Pengalaman Aku Keguguran dan Tidak Apa-apa Mencari Second Opinion


Bulan Mei 2014 lalu janinku tidak berkembang dan rahimku pun mulai pembersihan secara alami. Jadi begini ceritanya…

Awalnya ada bercak darah pada subuh Sabtu 24 Mei lalu. Ketika itu tidak terlalu aku pikirkan, tapi baru aku anggap serius ketika bercak itu menetes-netes keluar berwarna coklat. Ketika ke bidan beliau tidak bisa memutuskan apa-apa dan merekomendasikan aku untuk USG.

Oke, malam harinya aku pun pergi ke dokter untuk USG.

Tanpa panjang lebar dokter X bilang janinku tidak ada (sel telurnya tidak berkembang), lalu langsung menyuruh aku untuk datang hari Senin untuk KURET. Beliau memberikan aku ½ tablet sesuatu (entah apa) dan secarik resep berisi suatu produk yang tidak bisa aku baca hehe.

Oke, saat itu aku lemes banget ketika keluar dari kantor dokter. Tapi beruntung suami masih berfikir logis dan menyemangati untuk mencari pendapat dari dokter lain.

Kebetulan kami ada pengalaman teman yang dulu disuruh kuret oleh dokter, namun ketika ke dokter lain katanya janinnya berkembang dengan baik. Alhamdulillah kini anak mereka tumbuh dengan sehat, hanya berbeda 1 tahun dari anak pertamaku. Gak kebayang kalo dulu janin yang sehat dikuret😥.

Malam Sabtu itu aku pun shalat istikharah meminta ditunjukkan jalan yang terbaik.

Keesokkan harinya, pada Minggu pagi, aku punya firasat. Belum terbukti sih, tapi hanya feeling yang perlu aku kaji lebih jauh; Masa iya sih, kalau keguguran harus melalui proses kuret dimana isi rahim dikeluarkan secara paksa? Bagi aku saat itu prosedur itu terasa begitu… maaf—barbar. Pada hari Senin pagi aku pun membaca-baca kisah keguguran para bunda lain di internet. Setelah lama malang melintang, saat itu setidaknya aku punya opsi lain; minum obat peluruh.

Pada hari Senin malam kami pun mendatangi dokter lain (sebutlah dokter Y) dan ternyata hasilnya sama; janinnya tidak ada. Dokter Y itu bersikap sangat baik dan prihatin. Beliau lalu memberikan resep berisi produk antibiotik dan produk untuk pembersihan rahim (opsi kedua: minum obat). Dokter Y juga memperingati agar banyak-banyak minum teh manis dan sari kurma untuk menguatkan tubuh selama meminum produk obat yang diresepkan tersebut.

Sampai di rumah, keesokan paginya aku pun mencari info tentang obat yang dokter Y resepkan—Cytotec. Aku pun mendarat di informasi mengenai Cytotec di situs webmd.com, situs kesukaanku dalam mencari informasi produk obat farmasi.

Setelah selesai membaca tentang cytotec itu, aku pun masih kurang sreg, khususnya mengenai efek sampingnya (panjang amaaat). Apalagi sudah hampir 3 tahun aku tidak mengkonsumsi obat farmasi apa pun, jadi kemungkinan besar respon badan aku bakal lebih hebat lagi (lebih sensi gitu…). Saat itu muncullah opsi ketiga… biarin aja tubuh membersihkan rahim secara alami.

Maksudnya begini, buktinya hingga saat itu darah masih terus keluar, seperti menstruasi, berarti tubuh aku tahu dong bahwa sel telur itu tidak berkembang dan sudah waktunya ‘bersih-bersih’. Ini kan sama seperti menstruasi yang terjadi setiap bulan dimana tubuh sudah punya semacam alarm kapan waktunya mulai mengeluarkan isinya.

Aku pun meminta waktu 40 hari kepada suami untuk pembersihan rahim secara alami. Untuk melancarkannya aku akan minum kunyit asam dan rebusan daun sirih setiap hari hingga darah berhenti keluar.

