Cinta Tak Kan Terbagi


Wah, judul postingan ini romantis sekali hehe…  Yang pasti ini bukan membahas pacar, walaupun bisa juga membahas pasangan hidup (suami/istri) dan anggota keluarga yang lain. Tapi tema utama tulisan ini adalah tentang anak-anak, dan cintaku pada mereka sebagai seorang ibu.IMG_20141015_103807

Aku terus menerus mendapat kesan dari orang bahwa ketika mereka nambah anak, maka cinta mereka akan ‘terbagi’, sehingga rasa sayang kepada anak sebelumnya—dan kepada masing-masing anak—menjadi berkurang.

Ketika aku baru menikah dan belum dikaruniai anak, rasa cintaku besar kepada suami, namun apakah aku tidak lagi cinta pada ibu-ayah dan saudara-saudaraku? Tidak. Semua mendapatkan kasih sayang aku, dan tidak berkurang kasih sayangku kepada keluargaku meskipun sudah bersuami. Rasa cinta pada suami adalah rasa cinta baru untuk dipupuk, tanpa mengurangi ‘jatah’ rasa cinta pada ibu, ayah, dan anggota keluargaku yang lain.

Kemudian anak pertama pun lahir (yang sudah aku cintai jauh-jauh hari sebelum ia lahir). Lahirnya anak pertama menumbuhkan cinta baru dalam hati. Cinta itu melahirkan perjuangan baru dan memori-memori baru. Namun, apakah ‘jatah’ kasih sayangku pada suami jadi berkurang? Tidak. Malah justru semakin bertambah. Apalagi melihat suami yang berjuang semakin besar untuk bisa merawat anak kami bersama, maka rasa sayang kepadanya justru bertambah.

Lalu lahir anak kedua. Tumbuh lah cinta yang baru, tanpa mengurangi ‘jatah’ cinta-cinta yang ada sebelumnya. Malah ketika anak kedua lahir dan berkembang, aku jadi semakin sayang pada anak pertama, karena memori lama ketika melahirkan dia (anak pertama) kembali muncul. Aku jadi punya tambahan warna dalam memandang dan menghargai anak pertamaku. Tanpa, tentu saja, berkurang rasa cintaku pada anak kedua.

Dan seterusnya.

Hatiku bukanlah ibarat wadah yang sudah pasti ukurannya, lalu aku harus membagi isinya yang terbatas kepada semua orang (sehingga semakin banyak orang maka akan semakin sedikit jatah masing-masing orang). Tapi, hati aku seperti tanaman yang terus tumbuh dan bertambah cabangnya. Dengan berjalannya waktu masing-masing cabang semakin kuat dan menumbuhkan cabang dan ranting baru.

Aku melihat kasih sayang ini sebagai abundant (berkelimpahan dan terus bertambah), bukan scarce (terbatas). Dunia ini pada dasarnya berkelimpahan dan mencukupi bagi semua makhluk hidup—termasuk kasih sayang. Sudut pandang manusia lah yang melihat segala sesuatu itu terbatas yang justru membatasi dia dari memberikan lebih, memandang orang lain sebagai saingan (misalnya orang tua yang tanpa sadar menanamkan kepada anak bahwa kakak/adiknya adalah saingan bagi dirinya, dst), dan khawatir akan kekurangan apabila ada orang lain.

Meskipun ada anak kedua, namun aku tidak berhenti bilang cinta kepada anak pertama dan suami aku. Aku masih sering memeluk, mencium, dan menyatakan cinta kepada suami dan anak pertama, tanpa mengurangi peluk, cium, dan ucapan cinta kepada anak kedua.

Senang dan jengkel juga aku ketika kedua anakku suka bertengkar sebelum tidur karena memperebutkan ‘lapak’ untuk tidur di samping aku. Walaupun aku sering gila dibuatnya, namun aku tidak lupa bilang—di sela-sela waktu tenang—bahwa aku tetap mencintai mereka berdua, terlepas dimana pun mereka tidur. Ketika mereka lagi bersikukuh ingin di-hug (peluk) Umi sambil tidur, aku memeluk dan mencium keduanya sambil bilang bahwa memang tangan Umi terbatas untuk memeluk mereka berdua pada saat yang bersamaan sesuai keinginan mereka, tapi walau demikian, rasa cinta di hati Umi tetap besar untuk keduanya.

Ini juga aku lakukan untuk hal-hal yang lain. Aku tidak mau di antara mereka ada perasaan bersaing ‘untuk mendapat cinta Umi’.

Alhamdulillah mereka berdua relatif semakin akur dengan berjalannya waktu. Padahal tidak ada hubungannya dengan materi. Memang secara materi aku tidak selalu membagi dua di antara mereka. Mereka harus memainkan mainan yang sama, peralatan makan yang sama (maksudnya tidak ada pernyataan khusus ‘gelas kakak’ dan ‘gelas adik’), dst. Tapi, momen berbagi itulah yang melatih mereka solution finding dan menjadikan mereka punya banyak memori bersama yang (semoga) terus semakin mendekatkan mereka. Materi yang terbatas adalah kesempatan untuk berbagi dan menambah makna pada kehidupan.

Di sini aku tidak akan membahas soal pilihan orang ingin punya anak berapa. Terserah orang mau punya anak berapa, masing-masing orangtua punya pertimbangannya masing-masing, dan tidak baik saling menghakimi orangtua lain karena memiliki pilihan yang berbeda.

Tidak.

Aku sedang membahas kasih sayang. Terlepas berapa pun anak yang diikhtiarkan untuk dimiliki dan dititipi oleh Tuhan YME. Yang pasti, berapa pun anak yang akan aku lahirkan (titipin Allah), aku akan mencintai semuanya, dan cintaku kepada masing-masing mereka akan terus bertambah, tanpa ada ‘jatah’ berkurang kepada yang lainnya.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Keluarga. Tandai permalink.