Pengalaman Melahirkan Anak Ketiga


No doctor can predict - HPLJadi, sekarang aku lagi menulis pengalaman melahirkan anak ketiga. Di antara yang menjadikan kelahiran kali ini menarik adalah karena keputusan aku dan suami untuk melakukan prosedur yang sedikit berbeda dari melahirkan sebelumnya, yaitu IMD dan DCC. Sebelum masuk ke pengalaman melahirkannya itu sendiri, aku mau sedikit menjelaskan IMD dan DCC supaya untuk selanjutnya lebih enak ceritanya😀.

IMD itu singkatan dari Inisiasi Menyusui Dini. Sederhananya, IMD itu adalah ketika bayi lahir langsung dikeringkan seluruh badannya kecuali tangan, lalu ditengkurapkan ke dada ibu dan dibiarkan mencari sendiri puting susu ibunya. Tenang, bayi tidak akan kedinginan karena mendapat kehangatan dari tubuh ibunya, lagian di atasnya dikasih selimut tipis. Penjelasan tentang IMD ini udah lumayan banyak, dan bisa dipelajari lebih lanjut buat yang penasaran.

DCC itu singkatan dari Delayed Cord Clamping, yaitu penundaan pemotongan tali pusat. Kan biasanya begitu bayi lahir langsung dipotong tali pusatnya, padahal plasenta masih memompa darah bayi. Nah, DCC itu prosedur membiarkan plasenta menyelesaikan memompa darah ke bayi dan baru memotongnya setelah berhenti berdenyut. Ini bisa berlangsung selama kurang lebih 2 menit. Pilihan untuk DCC ini adalah hak ibu dan bayi apabila sang ibu meminta, dan sudah dimasukkan ke dalam pedoman Intrapartum Care: Care of Healthy Women and Their Babies During Childbirth (cek halaman 70 dan 72). Untuk awal tentang DCC dan urgensinya bisa simak dulu presentasi 10 menit Dr. Alan Greene di TEDx, “90 Seconds to Change the World”, dimana DCC bisa mencegah banyak permasalahan yang biasa terjadi pada bayi (dan dewasa). Semua mamalia punya insting untuk tidak merusak tali pusatnya ketika melahirkan meskipun mereka mampu, dan manusia pun dulunya tidak langsung memotong tali pusat, tapi kebiasaan untuk langsung memotong tali pusat adalah trend yang baru dilakukan sekitar seabad ke belakang. Lebih lengkap bisa simak penjelasan Dr. Alan Greene di video presentasi TEDx.

Nah, IMD dan DCC ini pengen aku lakuin bersama, jadi selama tali pusat belum dipotong, dede bayinya ‘di-IMD-kan’.

Okay, itu tadi sedikit tentang apa itu IMD dan DCC.

Tapi, bagi aku pribadi, hal besar yang menjadikan kelahiran ketiga ini begitu istimewa adalah tentang keikhlasan—dan bagaimana ia membawaku melewati berbagai tahap dengan lebih tentram dan lebih mudah.

Ada lagi satu poin penting yang suami aku bilang penting untuk disampaikan. Banyak orang mengharapkan melahirkan dengan lancar, tapi tidak menghargai proses selama hamil. Padahal, kondisi ketika melahirkan sangat ditentukan juga oleh proses selama hamil. Jadi, melahirkan yang lancar harus diupayakan jauh-jauh hari sebelumnya. Setiap makanan yang kita pilih untuk dimakan, setiap minuman, produk yang kita pilih untuk dipakai, bacaan yang kita baca, tontonan yang kita saksikan, mind set, semua rutinitas kita akan mendukung—atau tidak mendukung—proses melahirkan yang lebih lancar.

Oke, lanjutkan. Ini adalah kehamilan pertama dimana aku tidak dikejar oleh deadline. Dan walaupun aku juga punya dua anak balita untuk diurus, tapi aku masih punya banyak waktu luang untuk menyiapkan mental menghadapi kelahiran. Peluang bagus ini aku manfaatkan dengan baik dengan banyak memikirkan hal-hal yang baik, berdoa, membaca buku, membaca Quran, mendengarkan diskusi di radio, dst. Pokoknya take it easy gitu deh. Aku juga berusaha untuk semakin meningkatkan pengontrolan emosi dan menjaga mulut dari mengatakan hal-hal yang kurang bermanfaat.

