Ilusi Social Conformity di Media Massa, dan Kamu


Something feels wrongAda sebuah acara TV yang menarik yang disebut Brain Games, dan salah satu episodenya adalah tentang Social Conformity. Social conformity adalah suatu kecenderungan/dorongan dalam diri untuk mengikuti apa yang dilakukan oleh kelompok. Kecenderungan ini tidak ‘baik’ atau ‘buruk’, hanya salah satu proses dimana manusia punya kebutuhan akan rasa aman dan salah satu sumber rasa aman itu didapat dari jumlah dukungan. Jadi social conformity ini adalah salah satu upaya bertahan hidup dan berguna minimal dalam jangka pendek dalam kondisi kita memiliki keterbatasan informasi.

[Ada kecenderungan lain yang kebalikannya dimana manusia ada kebutuhan untuk berbeda, tapi tidak akan dibahas di tulisan satu ini😉 ]

Dalam acara tersebut mereka melakukan serangkaian eksperimen sosial untuk menunjukkan efek social conformity ini. Hal yang menarik di situ adalah bagaimana orang-orang bisa membuat keputusan atau melakukan sesuatu yang sama sekali tidak masuk akal hanya karena melihat banyak orang lain melakukannya—meskipun contohnya hal yang sangat sederhana atau sekilas tampak ‘obvious’ (jelas). Salah satu triknya adalah dengan meletakkan beberapa orang kunci untuk memulai, lalu orang-orang lain pun banyak yang mengikuti.

Memang tidak semua orang mengikuti orang-orang kunci atau kelompok besar dalam beberapa percobaan sosial tersebut, tapi mereka minoritas.

Nonton episode Brain Games itu aku jadi terfikir contoh-contoh riil lain dimana social conformity ini tampak. Memang ada banyak contoh sehari-hari dimana kita akan lebih cenderung melakukan hal yang tidak masuk akal daripada dicap aneh oleh keluarga, tetangga, atau teman. Tapi, bukan itu yang aku maksud. Media sosial juga bisa menjadi contoh yang baik, tapi sekali lagi, bukan itu yang mau aku komentari.

Aku penasaran dengan peran media massa dalam social conformity ini. Yang bikin menarik adalah media massa bisa membuat sebuah ilusi social conformity. Ketika ilusi ini diterbitkan atau ditayangkan, maka dapat memicu social conformity ini. [secara sederhana untuk saat ini kita sepakati media massa di sini adalah koran/majalah, radio, dan TV – meskipun disimak via internet, ya😀 – yang sudah memiliki established viewers dari berbagai kelompok dan daerah yang beragam]

Hanya karena sesuatu itu ditayangkan di media massa tidak berarti semua orang punya pendapat yang sama, tapi itu akan menimbulkan suatu aura keserempakan. Seseorang dapat merasa bahwa ‘everybody/most people think/do like this’ (semua/kebanyakan orang berfikir/melakukan seperti ini) akibat paparan media massa.

Ada sebuah kutipan yang aku pribadi rasa cocok dengan fenomena ini:

There is no public opinion – there is only published opinion.*

[Tidak ada opini publik – hanya opini yang diterbitkan]

Opini yang diterbitkan (dalam hal ini media massa) menjadi bagian dari opini kolektif yang sedikit banyak akan mempengaruhi kesadaran kolektif.

Contoh mudah di media massa dimana social conformity ini bermain adalah dalam iklan. Kalau kita lihat bahkan iklan paling tidak masuk akal pun dapat membuat ilusi bahwa ‘banyak orang mengikutinya’ (atau minimal mencoba) selama tampak seperti dilakukan oleh orang-orang kunci atau terlihat dilakukan oleh ‘banyak’ orang. Orang-orang yang ditampilkan pun terlihat percaya diri dengan pilihannya. Seseorang yang tidak punya pendapat yang sama mungkin akan merasa dirinya aneh atau beda sendiri (padahal belum tentu) ketika ia tidak punya pemikiran/keputusan, dsb yang sama dengan yang ditayangkan di iklan tersebut.

Kadang ada iklan yang memanfaatkan hal tersebut dan menggunakan trik kebalikan, dimana mereka menyatakan bahwa kalau tidak membeli maka akan aneh, gak gaul, dst. Gaya mencibir seperti itu dapat menimbulkan rasa pada penontonnya untuk tidak mau menjadi bagian dari ‘kelompok yang tidak’.

Secara alamiah berbagai dorongan informasi ini tidak masalah dan bebas untuk bersaing. Nanti akan terseleksi sendiri mana yang memilih A, B, C, dst. Itulah mengapa saat ini kesadaran untuk terinformasi dengan memanfaatkan berbagai sumber (termasuk BUKU jangan dilupakan) akan memberikan kita lebih banyak pilihan dalam hidup. [walaupun sebenarnya kalau dorongan social conformity dalam diri kita lebih kuat tentang sesuatu maka tidak berguna berbagai informasi yang memberikan alasan untuk mengatakan ‘tidak’ hehe]

Contoh lain rekayasa media massa yang dapat memicu social conformity dapat dilihat di sinetron. Ketika nonton sinetron, orang-orang di sinetron itu berpakaian, berbicara, dan berperilaku dengan standar tertentu, lalu tanpa sadar kita membuat kesimpulan bahwa ‘orang-orang seperti itu’. Atau kita mengelompokkan orang-orang berdasarkan apa yang ditampilkan di sinetron lalu kita mengeneralisir dan menyesuaikan perilaku kita sesuai dengan cerminan diri kita terhadap diri sendiri. Misalnya, ‘orang kaya’ itu seperti bla-bla-bla; karena saya orang kaya maka saya akan bla-bla-bla, karena bla-bla-bla adalah apa yang dilakukan orang kaya.

Makanya sedih sekali kalau kita membiarkan anak kecil menonton TV tanpa pengawasan. Mungkin dia akan berfikir bahwa bagusnya baju seragam itu berantakan, kemana-mana pakai mobil, tidak ada KBM (Kegiatan Belajar Mengajar) di sekolah, dan adalah hal yang biasa untuk mengganggu guru. Lalu si anak pergi ke sekolah, dan dia bertemu teman-teman yang juga terpapar oleh tontonan yang sama, lalu mereka saling memberi contoh dan mengikuti berdasarkan apa yang ‘normal’ di tontonan tersebut.

Anyway, dengan mengetahui fenomena media massa yang mampu membuat ilusi ‘semua orang melakukannya’ ini semoga minimal kita bisa lebih sadar, dan malah mungkin waspada, dan berfikir sejenak sebelum membuat keputusan hanya berdasarkan informasi di media massa, dengan mengevaluasi sisi-sisi lain. Jangan-jangan keputusan itu dibuat ‘hanya’ karena ‘everybody does it—on TV’😀 .

*Katanya kalimat ini pertama kali disampaikan oleh Winston Churchill, tapi karena aku belum menemukan sumber aslinya, jadi aku tahan dulu informasi itu sampai aku yakin memang dia yang mengatakannya. Tapi, terlepas dari siapa yang pertama kali mengatakan kalimat itu, aku setuju dengan pesan dalam kalimat tersebut.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Keluarga. Tandai permalink.