5 Langkah Melindungi Pencernaan dari Kuman ‘Jahat’


Oleh: Mark Hyman, MD

27 September 2010

Para dokter dilatih untuk mengidentifikasi penyakit berdasarkan lokasinya. Jika Anda punya asma, maka dianggap permasalahan paru-paru; jika Anda rheumatoid arthritis, pasti permasalahan sendi; jika Anda punya jerawat, para dokter melihatnya sebagai permasalahan kulit; jika Anda kelebihan berat badan, Anda pasti punya permasalahan metabolisme; jika Anda alergi, ketidakseimbangan sistem imun disalahkan. Para dokter yang memahami kesehatan dengan cara seperti ini sama-sama benar dan salah. Kadangkala penyebab gejala yang Anda alami memang ada hubungannya dengan dimana ia berada, tapi itu jauh dari kisah selengkapnya.

Dengan meningkatnya pemahaman akan penyakit di abad 21, cara-cara lama kita mendeskripsikan penyakit berdasarkan gejala (symptoms) tidak terlalu berguna. Sebaliknya, dengan memahami sumber penyakit dan cara tubuh ini bekerja sebagai suatu kesatuan, kita sekarang tahu bahwa gejala yang muncul di suatu bagian tubuh dapat disebabkan oleh ketidakseimbangan di bagian lain.

Jika kulit Anda buruk atau Anda alergi, tidak bisa menurunkan berat badan, menderita penyakit autoimmune, berjuang dengan fibromyalgia, atau sering sakit kepala, penyebab sebenarnya bisa jadi pencernaan Anda tidak sehat. Ini bisa terjadi meskipun Anda TIDAK PERNAH memiliki keluhan pencernaan.

Terdapat banyak kemungkinan ketidakseimbangan lain dalam sistem kerja tubuh Anda yang dapat menyebabkan sakit. Ini termasuk permasalahan hormon, fungsi imun, detoksifikasi, produksi energi, dan lain sebagainya. Tapi, untuk saat ini, mari kita lihat lebih dalam saluran pencernaan dan mengapa bisa jadi ini adalah akar permasalahan gejala-gejala kronis Anda.

 

Gejala-gejala di Seluruh Tubuh Diselesaikan dengan Menjaga Saluran Pencernaan

Banyak orang saat ini punya permasalahan pencernaan termasuk mulas, iritasi usus, kembung, sembelit, diare, dan radang usus besar. Malahan, permasalahan perut adalah penyebab lebih dari 200 juta kunjungan dokter dan miliaran biaya kesehatan per tahunnya. Tapi, permasalahan perut menyebabkan penyakit jauh melewati area perut. Di sekolah kedokteran, saya belajar bahwa pasien dengan radang usus besar juga dapat memiliki radang sendi dan mata dan pasien dengan gagal hati (liver) dapat disembuhkan dari delirium (kondisi ‘gila’ sesaat) dengan mengkonsumsi sejenis antibiotik yang membunuh bakteri pemroduksi-toxin di dalam perut. Apakah mungkin ketika kondisi tidak berjalan dengan baik di ‘bawah’ akan mempengaruhi kesehatan seluruh bagian tubuh kita dan banyak penyakit berhubungan dengan ketidakseimbangan dalam sistem pencernaan?

Jawaban yang jelas adalah ya. Mengembalikan fungsi saluran cerna adalah salah satu hal penting yang saya lakukan bagi para pasien, dan ini sangat sederhana. ‘Efek samping’ dari men-treatmen saluran cerna sangat menakjubkan. Pasien-pasien saya mendapatkan kelegaan dari alergi, jerawat, arthritis, sakit kepala, penyakit autoimmune, depresi, attention deficit, dan lebih banyak lagi—seringkali setelah bertahun-tahun menderita gejala-gejala tersebut.

Ini bukan penyembuhan mukjizat tapi efek normal ketika Anda mengembalikan fungsi perut dan flora melalui peningkatan pola makan, meningkatkan konsumsi serat, suplementasi probiotik harian, terapi enzym, penggunaan nutrien-nutrien yang memperbaiki lapisan saluran cerna, dan treatmen langsung kuman merugikan dalam perut dengan tanaman atau obat.

 

Riset yang Menghubungkan Flora Pencernaan dan Inflamasi dengan Penyakit Kronis

Periset yang membandingkan flora pencernaan anak-anak di Florence, Italia, yang pola makannya tinggi daging, lemak, dan gula, dengan anak-anak dari sebuah perkampungan Afrika Barat di Burkina Faso yang makan kacang, biji-bijian utuh, sayur-sayuran.[1] Kuman-kuman dalam pencernaan anak-anak Afrika lebih sehat, lebih beragam, lebih baik dalam meregulasi inflamasi dan infeksi, dan lebih baik dalam mengekstraksi energy dari serat. Kuman-kuman dalam pencernaan anak-anak Italia menghasilkan produk turunan yang menciptakan inflamasi, mendukung alergi, asma, autoimunitas, dan membawa pada obesitas.