Kalau bercermin ke belakang, momen slow-down inilah yang menjadi fondasi besar yang menyiapkan aku melewati proses melahirkan. Aku lebih paham untuk menghargai kebutuhan tubuh, mau mendengarkan sinyal-sinyal tubuh, dan sabar menunggu tubuh ini siap. Dan, perlu ditekankan momen slow-down ini maksudnya lebih ke mental, ya… Jadi, meskipun ada waktu-waktu ketika secara fisik aku sibuk—udar-ider ke pasar, beberes, menghadapi anak balita yang  tantrum, dsb—tapi secara mental aku tentram.

Perihal makanan, sama seperti kehamilan sebelumnya, aku berusaha makan-minum se-alami mungkin, tidak konsumsi mie dan bumbu instan, minuman bersoda, tidak makan di fast food restaurant, dst. Banyak konsumsi olahan sayuran hijau dan makan buah segar. Pernah di awal kehamilan aku sering kunang-kunang karena tekanan darah rendah, untuk menanganinya aku minimal seminggu sekali makan ati ayam. Di dekat rumah ada yang jual masakan dari ati ayam kampung yang menjadi langgananku, dan tidak dimasak dengan bumbu instan. Alhamdulillah kunang-kunangku hilang, tapi ‘balik’ lagi kalau dalam seminggu aku lupa konsumsi ati ayam. Mendekati waktu melahirkan aku juga konsumsi kurma (wah, beruntung sekali kehamilan sekarang mendekati waktu Ramadhan, jadi lebih gampang dapet kurmanya ^_^). Dan aku juga tidak konsumsi produk farmasi apa pun (ini termasuk pereda mual, dsb).

Aku mau sedikit komentar soal penjagaan makanan karena banyak orang meremehkannya. Suatu hari aku ngobrol dengan ibu-ibu soal melahirkan. “Dulu mah melahirkan teh meni gampang, langsung brojol-brojol aja…” seorang ibu sepuh komentar. Lalu aku menanggapi, “Oh gitu, bu? Kira-kira kenapa ya sekarang meni susah?” Terus ibu lain menanggapi, “Makanan. Sekarang mah makanan teh udah macem-macem, gak sehat…” Dan ibu-ibu lain meng-iyah-kan. Tapi sayangnya para ibu-ibu enggak mau menerima ketika aku sampaikan jangan konsumsi bumbu dan mie instan hehe… Di satu sisi ingin menyalahkan pihak lain, dan di sisi lain tidak mau mengontrol diri untuk hal-hal yang berada di dalam kekuasaannya.

Ah, itu hanya intermezzo. Oke, lanjutkan.

Untuk mandi aku pakai bahan alami, termasuk untuk sikat gigi dan keramas. Dan perawatan kebersihan rumah pun memakai bahan alami (kecuali untuk cuci piring yang bahan alternatifnya masih terlalu mahal untuk rutin aku pakai sehari-hari). Aku tidak memakai kosmetik, jadi tidak khawatir terpapar bahan kimia berbahaya dari kosmetik.

Ada waktu ketika aku rada kurang pasrah ke Allah; minta anak lahir tanggal 24 April—bertepatan dengan Konferensi Asia Afrika (KAA)😛. Nah, dari hari Sabtu sebelumnya aku mulai membaca Quran dari awal dan berniat khatam di hari Jumat. Alhamdulillah amazing sekali sodara-sodara, aku berhasil khatam baca Quran di hari Jumat itu! Sekalian aku juga mendoakan semoga acara KAA-nya berjalan lancar dan kalau ada orang-orang yang berusaha berniat jahat semoga digagalkan rencana kejahatannya hehe. Tapi… seperti yang semua tahu, aku ‘tidak jadi’ melahirkan pada tanggal itu. Oke deh, mungkin Jumat pekan berikutnya, tanggal 1 Mei? Dan ternyata bukan juga. Hm… mungkin pekan berikutnya, Jumat tanggal 8 Mei? Tidak juga… Ya udah deh, gimana Allah aja, da HPL-nya juga masih lama😄.

Seminggu sebelum hari perkiraan lahir (HPL-ku 19 Mei) aku teringat melakukan shalat dua rakaat setelah mendengar ceramah pagi radio, dan aku pun melakukannya; shalat dua rakaat dan sesudahnya berdzikir ‘astagfirullah al-’adziim’ sambil meresapi diri yang benar-benar membutuhkan kepada Allah. Selama beberapa waktu sebelumnya memang uniknya hati ini benar-benar merasa tentram dan rindu banget sama Allah, jadi ketika melakukan shalat dua rakaat ini hati semakin merasa gimana… gitu. Aku juga membiasakan berdzikir (secara lisan maupun di hati) ketika sedang melakukan aktifitas sehari-hari misalnya cuci piring, beberes, perjalanan ke pasar, dsb.

