Kondisi Tanpa Adab—Sebuah Bom Waktu


Decent human being cost 0Di salah satu bagian sebuah rumah sakit besar (bertaraf “Internasional”) terdapat empat buah lift; tiga lift diperuntukkan bagi umum, dan satu lift ada tulisan ‘Khusus Pasien’ di atasnya. Pintu keempat lift masih tertutup, dan orang-orang pun menunggu. Tak lama kemudian, pintu yang pertama kali terbuka adalah lift khusus pasien. Ternyata, orang-orang yang menunggu semuanya malah masuk ke lift khusus pasien itu, kecuali satu orang—suamiku. Dia dengan setia menunggu satu di antara tiga lift lain terbuka. Menurutnya, lebih baik sabar sedikit menunggu, daripada mengambil hak orang lain.

Suami cerita pengalaman ini dengan miris. “Orang-orang teh apa gak bisa baca, gitu?” katanya. Dipikir-pikir, tidak mungkin yang berobat ke RS itu orang biasa-biasa, pasti minimal punya uang dan/atau asuransi yang cukup untuk membayar biaya yang besar.

Kami pun mendiskusikan konsekuensi dari ketidak disiplinan tersebut. Bagaimana jika seorang pasien butuh secepatnya ke lantai 11, tapi karena lift itu dipakai juga oleh non-pasien, maka pergerakan lift itu pun menjadi lebih lambat. Beberapa menit yang berharga itu pun hilang dan kondisi pasien semakin buruk dan/atau meninggal.

Oke, mungkin itu kasus ekstrim, tapi tidak aneh untuk sebuah gedung Rumah Sakit. Pasti ada alasan mengapa dibuat lift khusus pasien. Bayangkan berapa banyak orang yang akan tidak selamat hanya akibat ketidak disiplinan ‘kecil’ ini.

Contoh lain, kisah sebuah sekolah. Gedung sekolah tersebut terletak tepat di samping area kompleks, dan semua orang jika ingin ke sekolah tersebut harus melewati jalan di perumahan itu. Sayangnya gedung sekolah tersebut kurang menyiapkan area parkir dengan baik sehingga orang-orang memarkirkan kendaraannya di luar gerbang sekolah—di depan rumah-rumah warga. Sering sekali bahkan ada yang memarkirkan motornya di depan gerbang rumah sehingga pemilik rumah kesulitan keluar dari gerbang rumahnya sendiri!

Permasalahan parkir sudah berlangsung selama bertahun-tahun, dan sudah diadakan berkali-kali dialog dengan pihak sekolah. Warga pun inisiatif meletakkan stiker tanda dilarang parkir di gerbang pintunya dan tetap saja banyak yang memarkirkan kendaraannya di depan gerbang. Bahkan ada salah satu kisah di antara orangtua murid yang berpakaian tentara  marah ketika diminta baik-baik untuk memindahkan motornya dari depan gerbang oleh sang pemilik rumah [aku yakin gak semua tentara seperti ini, ya. Ini hanya salah satu contoh yang pernah terjadi].

Sekarang bayangkan, ketika ada kecelakaan dan si pemilik rumah perlu segera mengantarkan korban ke RS dengan mobilnya. Tapi, butuh waktu lama untuk keluar dari gerbang pintunya karena adanya motor-motor yang terparkir di depan gerbang. Betapa zalimnya!

Kalau permasalahan parkir sembarangan saja sulit, apalagi soal kebersihan lingkungan—lebih tidak dipedulikan lagi.
Kita seringkali menyepelekan adab, dan baru merasakannya ketika adab itu hilang. Padahal, kenyamanan hidup bermasyarakat kita sangat tergantung dari kebaikan semua pihak menjaga adab ini.

Japan - train late - conducter - proof of lateness slip

Kisah contoh kedisiplinan tinggi masyarakat. Hal ‘sederhana’ seperti ini berdampak besar bagi kemulusan aktifitas masyarakat.

Kondisi lain dimana ini sangat terasa adalah di perjalanan. Sebagian besar kemacetan lalu lintas bukan hanya diakibatkan oleh banyaknya jumlah kendaraan, tapi oleh ketidakdisiplinan para pengendara. Masing-masing orang merasa paling sibuk di dunia, dan lupa bahwa kalau dia ingin lancar maka orang lain pun perlu lancar. Bagaimana agar lancar? Ikutilah adab berlalu lintas. Mengapa saya sebut ‘adab’ dan bukan ‘aturan’ lalu lintas? Karena seringkali ada banyak hal dalam berlalu lintas yang tidak memiliki aturan tertulis, namun itu sangat penting bagi kenyamanan dan keamanan lalu lintas.

