalu mengizinkan anak ikutan masak di dapur lalu mereka belajar ngulek, mengaduk, dsb. Lalu saya juga mengajarkan anak tentang hal-hal sederhana seperti ‘ini lebih panjang dari ini’ dan ‘ini lebih pendek dari ini’, fenomena alam sehari-hari seperti hujan (plus membiasakan anak berdoa ketika hujan, “Allahumma shoyyiban naafi’aan… Ya Allah, semoga lebat dan bermanfaat.”), petir, dsb.

Membiasakan anak menggunakan tangan kiri dan kanan juga menurut aku penting. Kalau pakai baju, masukin tangan kanan dulu, kaki kanan dulu. Ketika buka baju, keluarin tangan kiri dulu, kaki kiri dulu. Ketika masuk WC pakai kaki kiri dulu baru kaki kanan. Pas keluar WC pakai kaki kanan dulu lalu kaki kiri.

Saya sangat suka membaca buku. Bahkan di ruang TV ketika anak lagi nonton, saya sih baca buku aja di sofa. Anak-anak pun jadi penasaran dan suka ambil-ambil buku dari rak dan minta dibacakan.

My mom gave birth to a legendBagaimana kita menjawab ketika tidak tahu jawabannya juga penting. Seperti misalnya, “Wah, Umi belum tahu. Kira-kira kenapa, ya? Nanti kita cari tahu jawabannya di buku.”

Saya terharu ketika suatu malam kami bertiga (saya dan kedua anak) jalan-jalan lalu melewati sebuah kebun penuh dengan kunang-kunang. Anak pertama nanya, “Umi, kenapa kunang-kunang nyala kalo malem-malem?” Saya balik nanya, “Hm… kenapa, ya? Umi juga belum tahu.” Lalu anak pertama bilang, “Nanti kita cari tahu ya Umi, di buku.”

Berbagai peristiwa sehari-hari juga bisa menjadi peluang untuk mengajarkan hikmah tentang kehidupan. Seperti ketika anak bertanya tentang “Umi, serangga makan apa?” atau “Pohon makan apa?” Selain memberikan jawaban langsung (“serangga ada yang makan daun…” de el el), di akhir penjelasan saya menyelipkan kata-kata seperti misalnya, “Subhanallah ya, Allah itu udah menyiapkan rizki untuk setiap makhluknya.” Atau contoh lain pengalaman di angkot dimana anak belajar tentang sabar dan syukur.

Bersyukur saya diberi kesempatan untuk menerapkan ilmu dan pemikiran-pemikiran pendidikan kami kepada anak (kalau gak jadi ibu rumah tangga kan, bakal lebih terbatas dan banyak tergantung kepada orang lain >_<). Dan bersyukur saya punya suami yang kompak dengan saya soal pendidikan anak.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Homeschool, Keluarga dan tag , . Tandai permalink.