Selama waktu menunggu ini juga kan aku seneng buka-buka tulisan lewat internet, dan itulah dimana aku menemukan info DCC itu. Keputusan DCC itu enggak langsung datang begitu saja, tapi ada proses mempelajari dan menimbang-nimbang, dan membahasnya bersama suami.

Oke, jadi HPL (Hari Perkiraan Lahir) jatuh pada tanggal 19 Mei, tapi aku baru ke bidan beberapa hari sebelumnya. Waktu itu aku hanya bertemu dengan beberapa asisten bidan dan berusaha menyampaikan keinginanku untuk DCC dan IMD ini, tapi langsung ditolak dengan berbagai alasan. Saat itu aku berfikir mungkin aku yang kurang menyampaikan dengan baik. Jadi aku pun mengumpulkan beberapa tulisan untuk dibawa ketika membahas hal ini dengan bidan yang akan membantu kelahiran nanti. Tanggal 18-nya aku pun bisa menemui ibu bidan, dan dalam pembahasan ternyata ibu bidan gak mau. Intinya beliau belum terlatih untuk melakukan DCC dan gak mau mengambil resiko apabila ada apa-apa.

Dalam perjalanan pulang dari bidan hati sebenarnya awalnya kecewa banget, tapi aku mengikhlaskan dan tidak juga merasa ingin memaksakan keinginanku untuk DCC kepada tenaga kesehatan yang tidak terlatih melakukannya. Tapi, jadi aku harus kemana?

Dalam kebingunganku, sampai di rumah aku melanjutkan baca Quran, sambil menunggu siapa tahu Allah memberi jalan. Eh, tiba-tiba teringat ada nomor HP seseorang yang pernah jadi panitia acara home therapy yang dulu pernah aku ikuti. Langsung saja aku sms beliau—padahal orangnya yang mana juga aku gak tahu haha. Wah, luar biasa, beliau membalas sms-ku dengan bilang gak tahu soal DCC, tapi beliau merekomendasikan sebuah rumah bersalin dan memberikan alamat lengkapnya.

Aku pun diskusi sama suami. Karena kami sudah kepepet waktunya, suami memintaku untuk mengikhlaskan kalau-kalau belum menemukan nakes yang dapat membantu DCC. Aku bilang gak apa-apa, tapi masih penasaran pengen ikhtiar ke rumah bersalin yang direkomendasikan ini. Jadi keesokan harinya kami pun pagi-pagi berangkat ke sana.

Sampai di rumah bersalin, setelah mengantri sebentar, kami pun mendapat kesempatan check-up. Saat bidan membaca kartu informasi aku, ia pun kaget karena hari itu bertepatan dengan HPL. Sempet beliau mention sesuatu yang bisa membuat wanita lain deg-deg-an, tapi aku sih tidak (ting-ting-ting); Beliau bilang harus waspada karena sudah HPL tapi belum ada tanda-tanda melahirkan. Aku cuma senyum aja.

Beliau pun mempersilahkan aku naik ke atas tempat tidur. Sang bidan terkesan dengan perut aku, katanya enggak ada garis-garis bekas melahirkan. “Kayak melahirkan pertama…” katanya. Wah, hidung ini pun terbang ke langit, tapi keburu ditahan, dan bidan pun selesai melakukan pemeriksaan, dan aku pun duduk kembali di kursi. Selama pemeriksaan, ibu bidan dan asistennya begitu lembut padaku dan sempat mengelus-elus perutku dan mengajak ngobrol bayiku, “Ayo Dek, kapan mau keluar? Udah ada kakak-kakak yang mau main…” Rasanya seneng banget diperlakukan seperti itu oleh bu bidan.

Karena saat itu sudah HPL, bu bidan merekomendasikan aku di-akupunktur untuk merangsang induksi secara alami, sekalian merelaksasi tubuh untuk lebih siap melahirkan nanti. Aku pun menyetujui.

Lalu suami pun memulai menanyakan tentang IMD dan DCC dengan sangat hati-hati, “Bu, kami pernah sedikit baca tentang IMD dan DCC. Nah, itu gimana, ya?”