Mengapa ini penting?

Di Barat, peningkatan penggunaan vaksinasi dan antibiotik dan peningkatan higienitas telah membawa peningkatan kesehatan bagi banyak orang. Namun, faktor-faktor yang sama ini juga telah secara dramatis mengubah ekosistem kuman-kuman di dalam pencernaan, dan ini telah memberi dampak luas kepada kesehatan yang masih belum dikenali.

Terdapat triliunan bakteri di dalam pencernaan Anda, dan mereka secara kolektif memiliki setidaknya 100 kali lipat lebih banyak gen dibandingkan Anda. DNA bakteri dalam saluran cerna Anda jauh melebihi jumlah DNA Anda. DNA bakteri ini mengendalikan fungsi imun, meregulasi fungsi pencernaan dan usus, melindungi terhadap infeksi, dan bahkan menghasilkan vitamin dan nutrien.

Dapatkah bakteri di saluran cerna mempengaruhi otak? Mereka bisa. Toksin, produk turunan metabolis, dan molekul inflamatori yang dihasilkan oleh bakteri-bakteri tidak bersahabat ini dapat berdampak buruk kepada otak.

Ketika keseimbangan bakteri di dalam saluran cerna Anda optimal, DNA ini bekerja untuk Anda dengan efek yang baik. Misalnya, beberapa bakteri baik menghasilkan asam lemak berantai pendek (short chain fatty acids). Lemak-lemak sehat ini menurunkan inflamasi dan memodulasi sistem imun Anda. Bakteri jahat, sebaliknya, menghasilkan lemak-lemak yang mendukung alergi dan asma, eczema, dan inflamasi dalam tubuh Anda.[2]

Studi lain baru-baru ini menemukan bahwa jejak flora bakteri saluran cerna anak-anak autistik berbeda jauh dibandingkan anak-anak sehat.[3] Hanya dengan melihat produk turunan yang dihasilkan bakteri usus mereka (yang dikeluarkan melalui urin—sebuah tes yang biasa saya lakukan yang disebut organic acids testing), para periset dapat membedakan antara anak autistik dan anak biasa.

Pikirkan tentang hal ini: permasalahan dengan flora saluran pencernaan ada hubungannya dengan autisme.  Dapatkah bakteri dalam saluran pencernaan mempengaruhi otak? Mereka bisa. Toksin, produk turunan metabolis, dan molekul inflamatori yang dihasilkan bakteri tidak bersahabat dapat berdampak buruk bagi otak. Saya telah membahas hubungan antara fungsi saluran pencernaan dan fungsi otak secara lebih detail dalam buku The UltraMind Solution.

Penyakit autoimun juga telah dihubungkan dengan perubahan pada flora saluran cerna. Sebuah studi baru-baru ini menunjukkan bahwa anak-anak yang menggunakan antibiotik untuk jerawat dapat merubah flora normalnya, dan ini, dapat memicu perubahan yang dapat membawa kepada penyakit autoimun seperti penyakit radang usus atau radang usus besar.[4]

Hubungan-hubungan antara flora saluran cerna dan sistem keseluruhan kesehatan tidak berhenti sampai di situ. Sebuah studi baru di New England Journal of Medicine menemukan bahwa Anda dapat menyembuhkan atau mencegah delirium dan brain fog pada para pasien gagal liver dengan memberikan mereka antibiotik Xifaxan untuk membersihkan dari kuman-kuman yang memproduksi toksin yang tidak bisa didetoksifikasi oleh liver mereka.[5] Toksin dari bakteri telah menjadikan mereka gila dan tidak bisa berfikir dengan jernih. Ketika bakteri-bakteri yang menghasilkan toksin tersebut dihilangkan, gejala-gejala mereka langsung berhenti.

Studi-studi lain yang serupa juga telah menemukan bahwa membersihkan pertumbuhan berlebih kuman jahat dengan non-absorbed antibiotic dapat menjadi penanganan yang efektif bagi restless leg syndrome[6] dan fibromyalgia[7].

