Minat Baca: Bekal Remaja ke Dunia


Waktu kecil aku seneng banget baca buku. Gak terbatas di komik, cerpen anak, dan novel. Walaupun ada buku-buku yang pas dibaca aku belum ngerti, aku selalu berfikir, “Suatu saat nanti aku akan mengerti.”

Beruntung aku seneng membaca, banyak buku-buku yang ‘menyelamatkan nyawa’ aku pas menderita depresi di masa remaja. Kalau flashback sekarang, aku ngerasa gak akan bisa selamat melewati itu semua tanpa ‘dorongan’ buku-buku yang aku baca.

Membaca banyak buku ibarat memiliki banyak penasehat. Aku sengaja mengelilingi diri dengan penasehat-penasehat berkualitas, orang-orang jauh yang bisa aku temui suaranya melalui karya bukunya. Ada buku yang aku baca ketika SD kelas 5, tapi baru ‘kepake’ ketika remaja, judulnya “Memimpin Sejak Usia Muda”. Lalu ada buku 7 Habits, Rich Dad Poor Dad, The Instant Manager, Ayah Satu Menit, buku-buku Accelerated Learning dan Teaching, dst.

Hikmah besar buat aku sebagai orangtua adalah jangan meremehkan masa remaja. Persiapkan anak semenjak kecil, karena pada saat ia memasuki usia remaja, orangtua sudah tidak punya ‘kuasa’ lagi. Remaja akan lebih mendengar teman-temannya. Nah, dengan siapa dia memutuskan untuk berteman dan bacaan/kegiatan apa yang akan dipilih ditentukan oleh pendidikan orangtua sebelumnya (ketika masa anak-anak), selain kecenderungan anak itu sendiri.

Semenjak anak bayi, aku bilang ama suami, kita punya waktu sampai usia 15 tahun–atau mungkin kurang, untuk menyiapkan anak menghadapi dunia. Dengan cara memberikan bekal-bekal ‘kecil’ untuk anak agar mandiri untuk membuat keputusan sendiri. Salah satu di antara bekal kecil itu adalah kemauan untuk terus belajar–salah satunya dengan minat baca.

Minat membaca tidak bisa dipaksakan, tapi perlu ditanam dan dipupuk, salah satunya dengan menciptakan ‘reading friendly’ environment di rumah dan memberi teladan suka membaca.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Homeschool, Inspirasi. Tandai permalink.