Wah, bu bidan langsung dengan semangat menjelaskan apa itu IMD dan DCC. Beliau pun menjelaskan bahwa di rumah bersalin ini keduanya sudah menjadi prosedur standar, di antaranya karena itu akan sangat membantu ibu untuk optimal menyusui. Mereka pun meskipun sudah ditawari berjuta-juta oleh produsen susu formula tapi mereka menolaknya. Makanya sama sekali tidak terlihat mereka menyediakan susu formula di rumah bersalin itu.

Saat itu hati aku seneng banget! Penjelasan ibu bidan soal IMD dan DCC sama banget dengan yang ada di pikiran aku. Alhamdulillah.

Setelah itu kami pun diajak ke ruangan lain untuk akupunktur. Awalnya sih takut lihat jarum, tapi ternyata gak sakit. Aku ditusuk di titik-titik khusus untuk merangsang mulas katanya, dan dibiarkan selama 30 menit. Asli, setelahnya badan begitu relax sampe-sampe aku bilang ke suami, “Abi, Umi merasa seperti jelly…”😛

Bu bidan mengingatkan kami untuk kembali ke sana di pekan itu untuk melakukan USG. Di sana ada jadwal praktek dokter kandungan setiap hari Kamis (dua hari lagi setelah hari itu).

Beres di bidan kedua ini kami pun memutuskan fix melahirkan di sana. Kebetulan rumah mertua lebih dekat jaraknya dengan rumah bersalin ini, jadi kami menyiapkan untuk tinggal dulu di mertua. Suami pulang lagi ke rumah untuk membawa berbagai keperluan ibu dan bayi, sekaligus baju untuk 2 anak kami yang lain.

Sebenarnya sudah sekitar 3 pekan ke belakang aku ngerasain bayi semakin turun, sampai-sampai kaki udah enggak bisa berjalan dengan rapat. Aku menanggapi itu dengan positif, dan sering  jalan-jalan untuk melatih otot bawah. Dan, ketika pulang dari bidan pada tanggal 19 itu, pasca akupunktur, semakin terasa lagi ‘turun’-nya bayi.

Oke, kami pun kembali ke rumah bersalin hari Kamis untuk USG. Sengaja kami mendaftar sebelum jam 1 siang, dan… akhirnya giliran kami dipanggil itu jam 4 lebih seperempat! Rame banget hari itu dengan para ibu-ibu yang mau USG.

Di dalam ruang praktek, sambil membaca kartu informasi aku, dokter mulai menyampaikan lagi apa yang diucapkan oleh bidan dua hari sebelumnya—sudah lewat HPL tapi belum mules itu harus waspada. Sebel juga aku dibilang begini karena USG-nya aja belum hehe. Terus beliau bilang kalau belum mules juga sampai beberapa hari, baiknya dikasih perangsang mules. Aku sih senyum aja sambil menolak dengan halus, aku bilang mau menunggu aja dulu.

Lalu aku pun dipersilahkan berbaring untuk di-USG. Setelah dicek hasilnya semua baik; kepala sudah masuk jalan lahir, denyut jantung baik, dan air ketuban pas-pas-an 😛 (gak deng, kata dokternya, ‘Cairan amnion minimal’). Iya sih, karena males bolak-balik ke WC, selama sebulan ke belakang aku mengurangi jumlah minum. Aku pun mentekadkan diri menambah asupan minum. Overall no problem (tuh kan… Alhamdulillah…😀 ). Saat itu asisten bidan juga begitu lembut padaku, ia mengelus perutku dan mengajak ngobrol bayiku sebentar, “Ayo Dek, nanti malem keluar, ya…” Rasanya seneng denger Dedek di perutku diajak ngobrol seperti itu.

Selesai cek, dokter menawarkan aku kembali kalau dalam seminggu belum ada mules. Oke, sip, Dok.

Dalam perjalanan pulang aku sempet ngobrol sama suami. Ternyata suami pun tenang aja dengan hari kelahiran yang ‘telat’. Selama tidak ada gejala negatif, maka kita tinggal bersabar, dan tubuh akan siap pada waktunya. Untung suamiku juga ber-mind set ‘gentle birth’ hehe… Dan kami pun ‘transit’ sebentar untuk beli air kelapa sebelum pulang kembali ke mertua. Aku juga sempat ‘asal’ ngomong, “Yah, ini nanti Dede bayinya lahir Jumat besok…” sambil mendoakan kapan pun dede lahir in shaa Allah lancar dan barakah😀.

Karena saat itu adalah malam Jumat, ketika magrib aku pun membaca surat al-Kahfi full. Selama beberapa waktu ke belakang memang aku membiasakan diri membaca keseluruhan surat al-Kahfi setiap Jumat. Lalu aku pun tidur untuk istirahat tidak lama setelah shalat Isya.