Pada hari berikutnya aku pun cerita pada ibu asisten rumah tangga mamaku. Beliau sudah berusia di atas 60, dan uniknya beliau pun pernah seperti aku, gugur di usia kandungan sebelum 3 bulan. Ketika itu tidak ada dokter maupun USG di kampungnya, dan rahim bersih secara alami; beliau merasakan darah keluar seperti menstruasi selama seminggu, lalu 2 bulan kemudian hamil kembali dan 9 bulan kemudian melahirkan bayi dengan selamat (yang kini anaknya telah dewasa, dan menjadi salah satu tetangga aku😀 ). Kisah ART ini memberi semangat bahwa keputusanku ini tidak salah. Di waktu lain aku pun bertemu ibu-ibu lain dengan pengalaman sama dan beliau tidak minum obat farmasi apa pun untuk memaksa pembersihan rahim, namun rahim pun bersih kembali secara alami.

Alhamdulillah pada hari Sabtu tanggal 7 Juni 2014 darah terakhir keluar dan berhenti sama sekali hari Minggu 8 Juni.

Ada momen gak enak juga sih, yaitu pas keluar potongan daging dari rahim. Itu pas hari Jumat tanggal 30 Mei 2014. Keluar daging dari Subuh, tapi mules-mules seperti mau melahirkan dari jam 1 sampai setengah 6 sore. Itu benar-benar menyakitkan! Beruntung suamiku siaga, terus memegangi tangan aku selama sakit dan melayani semua kebutuhanku, seperti membelikan popok dewasa, makanan dan minuman (di antaranya air kelapa dan kacang goreng), dan menyediakan ember berisi sedikit air di samping tempat tidur untuk muntah.

Mendekati akhir mulas-mulas aku sempet minta dibelikan paracetamol untuk meredakan nyeri. Saat itu kondisinya lagi sulit karena anak-anak tidak ada yang jaga, suami tidak bisa pergi, dan menitipkan ke orang lain pun belum bisa. Eh, paracetamol ‘datang’ ketika sudah beres mules-mulesnya, jadi tidak aku konsumsi😀.

We dont need to be shoemakersOke, jadi ada 2 opsi yang ditawarkan dokter; kuret dan obat farmasi, dan 1 opsi yang tidak ditawarkan yaitu pembersihan secara alami. Ternyata pilihan ketiga yang relatif paling sedikit efek samping. Aku gak bilang ini cocok untuk semua orang, ya… tapi pilihan ini ada, dan bisa dibahas dengan dokter.

Sebenernya ini pengalaman unik aku berhadapan dengan dokter dan bagaimana kita sebagai pasien punya hak untuk mencari pendapat kedua (second opinion) dan/atau membuat keputusan selain daripada yang ditawarkan oleh dokter. Alhamdulillah aku terlindungi dari melewati sebuah prosedur yang sebenarnya tidak perlu aku lewati—dan aku membuat pilihan berdasarkan pertimbangan serius, bukan sekedar ‘kata dokter’.

Di kemudian hari aku tahu dari kisah nyata teman adikku bahwa ada dokter yang dengan mudah membuat keputusan kuret. Sampai-sampai salah satu perawat menyuruh untuk mencari second opinion saking terlalu mudahnya sang dokter menyuruh pasiennya untuk dikuret. Hiiii sereeem…

Update: 2 Oktober 2014

Faktor terbesar yang kemungkinan besar nyebabin janin tidak berkembang adalah aku rajin minum air daun sirih dalam jamu setiap hari selama hamil. Oke-oke, banyak yang mungkin protes, tapi asli saat itu aku gak tahu. Oke, kini aku tahu, dan tidak akan diulang🙂.

Air rebusan daun sirih cocok diminum untuk yang ingin membersihkan rahimnya, seperti pasca haid, nifas, dan pasca keguguran.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesehatan, Serba-serbi dan tag , . Tandai permalink.