Ini bukan masalah sepele, banyak korban berjatuhan akibat hilangnya kepedulian terhadap adab. Kecelakaan-kecelakaan besar terjadi justru akibat hal-hal yang saat ini dipandang sepele.

Membicarakan ini sebenarnya aku sangat malu, karena aku pun termasuk ‘golongan’ yang mungkin kehilangan beberapa ‘ilmu adab’, dan baru beberapa tahun ke belakang sedang ‘memungutnya’ kembali.

Kalau direnungi, apa yang menyebabkan peningkatan kesemrawutan hidup bermasyarakat yang kita rasakan saat ini—khususnya di perkotaan? Padahal hanya satu generasi yang lalu masih banyak orang yang peduli untuk menjaga perilakunya dalam bermasyarakat.

Ada baiknya adab ini kembali dibahas serius di dalam rumah masing-masing, dan juga dipertimbangkan ketika memilih sekolah bagi anak. Tidak hanya ‘favorit’ karena lulusannya banyak diterima di tempat ‘favorit’ lain, tapi juga memiliki budaya yang peduli kepada lingkungan dan masyarakat. Kalau anak melihat orangtuanya mementingkan adab, maka lebih mudah anak berkecenderungan untuk juga menjaganya.

Contoh-contoh sehari-hari lain adalah seperti mengantri, mengucapkan maaf dan terimakasih, tepat waktu, menyimpan sampah pada tempat sampah, menghormati tamu, dst. Hal yang sangat menyedihkan adalah ketika seorang ibu sendiri yang mengajarkan tidak baik kepada anaknya, misalnya menyuruh anaknya yang masih kecil untuk menerobos antrian di minimarket (dengan asumsi orang lain akan memaklumi anak-anak), melempar sampah dari jendela mobil langsung ke jalan, dst.

Materi yang anak-anak hafalkan di sekolah ada yang akan terpakai dalam kehidupan nyata dan ada yang tidak (banyak yang tidak), tapi kepedulian tentang adab dan teladannya sehari-hari akan ia bawa seumur hidup, apa pun profesi dan/atau peran yang ia jalani. Setiap orang pasti akan membawa dampak bagi lingkungan sekitarnya, pastikan anak kita membawa dampak baik bagi setiap orang yang ia temui.

Japan School - Manners - No examsAdab dan karakter bukan tidak mungkin untuk dimasukkan ke dalam kurikulum sekolah, kita sudah punya contohnya di beberapa negara lain. Dengan pendidikan adab semenjak kecil, kehidupan bermasyarakat pun menjadi lebih teratur dan nyaman. Banyak peluang permasalahan sosial jadi tertutup ‘hanya’ dengan orang-orang saling memperhatikan adabnya masing-masing. Pendidikan adab perlu dimasukkan juga melalui diskusi-diskusi mengenai berbagai konsekuensi logis, sehingga anak-anak paham jangka menengah-panjang dari tindak-tanduknya, dan setidaknya lebih terlatih untuk berfikir lebih panjang. Pembahasan mengenai lift ‘khusus pasien’ di awal tulisan ini di antara contohnya.

Sekolah Jepang tidak membayar pembersih kelas - janitorAda kecenderungan orang berfikir (dan ini dipelajari semenjak kecil) bahwa dengan uang dan jabatan maka akan ada banyak permasalahan hidupnya yang selesai. Ini memunculkan kecenderungan lebih banyak orang yang apatis terhadap lingkungan, khususnya ketika sudah mendapatkan penghasilan dan jabatan yang ia rasa ‘mapan’. Orang-orang tersebut hanya memikirkan kepentingan diri, keluarga, dan kelompok [teman-teman] pribadi saja. Hal ini adalah bom waktu yang jika semakin diteruskan akan semakin banyak jatuh korban.

Sekali lagi, it’s the little things in life that matters. Selamatkan masa depan masyarakat kita dengan pendidikan adab di lingkungan rumah dan sekolah.

Galeri | Pos ini dipublikasikan di Homeschool, Inspirasi, Keluarga. Tandai permalink.