Hari Jumat itu aku terbangun pukul 3 pagi. Otot bawah rahim—jalur lahir—semakin terasa melebar, dan sudah terlalu sakit untuk duduk. Aku pun membuka Quran dan melanjutkan mengaji sambil berdiri dan/atau jalan-jalan bolak balik di ruang lantai atas. Saat itulah aku mulai merasakan kontraksi ringan secara berkala. Hah, it’s today!

Dengan tenang aku melanjutkan mengaji tanpa membangunkan siapa pun. Ketika terdengar adzan subuh aku pun langsung shalat lalu membangunkan suami shalat sekaligus menyampaikan aku sudah merasakan adanya mulas. Suami nanya apa perlu kita ke bidan. Aku bilang belum. Paling juga nanti disuruh jalan-jalan. Aku pun mengajak suami pergi jalan kaki untuk membeli bubur ayam nanti jam 8.

Lalu aku pun pergi ke WC dan ternyata sudah keluar flek. Alhamdulillah. Soon I will see you Dede, in shaa Allah.

Bersama dengan anak-anak, kami pun ngabring (jalan bersama-sama) ke tukang bubur. Lumayan perjalanan sekitar 10 menit ke tukang bubur. Lalu kami pun makan bubur di sana. Ketika sedang makan, aku melihat seorang pemulung lewat. Langsung reflex aku tanya suami, “Abi, bisa beli bubur satu lagi gak?” Suami bilang bisa. Langsung aku minta suami untuk membelikan bubur ayam untuk pemulung tadi. Suami langsung berjalan mendekati sang pemulung lalu mengajaknya makan bubur ayam, lalu beliau pun memesan bubur ayam untuk sang pemulung tadi ke tukang bubur.

Beres makan kami pun kembali berjalan pulang, tapi kini melalui arah yang berbeda. Setiap kali kerasa mules, aku pun berhenti berjalan sebentar, lalu kemudian melanjutkan berjalan.

Sampai di rumah, aku tiduran dulu di tempat tidur sambil suami menyiapkan keperluan untuk ke bidan. Lumayan aku bisa tidur sebentar hehe… Kami pun siap berangkat. Anak-anakku begitu mengharukan perilakunya; mereka memelukku dan mencium perutku. Ah, so sweet banget, Alhamdulillah :’). Aku pun berangkat bersama suami naik motor ke bidan.

Sampai di bidan sekitar jam 10 pagi. Kami lalu mengambil nomor urut dan mendapat nomor urut 3! (oke, kami punya sejarah panjang dengan angka tiga, dan munculnya nomor urut 3 adalah kebetulan yang menarik). Karena masih pagi dan belum banyak orang, kami langsung dipanggil dan aku langsung bilang sudah merasa mulas. Aku langsung dibawa ke ruang bersalin untuk diperiksa dan katanya sudah pembukaan tiga. Alhamdulillah. Kemudian bidan mengecek detak jantung bayi dan katanya terlalu cepat, jadi aku pun diberikan waktu beberapa menit untuk menghirup oksigen.

Karena sudah pembukaan, jadi kami pun dipersilahkan memilih kamar, lalu suami diminta untuk pulang mengambil semua keperluan ibu dan bayi.

Ketika suami kembali, ternyata masih ada beberapa perlengkapan yang kurang. Saat itu sudah sekitar jam 11, dan suami bertanya apakah tidak apa-apa jika ia tinggal. Suamiku baik sekali, ia selalu ada mendampingiku melewati proses melahirkan. Karena saat itu mulesnya belum hebat, aku bilang tidak apa-apa ia pergi, aku masih bisa tahan. Suami pun berangkat, dan asisten bidan setelah mengurus ini-itu pergi meninggalkanku sendirian di kamar. Aku lalu berganti pakaian dengan baju yang disediakan rumah bersalin, yaitu baju yang bisa dibuka kancingnya semua di bagian depan. Dan aku juga memakai kain samping.

Aku memutuskan melanjutkan mengaji sambil berjalan berkeliling kamar. Secara berkala sang asisten bidan akan datang untuk mengecek denyut jantung bayi, dan secara berkala pula aku akan pergi ke WC. Aku juga sempat berbincang-bincang sebentar dengan asisten bidan. Asisten bidan mengingatkan aku untuk mengkonsumsi kurma dan/atau sari kurma satu sendok makan setiap jam (untung aku sudah membekali diri dengan kurma dan sari kurma sebelumnya). Saat itu hati aku benar-benar tentram sekali walaupun sedang mengalami nyeri kontraksi.