Bahkan obesitas telah terbukti memiliki hubungan terhadap perubahan dalam ekosistem saluran pencernaan kita yang terjadi akibat pola makan inflamatori, makanan terproses, dan tinggi-lemak. Terdapat kuman jahat tertentu yang menghasilkan toksin yang disebut lipopolysaccardies (LPS) yang memicu inflamasi dan resistensi insulin atau pre-diabetes sehingga mendukung peningkatan berat badan.[8]

Memang terdengar menakjubkan, tapi makhluk-makhluk kecil yang hidup di dalam tubuh kita telah terbukti memiliki hubungan dengan segala hal dari autisme hingga obesitas, dari alergi hingga autoimunitas, dari fibromyalfia hingga restless leg syndrome, dari delirium hingga eczema hingga asma. Malahan, hubungan-hubungan antara penyakit kronis dan bakteri saluran pencernaan terus bertambah setiap hari.

Jadi apa yang bisa Anda lakukan untuk menjaga keseimbangan flora saluran pencernaan dan menjaga kesehatan pencernaan Anda?

5 Langkah untuk Saluran Pencernaan yang Sehat (dan Tubuh yang Sehat)

Ikuti kelima langkah ini untuk mulai mengembalikan keseimbangan flora saluran pencernaan  Anda:

  1. Makanlah makanan utuh yang kaya akan serat—ini harus banyak kacang-kacangan (beans, nuts), biji-bijian, whole grains, buah-buahan, dan sayuran, semuanya memberi makan kuman baik.
  2. Batasi gula, makanan terproses, lemak hewani, dan protein hewani—ini adalah makanan yang disukai kuman jahat.
  3. Hindari penggunaan antibiotik, acid blockers, dan anti-inflammatories—produk-produk ini memperburuk kondisi flora lambung.
  4. Konsumsi probiotik harian—flora bersahabat dan menyehatkan ini dapat meningkatkan kesehatan pencernaan Anda dan menurunkan inflamasi dan alergi.
  5. Pertimbangkan melakukan uji terspesialisasi—seperti organic acid testing, stool testing (ada tes baru yang dapat mempelajari DNA bakteri dalam pencernaan Anda), dan lain-lain untuk membantu mengetahui fungsi lambung Anda. Anda kemungkinan perlu bekerjasama dengan praktisi functional medicine untuk secara efektif meng-uji coba dan menangani ketidakseimbangan dalam pencernaan Anda.

Dan jika Anda memiliki penyakit kronis, meskipun Anda tidak punya gejala pencernaan, Anda mungkin ingin mempertimbangkan apa yang sedang hidup di dalam pencernaan Anda. Merawat ‘kebun’ di dalam tubuh Anda dapat menjadi jawaban terhadap berbagai permasalahan kesehatan yang tampak tidak berhubungan.

Diterjemahkan dari: 5 Steps to Kill Hidden Bad Bugs in Your Gut That Make You Sick

[1] De Filippo, C., Cavalieri, D., Di Paola, M., et al. 2010. Impact of diet in shaping gut microbiota revealed by a comparative study in children from Europe and rural Africa. Proc Natl Acad Sci USA. 107(33): 14691–6

[2] Sandin, A., Bråbäck, L., Norin, E., and B. Björkstén. 2009. Faecal short chain fatty acid pattern and allergy in early childhood. Acta Paediatr. 98(5): 823–7.

[3] Yap, I.K., Angley, M., Veselkov, K.A., et al. 2010. Urinary metabolic phenotyping differentiates children with autism from their unaffected siblings and age-matched controls. J Proteome Res. 9(6): 2996–3004.

[4] Margolis, D.J., Fanelli, M., Hoffstad, O., and J.D. Lewis. 2010. Potential association between the oral tetracycline class of antimicrobials used to treat acne and inflammatory bowel disease. Am J Gastroenterol. Aug 10 epub in advance of publication.

[5] Bass, N.M., Mullen, K.D., Sanyal, A., et al. 2010. Rifaximin treatment in hepatic encephalopathy. N Engl J Med. 362(12): 1071–81.

[6] Weinstock, L.B., Fern, S.E., and S.P. Duntley. 2008. Restless legs syndrome in patients with irritable bowel syndrome: response to small intestinal bacterial overgrowth therapy. Dig Dis Sci. 53(5): 1252–6.

[7] Pimentel, M., Wallace, D., Hallegua, D., et al. 2004. A link between irritable bowel syndrome and fibromyalgia may be related to findings on lactulose breath testing. Ann Rheum Dis. 63(4): 450–2.

[8] Cani, P.D., Amar, J., Iglesias, M.A., et al. 2007. Metabolic endotoxemia initiates obesity and insulin resistance. Diabetes. 56(7): 1761–72.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Kesehatan, Terjemahan. Tandai permalink.