Saat itu aku juga menyalakan radio melalui HP, dan mendengarkan ceramah sambil mengaji.

Sempat aku mendengar bidan ngomong sama asisten bidan bilang bahwa kemungkinan aku bakal melahirkan besok pagi.

Tapi koq saat itu tiba-tiba aku dapet lintasan bayangan dalam pikiran melihat jam dinding yang menunjuk ke angka satu. Sebuah firasat bayi bakal lahir jam satu siang, kah? Saat itu sempet bingung juga, karena hati rasanya ingin ditemani oleh suami ketika melahirkan, sedangkan jam satu kan pasti suami baru kembali dari Shalat Jumat.

Udah ah jangan dipikirin… Lagian belum tentu juga bayinya lahir jam satu. Kapan pun bayi lahir semoga lancar, sehat, dan barakah, Aamiin—begitu doaku.

Ada satu hal lagi yang perlu aku sampaikan soal melahirkan. Bagiku melahirkan bukan sesuatu yang ‘sekedar’ atau sesuatu yang ‘biasa’. Tapi, hamil dan melahirkan adalah suatu perjuangan mengantar seorang manusia baru yang akan mewarnai dunia. Sama seperti ketika melahirkan anak pertama dan kedua, saya melihat anak ketiga ini adalah seorang pejuang baru yang akan membawa perubahan positif bagi masa depan dunia. Ini bukanlah momen yang main-main, ini benar-benar adalah momen besar.

Aku membayangkan berbagai tantangan dunia saat ini—rasanya di setiap bidang ada begitu banyak permasalahan besar. Masalah-masalah yang ada belum beres, kita dikejutkan kembali oleh para pengungsi dari Rohingnya dan Bangladesh yang sempat terkatung-katung lama di lautan. Aku ingin menambah jumlah manusia mulia di atas dunia yang akan menjadi bagian dari solusi dalam setiap langkahnya. In shaa Allah beliau (anak ketigaku ini) akan Allah tempatkan dalam berbagai posisi dan kondisi dimana ia membawa kebaikan dan manfaat besar bagi sebanyak mungkin pihak. Ia akan tangguh, cerdas, berakhlak mulia, amanah, menjadi pembela kebenaran, dan bertaqwa kepada Allah SWT. Jadi, perjuanganku sabar melewati proses melahirkan adalah pengorbanan kecil bagi harapan akan sebuah dunia yang lebih baik.

Sekitar pukul 12 ketika adzan Zuhur berkumandang, rasa mulesku semakin meningkat. Aku masih inget mendengar di radio doa di akhir sebuah ceramah, pas banget sang penceramah mengucapkan beberapa doa dalam al-Quran tentang keturunan yang baik. Di akhir setiap doa aku turut mengucap ‘aamiin’.

Mulesnya tambah hebat hingga aku bener-bener udah gak bisa ngaji lagi. Aku pergi ke WC untuk terakhir kali dan kembali ke tempat tidur sudah gak bisa lagi berdiri tegak. Setiap beberapa detik mules itu kerasa dan tangan ini dengan kuat memegang ke selimut di atas tempat tidur. Saat itu aku sempat begitu terharu dan ingin menangis. Betapa luar biasa perjuangan untuk melahirkan seorang manusia besar!

Saat itu ingin sekali aku memanggil asisten bidan, tapi aku gak tahu apakah memang sudah waktunya atau belum. Lagipula aku lagi bener-bener kesakitan, jadi kesulitan untuk memanggil. Beruntung asisten bidan segera datang. Beliau lalu mengelus-elus pinggul kiri-ku. Wah, aku baru inget kalau pas lagi mules gitu enak banget ketika pinggul dielus-elus.

Lalu terjadi sesuatu yang aneh, aku langsung tiba-tiba muntah di lantai. Asisten Bidan langsung pergi keluar kamar dan kembali dengan sebuah baskom besi. Aku pun lalu muntah lagi ke dalam baskom itu. Semua kurma yang udah aku makan jadi keluar lagi. Saat itu aku bersyukur untung aja tadi pagi makan bubur ayam; sesuatu yang ringan ke pencernaan tapi memberi cukup energi.

Asisten bidan pun mengajakku ke ruang persalinan.

Di atas tempat tidur, ibu bidan memberiku tusuk akupunktur di punggung, meskipun sempet ada satu titik yang sakit banget, tapi kemudian aku merasa sedikit lebih rileks.

Sekarang aku enggak mau terlalu detail menceritakan momen melahirkannya itu sendiri—pokoknya butuh tenaga yang besar. Yang menjadikan aku tambah kuat adalah harapan bahwa sebentar lagi aku akan melihat bayi kecilku. Bidannya pun sangat positif, baik kata-katanya maupun nada bicaranya, sehingga semakin membuat aku nyaman.

Alhamdulillah akhirnya tiba waktu ketika terdengar tangisan bayi yang keras. Bidan ‘mengumumkan’ bahwa ia lahir pukul satu kurang lima menit. Bidan juga dengan semangat bilang kalo bayinya perempuan! Aku terus mengucap hamdalah. Bidan lalu terlihat mengeringkan badan bayi (kecuali tangan) dan membacakan iqamat di telinga bayi. Lalu sambil tali pusat masih belum dipotong, dedek bayi langsung ditengkurapkan di atas dadaku dan diberi selimut di atasnya.

Aku juga mendapat berita menggembirakan; bayi keluar dengan lancar dan tidak perlu ada jahitan! Alhamdulillah… Allah mengabulkan doaku ketika habis melahirkan anak kedua. Waktu anak kedua lahir aku berdoa semoga ketika melahirkan anak ketiga nanti tidak ada yang perlu dijahit😀.

Hal pertama yang aku lihat dari bayiku adalah matanya—begitu hitam. Dia masih terus menangis sambil dibiarkan di atas dadaku.

Teringat kisah salah satu ‘manusia perahu’ yang diselamatkan, seorang ibu hamil berusia 15 tahun. Suaminya meninggal dibunuh di atas perahu. Aku membayangkan betapa jauhnya kondisi aku sekarang yang mendapat berbagai kenyamanan selama hamil dan melahirkan. Semua masalah yang aku hadapi di hidup tidak ada yang penting untuk diratapi terlalu lama. Yang ada hanya ucapan hamdalah. Dan kini bayiku lahir dengan selamat, di sebuah kondisi yang bersih dan aman, dan bayiku memiliki orangtua yang lengkap yang akan berupaya sebisa mungkin menjaganya dengan penuh kasih sayang.

Sekitar pukul setengah dua suamiku pun datang. Beliau tampak begitu bersalah. Ini adalah anak pertama yang ia tidak melihat dan menemani proses melahirkannya. Aku pun menenangkan dan mengajaknya untuk turun mendukung proses IMD. Kami menyemangati bayi untuk mendapatkan puting.

Melihat langsung bayi baru lahir yang sudah bisa mengangkat kepala dan mencari puting susu itu bener-bener luar biasa. Masya Allah! Naluri untuk menyusui sudah ada, dan proses ini juga menyiapkan sang ibu untuk mengeluarkan air susu. Malah air susuku sudah menetes sedikit meskipun belum disedot oleh bayi.

Bu bidan menyampaikan bahwa aku bisa IMD dan DCC karena semua persyaratan terpenuhi. Untuk kasus tertentu memang ada ibu yang tidak bisa melakukannya, misalnya kalau tali pusat pendek, dst. Begitulah bedanya bidan/nakes yang terlatih untuk melakukan IMD dan DCC; ketika punya ilmunya, maka resiko pun dapat diminimalisir, dan paham langkah apa yang perlu dilakukan dalam kondisi tertentu.

Beres IMD (sekitar sejam) dan ketika sudah keluar plasenta dari rahim, bu bidan membawa dede bayi pergi untuk dibersihkan. Saat itulah momen aku berdua dengan suami di ruang persalinan. Rasanya hati ini tambah sayang sama suami. Bener-bener suami SIAGA. Alhamdulillah.

Lalu bu bidan masuk membawa kursi roda dan mengajakku duduk di situ. Awalnya sempet aneh juga sih karena ketika melahirkan sebelumnya aku tidak pernah diantar ke kamar pakai kursi roda. Tapi, setelah aku pindah ke kursi roda ada perasaan bersyukur karena sejujurnya aku merasa ekstra pusing saat itu.

Sebelumnya sempet ada percakapan dengan bidan soal penambahan berat badan aku selama kehamilan sebelumnya. Aku bilang waktu hamil anak pertama berat badanku naik 15 kg, dan anakku lahir 3,7 kg. Hamil anak kedua aku naik 10 kg dan bayi lahir 3 kg. Bu bidan terdengar begitu terkesan. Kini di kehamilan ketiga berat badanku naik 12 kg dan berat bayi 3,5 kg. Wow! Semua anak-anaknya ‘kelas berat’ semua kata bidan.

Pas aku naik ke kursi roda bidannya bilang, “Haduh ini mah gak pake tenaga ngedorongnya juga (saking ringannya tubuh aku)…” Hehe… Dan bu bidan pun mengomentari aku yang keliatan lebih ‘lincah’ karena tidak dijahit. Alhamdulillah aku memang ngerasa lebih leluasa bergerak.

Alhamdulillah setelah melihat aku dan bayi sehat, dan bu bidan sudah memberikan sedikit arahan cara menyusui, kami pun bisa pulang pukul 6 sore.

 

Pasca Melahirkan

Selama tiga hari kemudian aku banyak istirahat (tidur, maksudnya :P). Rahimku yang sedang kontraksi untuk kembali ke kondisi sebelumnya sering terasa sakit, khususnya ketika tiduran dan menyusui. Aku sabar aja melewatinya dan enggak memaksakan diri banyak bekerja. Aku hanya fokus mengurus bayi seperti menyusui, menggendong, mengganti popok, memandikan, dst. Nah, untuk cuci dan setrika baju (termasuk popok bayi) dan beberes hal lain itu semua dilakukan oleh suami. Semoga Allah memberkahinya. Aamiin.

Sebagai obat penambah darah aku konsumsi kurma dan/atau sari kurma, sekitar 1-2 sendok makan per dua jam. Dan aku konsumsi air kelapa minimal segelas setiap hari.

Epilog – Keikhlasan

Pengalaman dua hamil sebelumnya aku lewati sambil juga sedang menempuh perkuliahan, disibukkan dengan tugas kuliah, jadwal ini-itu, skripsi, dst—penuh dengan pikiran untuk mengejar suatu target.

Kemudian di kehamilan ketiga aku sudah lulus kuliah, tapi pikiranku dipenuhi dengan stres-stres pribadi. Segala hal fisik sudah optimal aku lakukan—menjaga makan-minum, perawatan pribadi, banyak beristirahat—namun kehamilanku tidak bertahan, dan gugur di usianya yang belum tiga bulan.

Hingga sampailah aku di kehamilan keempat, dimana aku sedikit lebih bijak setelah melewati tantangan hidup sebelumnya, dan kini sudah lebih stabil menjalani peranku sebagai ibu rumah tangga. Aku merasa jauh lebih tentram dan terarah. Hati ini ingin benar-benar memanfaatkannya dengan baik.

Aku mengisi waktu luangku—khususnya waktu sudah hamil besar—dengan banyak membaca. Memang sih, di antara bacaanku adalah 4 seri Twilight dan 7 seri Harry Potter—hey, why not?😛 Aku juga abaca-baca buku agama, dan memperbanyak bacaan Quran. Selain itu aku pun membaca banyak buku tema perawatan kesehatan.

Hal penting yang aku rasakan di kehamilan sekarang adalah keikhlasan menjalani setiap proses. Aku pun lebih menghargai  tubuh aku dan mendengarkannya. Itulah kenapa aku tidak gentar ketika dokter menawarkan perangsang mules hanya karena lewat HPL (dan saat itu lewat HPL baru 2 hari koq). Aku tahu saat itu belum waktunya. HPL adalah perkiraan manusia berdasarkan suatu rumus yang dibuat oleh manusia, sedangkan setiap kehamilan akan matang pada waktunya. Selama memang tidak ada gejala lain—dan saat itu aku merasa segar-bugar—maka aku hanya perlu bersabar menunggu tubuh ini siap. Dan Alhamdulillah ternyata feelingku benar, tubuh ini siap mengeluarkan bayi keesokan harinya. Belum tentu aku bisa melahirkan selancar ini kalau waktu itu aku menyetujui diberi perangsang mulas.

Sekali lagi aku tekankan, keputusan itu aku buat karena memang tidak ada gejala negatif lain. Semua ikhtiar sudah dilakukan, dan USG pun tidak menunjukkan adanya hal buruk, dan aku hanya lewat beberapa hari dari HPL. Adapun mungkin untuk kasus ibu-ibu lain belum tentu sama, maka silahkan diskusikan dengan tenaga kesehatan (nakes) dan suami masing-masing🙂.

Aku doakan semoga semua ibu hamil bisa melahirkan se-alami dan se-nyaman mungkin, demi ibu dan bayi yang sehat dan bahagia. Aamiin. Jangan sampai kita kehilangan kemampuan melahirkan kita.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Keluarga, Kesehatan. Tandai permalink.